TerSesat

TerSesat
SOSOK WANITA CANTIK


__ADS_3

MALAM Hari saat itu sangat lama sekali bagi Rangkas. Ia sudah tak sabaran ingin pergi ke hutan belantara untuk mencari keberadaan pohon buah persik yang diceritakan oleh ibu nya itu. Namun Rangkas masih teringat soal Mahluk menyeramkan yang ia lihat sebelumnya itu. Ia pun mencoba ingin membiasakan dengan hal-hal aneh yang ia alami sebelum-sebelum nya itu, namun akal sehat nya terus saja terbayang-bayang akan sosok mahluk tinggi besar itu.


Rangkas masih terbaring diranjang nya dan ia sama sekali belum mengantuk. Matanya menatap ke atap rumah nya itu seraya masih memikirkan tentang kejadian aneh sebelum nya.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada diriku? Mengapa hal-hal aneh seperti itu tiba-tiba saja datang tanpa aku ketahui maksudnya apa?" Batin Rangkas terus saja berkecamuk begitu. Ia pun lanjut mengingat-ingat soal ular besar bersisik perak yang melintas didepan nya waktu ia pergi berburu.


"Seingat ku sebelum aku berangkat berburu, aku kehilangan pisau berburu ku dirumah dan setelah aku mencari nya pisau ini malah berada dilubang tengkorak kambing itu. Setelah itu aku pingsan dan Emak yang mengobati ku." Rangkas pun membayangkan kembali masa dimana ia awal akan pergi berburu sampai ia bermimpi dengan ayah nya yang sudah tiada dihutan belantara ketika ia sedang berburu.


Rangkas segera teringat akan pisau emas nya yang sebelumnya dibawa oleh ibu nya untuk mencari nya. Ia segera bangun dan pergi ke dapur untuk menemui ibu nya, Sekalian ingin menceritakan soal mimpi nya ketika berada dihutan itu. Saat itu ibu Rangkas baru selesai membersihkan daging kancil dan burung. Rangkas menatap ibu nya dengan perasaan iba dan haru. Ibu nya yang sudah berumur setengah tua sekitar empat puluh sembilan tahun itu sudah nampak kelelahan.


Rangkas tak tega untuk menganggu waktu ibu nya, namun ia sudah terlanjur terlihat oleh ibu nya.


"Mak Pisau berburu ku disimpan dimana?"


"Tadi Ibu simpan didalam tas berburu mu Nak. Ada apa malam-malam begini kamu menanyakan pisau itu???"


"Hmm anu Mak, Rangkas hanya ingin melihat pisau itu saja."


"Oh begitu, yasudah setelah itu kamu langsung tidur Nak."

__ADS_1


"Baiklah Mak." Ucap Rangkas dan ia ragu akan niat nya untuk menceritakan soal mimpi bertemu ayah nya kala tertidur dihutan. Kini ia pergi mengambil pisau emas itu dan kembali ke dalam kamar nya.


Setiba didalam kamar, ia duduk ditepi ranjang nya. Rangkas memperhatikan setiap inci bagian-bagian pisau emas itu dari ujung mata pisau dari bahan emas sampai ujung gagang nya yang terbuat dari perak murni dan memiliki rumbaian benang merah tujuh lembar di ujung nya.


'Hmm gagang pisau ini terukir persis seekor ular bersisik perak dan apa ada hubungannya dengan ular perak yang aku lihat sebelumnya itu? dilihat-lihat pisau ini mirip seperti ular. Hanya saja bagian mata pisau nya tak meliuk-liuk seperti keris. Sebenarnya dulu bapak mendapatkan pisau ini darimana ya? Jika ini buatan tangan manusia, tak mungkin akan sebagus dan Serapi ini pahatan nya. ditambah perak dan emas sangat sulit sekali ditempa dengan alat dizaman sekarang. Aku tak percaya pisau ini buatan tangan manusia karena bahan dari pisau ini sangatlah mahal.' Gumam hati Rangkas menerka-nerka dan ia terus memperhatikan pisau itu sampai ia tak menyadari ada yang memperhatikan nya dari pojokan kamar nya. Sosok itu berpenampilan seperti seorang layak nya putri raja yang memakai gaun putih keperakan dengan mahkota kecil dikepala nya. Wajah nya cantik dan terlihat cukup dewasa, kulitnya putih bersih dan rambut nya dikonde.


