TerSesat

TerSesat
KEPALA MANUSIA TERPENGGAL


__ADS_3

ORANG Yang mengintip pertarungan Putri Ayu dan siluman banteng itu adalah sosok lelaki memakai kerudung hitam dan dipunggung baju semacam jubah itu ada lambang bintang segi enam nya. Orang itu berada di atas bukit di kampung itu dan segera pergi ke suatu tempat. Putri Ayu masih berada di tempat semula dan ia pun berjalan lagi mengikuti jalan setapak yang ada di depan nya itu. Rumah-rumah penduduk yang porak-poranda itu terlihat rata dengan tanah dan para warga yang terhempas angin kencang pusaka kipas milik Putri Ayu itu mati dengan tubuh tertancap kayu-kayu runcing dari reruntuhan rumah itu.


Rangkas nampak ngeri melihat mayat-mayat manusia bergelimpangan dilapangan kampung itu.


"Sepertinya disini baru saja m terjadi pembantaian, lalu siapa orang yang tega membantai para warga ini?" Rangkas lalu memasuki rumah-rumah penduduk dan disana sama sekali tak ada seorangpun manusia. Rangkas melewati kayu tersalib di tengah-tengah lapangan itu dan banyak darah kering yang berceceran dibawah nya.


Rangkas lalu berjalan mengikuti jalur ke arah Putri Ayu pergi dan ternyata kampung yang saat ini Rangkas datangi adalah kampung yang pernah di datangi Putri Ayu. Rangkas tak tahu akan soal pembantaian warga kampung itu siapa pelaku nya, Rangkas tetap berjalan mengikuti jalan setapak itu hingga ia tiba di gerbang lagi. Tapi gerbang itu nampak kembung ke depan dan terbuka sedikit saja.


"Gerbang ini pun sama dengan gerbang yang aku lewati sebelum nya. Sama-sama memiliki lambang Iluminati, hmm aku penasaran sekali dengan maksud dari lambang ini." Lalu Rangkas membuka gerbang itu namun sangat susah sekali ia lakukan karena engsel gerbang kiri dan kanan nya itu penyok ke depan akibat terkena serudukan siluman banteng yang menyerang Putri Ayu itu.


Rangkas pun mengintip di celah gerbang yang penyok itu dan melihat kehancuran rumah-rumah didalam nya.


"Sepertinya rumah-rumah didalam hancur terkena angin ribut! Aku penasaran sekali ingin masuk, tapi sayang nya gerbang ini susah sekali di buka." Lalu Rangkas kembali lagi ke kampung sebelumnya dan mencari jalan keluar dari kampung itu. Ada satu jalur jalan ke atas agak menanjak dan lagi-lagi jalan tersebut buntu tertutup gerbang dengan lambang yang sama.


Rangkas mencoba membuka nya namun kali ini seperti terkunci dari dalam. Rangkas mencoba mendorong nya, Namun tetap susah sekali untuk terbuka.

__ADS_1


"Pintu disini terkunci, pintu disana rusak! Lalu aku harus pergi kemana? kembali lagi ke gerbang pertama jelas tak mungkin!" Rangkas kesal dan kembali ke tengah-tengah lapangan itu. Ia menatap ke setiap rumah-rumah penduduk itu dan melihat ke salah satu rumah. Disana ada salah satu rumah dengan kayu salib berada di atas nya atap nya.


"Hmm seperti nya rumah itu berbeda dari rumah-rumah penduduk disini. Kayu salib itu percis dengan kayu salib di tengah lapangan itu, tapi apa maksudnya?" Rangkas mencoba mendekati rumah yang belum ia masuki itu dan dipintu itu pun terbuka.


Padahal sebelumnya ketika Putri Ayu mencoba membuka pintu rumah itu, sama sekali tak bisa terbuka alias terkunci dari dalam. Tapi kali ini pintu rumah itu terbuka dan Rangkas memasuki nya sembari bilang 'Permisi'. Tak ada seorang pun di rumah itu dan Rangkas menatap ke arah pintu rumah didalam nya itu. Ada lubang sebesar kepalan tinju nya dan Rangkas mencoba mengintip nya.


