
LANGKAH Kaki Suminah terus berjalan tanpa takut dirinya menabrak sesuatu yang ada didepan nya. Kabut hitam dan pekat itu masih menyelimuti kampung Tegalsari dari ujung kampung sampai ke ujung kampung lagi. Pisau emas yang dibawa Suminah itu terus saja menuntun Suminah untuk pergi ke arah yang dituju oleh pisau emas tersebut.
Rangkas masih berdiri mematung dan terdiam dalam kebingungan nya. Angin kencang menerpa tubuh Rangkas dari arah belakang dan seketika Rangkas segera memutar tubuh nya. Nampak jelas SOSOK TINGGI BESAR berdiri tepat dua langkah dari Rangkas. Mata Rangkas mendelik dan mulut nya melongo sampai-sampai lidah nya pun tak bisa berucap sepatah kata pun. Ia ingin berteriak namun lidah nya kaku dan kelu sampai pada akhirnya Rangkas pun jatuh pingsan dengan sendiri nya.
Angin kencang yang menerpa Rangkas telah menghilang dan berganti dengan sosok tinggi besar dan hitam. Sosok misterius itu seluruh nya hitam dan hanya terlihat dua bola mata nya yang bulat besar berwarna merah menyala. Tatapan bengis dan sadis dari sosok itu seakan ingin memakan tubuh Rangkas secara utuh. Akan tetapi ketika tangan sosok hitam besar dan tinggi itu akan meraih tubuh Rangkas, tiba-tiba terdengar suara teriakan Suminah dari kejauhan.
"Rangkaaaas! anakkuuuu! dimana kamu naaaak...???" Teriakan tersebut tak membuat sosok hitam itu menghentikan niat nya. Ia segera meraih tubuh Rangkas dan ketika ia akan membawa tubuh Rangkas pergi, tiba-tiba ada sinar perak menyilaukan sebesar kelapa tanpa serabut melesat cepat ke arah sosok hitam itu.
Sosok hitam itu telat menghindari sinar aneh yang entah dari mana datang nya itu. Pada akhirnya tubuh sosok itu terpental jauh dan dalam sekejap hilang dari pandangan mata. Tubuh Rangkas terlepas dari tangan sosok hitam tadi dan ia masih terbaring tak sadarkan diri ditanah. Kabut hitam dan pekat yang sebelumnya menutupi kampung Tegalsari kini perlahan mulai menipis dan semakin lama semakin menghilang tak menyisakan sedikit pun kabut misterius itu.
Suminah masih berteriak-teriak memanggil nama anak nya dan tak lama Suminah berjalan mengikuti arah kemana pisau itu mengarah ke sebuah pemakaman umum yang berada dikampung Tegalsari.
'Mengapa pisau ini mengarah ke pemakaman ini? apa jangan-jangan anak ku ada disini???" Ujar Suminah bertanya-tanya dalam hati nya dan langkah nya kini sudah memasuki pemakaman tersebut. Mata Suminah menatap tegang karena ia melihat anak nya terbaring ditanah pemakaman tersebut.
"Rangkas anaku!" Segeralah Suminah berlari mendekati anak nya. Suminah sangat panik melihat anak nya tergeletak ditanah kuburan itu.
"Nak bangun Nak!" Ucap Suminah berusaha membangunkan Rangkas dan kemudian Rangkas pun mengerang seraya membuka mata nya.
"Emak? sedang apa disini?" Ucap Rangkas dan ia segera bangun dan duduk.
__ADS_1
"Harus nya aku yang bertanya padamu Nak! Kau sedang apa malam-malam begini dipemakaman hah!? bukankah tadi ibu menyuruhmu untuk membeli bumbu dapur?" Rangkas termenung sejenak dan pikiran nya yang masih linglung itu berusaha mengingat-ingat kejadian yang sudah ia alami itu.
Ibu nya Rangkas segera berkata untuk mengajak Rangkas pulang dan kini mereka pulang ke rumah setelah Rangkas menunggu ibu nya pergi ke warung untuk membeli bumbu dapur. Namun sayang, warung langganan yang menjual bumbu dapur itu tutup. Suminah pergi mencari warung yang masih buka dan tetap saja hasil nya nihil.
Suminah agak kecewa juga dan akhirnya ia pun segera kembali menemui anak nya yang menunggu diperbatasan jalan masuk desa.
"Bagaimana Mak?" Tanya Rangkas.
"Semua warung tutup Nak, padahal malam belum larut begini. Ada apa sebenarnya dikampung ini?"