Sosok perempuan itu seperti manusia pada umumnya, kaki nya menapak diamben rumah itu dan wujud nya nyata seperti manusia. Tak ada yang menyeramkan dari perempuan berparas cantik itu. Malah mungkin Rangkas pun akan terpesona akan kecantikan wanita misterius itu. SOSOK WANITA **CANTIK** Itu kemudian berjalan mendekati Rangkas dari arah pojokan kamar nya yang ada di belakang Rangkas. Didalam kamar itu hanya diterangi oleh Lampu petromax dari bahan bakar minyak karena pada saat itu listrik belum sepenuhnya masuk ke dalam kampung pedalaman tersebut.


Sosok perempuan cantik itu berjalan menuju Rangkas yang duduk ditepi ranjang dan membelakangi nya. Posisi Rangkas masih memperhatikan tiap jengkal dari pisau emas itu.


"Apa yang sedang kau perhatikan itu anak muda?" Suara perempuan bernada lembut itu menggugah lamunan Rangkas dan ia pun tersentak kaget bukan main. Rangkas menatap ke arah sumber suara itu berasal dan seketika mata nya langsung terpesona menatap wajah cantik dari perempuan misterius itu.


Rangkas semakin terpukau dibuat nya dan kini perempuan itu duduk disamping Rangkas seraya berkata.


"Perkenalkan, Namaku Putri Ayu Candraningsih. Siapa namamu anak muda?" Rangkas yang semula gugup dan tak bisa menggerakkan anggota tubuh nya, Kini perlahan bisa membuka mulut.


"Ak..aku. Namaku Rangkas Rusdiana, Non..Nona." Ucap Rangkas terbata-bata. Perempuan yang mengaku bernama Putri Ayu Candraningsih itu hanya tersenyum saja. Kemudian Rangkas beranikan bertanya,


"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumah ini? Lalu siapa kau ini sebenarnya?"

__ADS_1


"Aku sudah mengenalkan namaku kepada mu barusan. Soal asal-usul ku, nanti juga kau akan tahu sendiri siapa diriku ini."


"Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamarku? sedangkan pintu kamar ku saja sejak tadi tertutup." Sosok perempuan itu tersenyum lalu berkata.


"Mudah saja, coba aku lihat pisau yang kau pegang itu." Rangkas pun memberikan pisau itu tanpa bisa berpikir jernih karena pandangan nya masih terpukau dengan kecantikan perempuan bak putri raja itu.


Rangkas memperhatikan jari-jari lentik dari perempuan itu yang memegang pisau emas milik nya. Kemudian perempuan itu berkata lagi,


"Simpan baik-baik pisau emas ini, jika pisau ini hilang. Maka takdir hidup dan mati mu berada di pisau emas ini Rangkas." Rangkas mengerutkan dahi nya tanda tak mengerti maksud dari perkataan perempuan itu.


"Apa kau ini manusia seperti ku ataukah sesosok siluman yang menyamar menjadi seorang wanita cantik jelita? Aku merasakan dirimu bukanlah seorang manusia seperti diriku." Ucapan Rangkas tadi ditertawakan oleh perempuan tadi.


"Hihihi kau ini lucu dan lugu sekali."


Rangkas semakin tak mengerti akan maksud tertawa nya perempuan itu.


"Apa kau pikir wanita seperti diriku ini tak layak dikatakan manusia? sampai-sampai kau pun menuduhku bahwa aku bukan manusia, xixixixi." Perempuan itu semakin nengikik geli dan membuat Rangkas menjadi dongkol dibuat nya.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2