
DUA Mayat itu bangun dengan melentingkan pinggul nya dari bawah keatas. Dua mayat hidup itu berdiri tegak layak nya manusia biasa, hanya saja kulit tubuh mereka sangat pucat pasi. Kedua mulut mayat itu menggeram mengeluarkan suara seperti harimau yang sedang terancam.
"Sepertinya si Gandaria telah menghidupkan dua mayat ini untuk melawan kita!" Tegas Pangeran Dirgantara.
"Apa dia tega kepada dua mayat yang sudah ia jaga ini baik-baik tiba-tiba saja dihidupkan hanya untuk melawan kita???"
"Aku tak tahu alasan nya, tapi kita jangan terlalu gegabah dan menganggap enteng. Dua mayat itu semua nya berilmu tinggi!!"
"Kalau begitu kita harus...." Ucapan Rangkas terhenti karena dua mayat itu terbang ingin menerkam mereka bertiga.
"Cepat menghindar, jangan menangkis nya!" Sentak Pangeran Dirgantara dan Rangkas serta Putri Ayu segera berlari keluar dari dalam ruangan sempit itu.
Brugggg!! Brugggg!! Dia mayat itu menerjang tembok batu itu dengan keras dan aneh nya tembok keras itu hancur ketika ditabrak dua mayat hidup itu.
Ketiga orang itu berlari keluar ruangan dan mereka berlari hanya untuk mencari tempat yang luas untuk melawan dua mayat itu. Ketiga nya kini berada di aula tempat singgasana Gandaria berada dan dua mayat itu mengejar nya dengan cepat memakai ilmu peringan tubuh masing-masing. Tiba di aula kuil Wayangsa dua mayat hidup itu menyerang Rangkas dan juga dua teman nya itu memakai ilmu tenaga dalam sinar merah dan hijau.
Rangkas tercengang melihat besar nya tenaga dalam sinar sebesar dua buah kelapa itu.
__ADS_1
"Cepat menghindar! Jangan dilawan atau ditahan!" Ujar Pangeran Dirgantara memberi perintah dan ketiga nya lalu menghindari nya.
Blegarrrrr.....!! Ledakan keras itu menghancurkan tiang pilar kuil itu dan membuat kuil itu hampir rubuh. Ketiga orang itu cepat-cepat pergi keluar kuil karena kuil itu sebentar lagi akan ambruk.
Kedua mayat itu mengejar tiga orang itu sampai di halaman luas kuil Wayangsa itu. Rangkas lalu diperintahkan untuk berdiri di belakang oleh Putri Ayu.
"Kau cepat berlindung dibelakang saja Rangkas, biar aku dan Dirgantara yang melawan mereka."
"Baik Nyai." Ujar Rangkas patuh dan ia segera menjauh dari tempat itu.
Dua mayat itu berhenti di hadapan Putri Ayu dan Juga Pangeran Dirgantara. Lalu tanpa berkata-kata lagi, Mayat hidup perempuan itu menyerang Putri Ayu dan Mayat hidup kakek tua itu menyerang Pangeran Dirgantara. Putri Ayu menyambut tendangan samping mayat wanita itu dengan tangkisan tangan ke samping. Tendangan itu cukup keras dan cepat, tapi Putri Ayu mampu menahan nya.
Rangkas kagum melihat kelincahan Putri Ayu dan juga Pangeran Dirgantara itu dalam menghindari serangan silat serba cepat itu. Kedua nya masih bertahan dan belum ada tanda-tanda untuk balas menyerang. Rangkas hanya bisa menjadi penonton saja dan ia tetap waspada jika kemungkinan mereka berdua butuh bantuan nya.
Mayat perempuan itu nampak semakin buas karena serangan nya tak kunjung mengenai sasaran. Lalu dijarak dekat seperti itu Mayat perempuan itu menembakan ilmu tenaga dalam lewat mata nya dan keluarlah sinar berwarna kuning patah-patah melesat menghantam tubuh Putri Ayu. Putri Ayu terkesima melihat serangan dadakan itu dan sangat dekat sekali dengan dirinya. Mau tak mau Putri Ayu harus menggunakan Ilmu Perpindahan Wujud nya dan tak ada pilihan lain untuk menghindari nya.
