
Malam hari telah tiba, Rangkas baru saja selesai mandi sore karena mandi nya kemalaman. Waktu sore tadi ia sibuk memanggul beberapa karung singkong untuk ia jual ke seorang penjual keripik singkong dikampung Tegalsari. Ibu Rangkas malam itu sedang didapur menghangatkan makanan untuk mereka makan malam.
Rangkas segera memakai pakaian nya dikamar dan setelah itu pergi mengambil tas berburu nya untuk ia nanti pergunakan besok ke hutan. Rangkas akan bilang kepada ibu nya bahwa ia akan naik ke atas puncak gunung persik untuk berburu lagi. Padahal, Rangkas sudah pernah bilang kepada ibu nya untuk libur berburu selama tiga hari. Ambisi Rangkas soal mengungkapkan kematian Ranti yang masih penuh dengan teka-teki dan tanda tanya itu begitu besar. Apalagi ia telah bertemu dengan Ranti di alam mimpi nya, semakin kuat tekad nya Rangkas untuk memecahkan persoalan tersebut.
Malam hari pada waktu itu begitu dingin tak seperti biasa nya. Kemarin hawa dingin memang sudah ada, namun kali ini tak ada kabut misterius seperti kemarin. Rangkas tak biasanya merasakan tubuh nya menggigil dan ia segera memakai sarung. Ia lalu dipanggil oleh ibu nya diruangan meja makan untuk makam malam bersama ibu nya.
Rangkas duduk dikursi meja makan itu dan mulai menyantap hidangan lezat itu bersama ibu nya. Daging kancil dan daging burung yang dimasak Suminah masih tersisa banyak dan Suminah memasak nya lagi untuk makan malam. Rangkas sangat lahap sekali makan nya dan ibu nya pun hanya tersenyum bahagia saja melihat anak nya makan dengan lahap.
"Bagaimana masakan Emak? Enak apa tidak?" Tanya Suminah kepada anak nya.
"Enak sekali Mak, Masakan Emak memang tak pernah gagal." Puji Rangkas kepada masakan ibu nya dan Suminah hanya tersenyum saja seraya berkata.
"Andai Bapak mu masih ada, mungkin sekarang ia sudah makan malam bersama kita Nak."
"Iya Mak, pasti suasana malam ini akan lebih indah dan harmonis jika mendiang Bapak masih hidup." Ucap Rangkas pelan dan ia menghentikan makan nya seraya menatap ibu ny.
"Mak besok Rangkas mau pergi berburu lagi."
"Lho bukan nya kau mau istirahat tiga hari dirumah Nak? Lagipula daging kancil ini masih ada sisa banyak."
"Yah mau bagaimana lagi Mak, Rangkas bosan kalau sehari tak berburu Mak. Bosan Rangkas kalau dirumah tak ada kegiatan."
"Hm begitu, yasudah. Yang penting kamu hati-hati saja jika berada dihutan sana. Ibu sudah seringkali mengatakan nya padamu agar lebih berhati-hati ketika berada disana karena disana banyak sekali hewan buas dan dedemit penunggu hutan belantara itu."
"Tenang saja Mak Rangkas selalu ingat Nasihat Emak, Lagipula sudah bertahun-tahun Rangkas berburu disana dan sekalipun tak menemukan binatang buas atau dedemit."
__ADS_1
"Ada baiknya kamu selalu berhati-hati ketika berada disana Nak, Mau bagaimana pun Emak selalu khawatir." Rangkas hanya tersenyum saja kepada ibu nya yang sangat mengkhawatirkan keselamatan diri nya itu.
Rangkas dan ibu nya lanjut makan malam lagi dan setelah itu mereka pergi ke kamar masing-masing untuk tidur malam. Dimalam itu, cuaca dingin masih terasa menelusuk ke dalam pori-pori kulit Rangkas. Rangkas sudah terpejam dan tertidur pulas karena badan nya sudah kelelahan sekali. Tapi Rangkas tetap merasakan dirinya menggigil kedinginan dan dialam bawah sadar nya Rangkas bangun dari tidur nya.
'Mengapa lama-lama semakin dingin cuaca malam ini...?' Ucap batin Rangkas dan ia segera bangun untuk mengambil selimut didalam lemari baju nya.
Ketika Rangkas akan berbalik kembali ke ranjang, ia tersentak mundur dan kaget bukan main. Ia mendapati tubuh nya sedang tertidur pulas diranjang itu. Rangkas tak bisa berpikir jernih dan ia langsung menatap anggota tubuh nya sendiri.