"Entahlah Mak, seperti nya ada sesuatu yang aneh dikampung ini."
"Hmm seperti nya memang begitu. Sudahlah ayo kita pulang Nak. Wajah mu sudah pucat sekali." Ujar Suminah kepada anak semata wayang nya itu. Rangkas hanya mengangguk saja
"Tadi bagaimana awal nya kau bisa berada dipemakaman itu Nak?"
"Rangkas tak ingat akan soal itu Mak, yang Rangkas ingat adalah kabut hitam dan juga tebal yang menghalangi pandangan Rangkas ketika Rangkas berada dikampung itu."
"Bukankah tadi kau membawa senter?"
__ADS_1
"Cahaya senter tak bisa menembus kabut itu Mak! Kalau Rangkas tak melihat lampu-lampu rumah penduduk yang menyala, Pasti Tubuh Rangkas akan menabrak dinding rumah penduduk. Rangkas terus berjalan mengikuti gerak naluri untuk pergi ke warung, akan tetapi entah berapa lama Rangkas berjalan. Tiba-tiba ada angin kencang berhembus menerpa tubuh Rangkas dan setelah itu Rangkas melihat sosok besar dan tinggi. Hanya bola mata nya saja yang merah menyala dan tubuh nya semuanya hitam, wujud nya kurang jelas karena terhalang kabut-kabut pekat itu Mak." Suminah mendengarkan cerita anak nya dengan serius dan ia mulai khawatir melihat kondisi anak nya menggigil kedinginan itu.
Ketika Rangkas ingin melanjutkan cerita nya, Suminah pun segera berkata.
"Nanti saja kau teruskan cerita mu Nak. Ibu akan ambilkan air hangat dulu untuk mengkompres kening mu. Sekarang pakai selimut tebal ini dan jangan bergerak dulu ya Nak."
"Baik Mak." Jawab Rangkas sembari menganggukan kepala nya. Setelah Suminah pergi keluar dari kamar Rangkas, Rangkas pun merenung menatap langit-langit kamarnya. Ia membayangkan sosok hitam tinggi besar tadi dan mengingat-ingat setelah ia melihat sosok itu.
'Sepertinya setelah aku melihat mahluk hitam tadi, kepala ku pusing dan aku langsung pingsan' Ucap batin Rangkas dan ia terus saja memikirkan soal kejadian aneh itu.
Suminah sedang memasak air hangat ditungku dan juga beberapa lembar sirih untuk Rangkas. Ia segera teringat akan daging Kancil yang ia bersihkan di dalam kamar mandi itu belum sepenuhnya dibersihkan. Suminah segera membersihkan daging kancil itu dan setelah selesai ia mengambil tas kain Rangkas yang masih berisi burung hasil buruan itu. Ketika Suminah mengeluarkan isi dari tas tersebut, ia sedikit kaget karena melihat ada buah Persik yang separuh nya telah dimakan oleh kancil itu.
"Inikan buah Persik? darimana Rangkas menemukan buah langka ini?" Ujar Suminah keheranan dan ia segera menyudahi pekerjaan nya. Ia segera menyiapkan air hangat dan juga daun sirih ke dalam baskom kecil serta membawa buah Persik bekas dimakan oleh kancil itu.
Setiba dikamar Rangkas, Suminah melihat anak nya sedang memegang pisau emas yang sebelumnya ia bawa untuk mencari anak nya. Rangkas melihat ibu nya masuk ke dalam kamar nya dan Rangkas lalu bertanya,
"Apa sebelumnya Emak membawa pisau ini untuk mencari Rangkas?" Suminah mengangguk dan berkata.
"Sengaja Emak membawa pisau itu hanya untuk berjaga-jaga saja Nak. Emak takut kau kenapa-kenapa dikampung sana karena suara kentongan itu mengingatkan Emak dengan adanya bahaya. Emak takut kau disangka pencuri oleh mereka Nak." Rangkas hanya terdiam saja dan ibu nya berkata lagi.
__ADS_1
"Apa kah suara kentongan tadi pertanda ada nya bahaya kabut aneh itu ya Nak?" Ucapan Suminah segera dijawab oleh Rangkas.
"Sepertinya memang begitu Mak. Ketika Rangkas sudah memasuki kampung, Tiba-tiba kabut gelap menutupi pandangan Rangkas dan setelah itu suara kentongan terdengar keras serta suara teriakan agar orang-orang untuk masuk ke dalam rumah." Ucapan Rangkas tersebut membuat Suminah manggut-manggut mendengarkan nya.