Jegggarrr!! Ledakan keras terjadi dan Rangkas mendelik matanya melihat tubuh Putri Ayu terhantam sinar itu. Pangeran Dirgantara yang masih fokus menghadapi lawan nya itu pun kaget dan segera menghindar dari pertarungan itu.
__ADS_1
Ia melihat ke arah Putri Ayu yang bertarung dan ia tersentak kaget karena tak ditemukan tubuh Putri Ayu disana. Ada pohon baru nisan yang hancur disana dan Mayat Perempuan itu merasa bahwa Putri Ayu telah meninggal. Rangkas murka karena ia melihat jelas apa yang telah terjadi kepada Putri Ayu.
"Brengsekkk kau....!!" Bentak Rangkas dan ia langsung berlari cepat ke arah mayat wanita itu.
Mayat wanita itu melihat Rangkas menyerang nya dan mayat wanita itu segera menyerang Rangkas dengan gerakan silat liar nya. Rangkas menangkis tendangan ke dalam dari mayat itu dan langsung mencekik leher mayat wanita itu. Tapi tangan Rangkas tak sampai karena dirinya terkena sodokan dengkul wanita itu dan mengenai ulu hati nya.
"Uhukkk!!" Rangkas mendelik dan perut nya terasa mulas sekali. Tubuh Rangkas terlempar beberapa tindak dari mayat wanita itu.
Pangeran Dirgantara masih belum percaya bahwa Putri Ayu mampu dikalahkan begitu saja, saat itu Mayat kakek tua itu menyerang Pangeran Dirgantara memakai sinar tenaga dalam berwarna merah melalui telapak tangan kanan nya yang menyentak ke depan. Pangeran Dirgantara pun mengadu kekuatan dan mengeluarkan sinar tenaga dalam nya melalui telapak tangan kanan nya juga. Sinar biru muda sebesar bola kasti melesat menghantam ke arah sinar merah sebesar bola bekel itu.
Jegggarrr!! Ledakan keras terjadi lagi dan menyebabkan angin kencang di sekitar mereka.
Rangkas yang terlempar di tanah itu langsung bangun, karena mayat wanita itu ingin menerkam nya dan ingin mencabik-cabik tubuh nya memakai kuku runcing nya. Rangkas menahan dua tangan berkuku runcing itu dan wajah wanita cantik itu menyeringai memamerkan giginya yang runcing. Rangkas masih bertahan menahan tangan wanita itu dan dirasakan tenaga wanita itu sungguh tak wajah bagi nya.
'Besar sekali tenaga wanita ini! Aku sudah tak kuat menahan nya terlalu lama!' Rangkas masih berpikir soal cara untuk menghindari terkaman mayat wanita itu.
Ia ingin mengambil pisau pusaka nya, tapi kedua tangan nya tak bisa menjangkau nya karena tangan nya memegang dua tangan mayat perempuan itu dengan kuat. Tubuh Rangkas ditindih oleh Mayat perempuan itu dan tak ada indah-indah nya sama sekali menurut Rangkas. Menurut nya wajah wanita itu memang cantik, tapi Rangkas tak terpesona sama sekali dengan kecantikan itu. Ia pun segera ingat akan Putri Ayu dan kekuatan nya bertambah dua kali lipat karena merasakan hati nya terbakar amarah.
__ADS_1
Rangkas kemudian membenturkan kepala nya ke arah kepala lawan nya dan kepala lawan nya menengadah ke atas. Saat itu Rangkas melepaskan satu tangan nya dan mencekik leher perempuan itu dengan kencang. Lengan perempuan itu berusaha menarik tangan Rangkas, Namun cekikan Rangkas sangat kuat. Mayat Perempuan itu seperti tak merasakan sakit sama sekali, ia langsung mencekal lengan Rangkas dan kuku nya masuk ke dalam kulit Rangkas. Darah merembes membasahi tangan Rangkas dan darah itu bercucuran cukup banyak.