"Aneh sekali! Mengapa tubuh ku ada dua!? Apakah aku sudah mati...???" Ucap Rangkas ragu dan ia lalu berjalan mendekati tubuh nya yang tertidur itu.
"Tubuh ku masih bernafas teratur dan tak mungkin aku mati jika raga ku itu terlihat masih bernapas normal. Lalu apakah aku sedang bermimpi lagi...???" Rangkas kini duduk didekat tubuh nya dan menyentuh tubuh asli nya.
Tangan Rangkas bagai tembus ketika menyentuh tubuh asli nya itu.
"Astaga! Mengapa aku tak bisa menyentuh tubuh ku sendiri!? Apakah aku benar-benar sudah mati!?" Lalu Rangkas pun berteriak memanggil ibu nya dan teriakan nya itu sama sekali tak dijawab oleh ibu nya. Panas dingin keringat bercucuran mulai membasahi tubuh Rangkas dan ia pun akhirnya jatuh terduduk lemas dilantai amben bambu itu. Mata Rangkas merah menahan tangis karena ia mengira bahwa diri nya saat itu sudah meninggal dunia.
Lalu terdengar suara seorang perempuan mengikik dibelakang Rangkas.
"Siapa itu...!?" Sentak Rangkas kaget dan ia langsung memutar tubuh nya ke belakang. Disana nampak sesosok perempuan yang sudah ia kenali rupa dan wujud nya.
"Kkk...kau? Sedang apa kau di sini Nyai...???" Tanya Rangkas kepada wanita itu dan ia segera mengusap air mata nya.
"hihihi, aku di sini sedang menonton mu menangis. Menggelikan sekali melihat seorang lelaki menangis seperti itu, hihihi."
"Bagaimana aku tidak menangis, kau lihat sendiri tubuh ku yang ada disana. Aku sudah yakin bahwa aku ini sudah mati karena tak mungkin jika aku masih hidup, aku tak mungkin bisa melihat ragaku sendiri."
__ADS_1
"Hahaha, kau ini lucu sekali Rangkas. Apa kau sama sekali tak pernah merasakan yang nama nya terbangun di dalam ALAM BAWAH SADAR Mu sendiri...???" Rangkas mengerutkan dahi nya tanda tak mengerti ucapan wanita yang bernama Putri Ayu Candraningsih itu.
"Maksudmu aku saat ini sedang bermimpi begitu...???"
"Iya memang hampir sama, hanya saja perbedaan nya mimpi mu ini bisa kau kendalikan sesuka hati mu."
"Aku tak paham maksud perkataan mu itu Nyai." Ujar Rangkas semakin tak mengerti.
"Anak Muda, kau ini sebenarnya memang sedang tertidur pulas seperti ini. Tapi kondisi yang sedang kau rasakan sekarang berbeda dengan mimpi yang biasa kau rasakan. Alam bawah sadar mu sebenarnya telah membangunkan Arwah, jiwa dan raga mu untuk bangun. Namun hanya arwah mu saja yang terbangun, sedangkan raga mu tak ikut bangun karena dalam kondisi tubuh fisik mu yang sedang kelelahan. Jadi kesimpulannya kau yang sedang bersama ku ini adalah sosok arwah mu sedangkan jiwa dari tubuh asli mu masih tertidur bersama tubuh asli mu itu."
"Oh begitu rupanya." Ucap Rangkas manggut-manggut tanda mengerti, kemudian ia bertanya.
"Lalu apa penyebabnya aku bisa sampai seperti ini Nyai? sebab seumur hidup ku baru kali ini aku merasakan hal yang amat aneh."
"Kau terlalu banyak pikiran, itu yang membuat alam bawah sadar mu membangunkan tubuh mu untuk pergi ke suatu tempat. Aku yakin tempat yang sedang kau pikirkan itu adalah sebuah pohon dengan lambang bintang segi enam itu bukan...???" Rangkas menatap Perempuan itu dengan kaget dan bertanya,
"Tahu darimana kau soal pohon itu Nyai...???" Perempuan itu tertawa pelan dan berkata,
"Nanti aku akan menjelaskan nya kepadamu. Sekarang ayo ikut aku ke suatu tempat."
"Aku tak mau pergi! Aku harus secepatnya kembali masuk ke dalam tubuh asli ku!" Lalu Rangkas segera meloncat kepada tubuh asli nya yang masih tertidur itu. Namun Ia tetap menembus tubuh nya dan terdengar suara Putri Ayu berkata.
"Percuma saja, kau tak akan bisa masuk kembali ke dalam tubuh mu Rangkas." Wajah Rangkas seketika memucat dan ia tak bisa berkata-kata lagi.
...*...
__ADS_1
...* *...