Disana ia tak melihat apapun kecuali dinding dari batuan yang direkatkan itu. Rangkas lalu membuka pintu itu dan ia langsung meloncat mundur ke belakang hingga jatuh terduduk dilantai kayu rumah itu.


"Apa tadi itu!?" Ucap nya kaget dan ia melihat ada kepala manusia seorang lelaki yang tergantung didalam ruangan itu.


KEPALA MANUSIA Itu TERPENGGAL dari batas tengkuk leher dan terlihat sudah mengering darah nya. Kepala seorang lelaki itu tak dikenali oleh Rangkas dan ia lalu memeriksa nya ke dalam ruangan itu. Ruangan itu ternyata hanya kamar kecil saja dan ada jalur turun memakai tangga. Ketika Rangkas menatap ke atas, ternyata di atas ruangan itu banyak kepala-kepala manusia yang terpenggal yang sengaja di gantung di langit-langit kamar itu. Alasan Rangkas meloncat kaget tadi karena ia kaget ketika membuka pintu ada kepala manusia tergantung didepan nya. Mata kepala manusia itu kebanyakan ada yang masih melek mata nya dan ada juga yang terpejam.


Wajah-wajah kepala buntung itu nampak menyedihkan sekali, terlihat raut wajah kesedihan disemua kepala manusia itu. Rangkas pun mengaitkan dengan peristiwa kabut misterius yang telah banyak menelan korban pada masa silam. Satupun tak ada wajah yang ia cari, yakni wajah nya Ranti.


"Sadis sekali, Pasti pemilik kepala-kepala ini tak tenang mati nya. Sama seperti Ranti yang meminta ku untuk mencarikan kepala nya itu. Tapi disini tak ada kepala Ranti, hmm aku yakin pasti kepala Ranti masih utuh seperti kepala-kepala yang malang ini." Rangkas menatap ke arah bawah dan tekad nya semakin kuat untuk mencari kepala Ranti dan itulah bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa Ayah Rangkas bukan orang yang membunuh Ranti.

__ADS_1


Rangkas turun ke bawah tangga itu dan tiba di bawah. Ia berjalan mengendap-endap karena mendengar suara orang yang sedang mengobrol.


"Kita harus segera pergi kepada Tuan Pangeran untuk menceritakan hal ini! Aku lihat jelas wanita cantik itu sangat sakti! Lembu Wayon mati hanya dalam sekali gerbrakan saja!"


"Aku juga melihat wanita itu membantai habis teman-teman kita! Si Ragaji pun yang terbilang sadis dan sangar itu dengan mudah nya dikalahkan oleh wanita itu!"


"Ada baik nya kita pergi menghadap kepada Tuan Pangeran Gandaria sekarang!"


"Baik ayo kita kesana!" Setelah berkata begitu dua orang yang sedang mengobrol heboh itu pergi menaiki sebuah sampan perahu.


Rangkas mengintip dibalik batu gua itu dan mendengar jelas percakapan dua orang itu.


"Pangeran Gandaria? aku baru pertama kali mendengar nya, hmm seperti nya nama itu yang disebut tuan pangeran oleh para penduduk di sini." Rangkas lalu mendekati sampai yang kosong dan ia lalu menaiki sampan tersebut.


"Aku penasaran sekali dengan wujud orang yang bernama Gandaria itu." Rangkas lalu mendayung sampan itu mengikuti arus air dan masih berada di dalam gua yang ditiap dinding nya ada obor sebagai penerang tempat itu.

__ADS_1


Putri Ayu kini berada di depan gerbang dengan simbol Illuminati lagi, ia tak banyak bicara dan langsung membuka gerbang itu. Disana ada jalanan menurun memakai tangga dari kayu dan Putri Ayu pun menuruni nya. Baru saja dua langkah Putri Ayu turun, dibelakang nya ada batu bulat besar jatuh dan menggelinding ke arah nya.


__ADS_2