TerSesat

TerSesat
PELET KASMARAN


__ADS_3

PUTRI Ayu dan Pangeran Dirgantara telah masuk ke dalam lubang gua yang cukup lebar dan lega. Kedua nya menyusuri jalanan terowongan gua yang gelap itu dan kedua nya bisa melihat keadaan gelap itu memakai panca indera mata batin nya. Bau rempah-rempah seperti aroma kemenyan sudah sangat pekat tercium oleh mereka berdua. Kaki kedua nya sudah berjalan sangat hati-hati karena takut musuh mengetahui nya dan menyerang mereka.


Tiba dibelokan lorong, di dalam ruangan lebar itu ada nyala api menerangi ruangan itu. Ada tiga obor tertancap disetiap sudut ruangan gua cukup lebar itu. Di situ ada batu datar dengan didepan nya ada nampan emas berisi rempah-rempah kemenyan dan juga kembang tujuh rupa. Tak ada siapapun didalam ruangan itu dan mereka berdua pun berbincang-bincang,


"Menyengat sekali aroma wewangian di ruangan ini! Sepertinya di sini ada yang menempati nya!" Ujar Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara menyahut.


"Iya benar, sepertinya ini adalah tempat tinggal ular siluman Bertanduk itu yang tak lain adalah jelmaan nya di Raden Aji Sakro itu!"


"Hmm aku pun mencium aroma khasa wewangian yang ia pakai. Sepertinya ia baru saja keluar dari dalam gua ini."


"Sayang sekali kita tak langsung bertemu dengan nya, kalau dia ada disini kita sudah tentu akan membunuh nya saat ini."


"Raden Aji Sakro tak akan semudah itu di bunuh, dia memiliki ilmu kebal yang sangat sulit untuk dilawan!"


"Aku juga tahu akan ilmu kebal nya itu, tapi apa kau ingat soal tangan nya yang terluka itu?" Putri Ayu merenungkan kejadian yang sudah lama itu.


"Tangan Raden Aji Sakro terluka karena tergores ujung Pusaka Pisau Ranca Cula! Kekebalan tubuh dia hanya mampu dikalahkan oleh kesaktian pisau itu. Lalu kalau kau? Bagaimana bisa melukai bahu nya si brengsek itu?"


"Ia tersayat oleh pedang pusaka milik ayah ku yang sekarang pedang itu ada dibelakang ku. Pedang ini konon kata nya berasal dari siluman lidah ular naga yang berhasil dikalahkan oleh ayah ku ketika ia bertapa di gunung Tangkuban Perahu!"


"Hmm berarti kita sudah mempunyai dua pusaka sakti untuk mengalahkan si Raden Aji Sakro itu!" Lalu Pangeran Dirgantara bertanya soal hubungan Rangkas dengan Putri Ayu.


"Lalu soal hubungan anak itu dengan mu bagaimana? bukankah kau memiliki pisau itu dan mampu melawan si Raden Aji Sakro itu dengan tangan mu sendiri?"

__ADS_1


"Aku tak bisa mengalahkan nya..." Ucap Putri Ayu bernada sumbang.


"Apa ada alasannya.???" Pangeran Dirgantara penasaran.


"Dia telah menanamkan PELET KASMARAN Pada tubuh ku ini."


"Jika kau jatuh cinta karena dipelet?"


"Awal nya tak begitu, tapi aku rasakan ia selalu menyebutkan namaku disetiap pertapaan nya setelah aku melarikan diri dari peperangan itu. Aku merasa jiwa ini ingin bunuh diri dan mengharap belas kasihan kepada nya. Aku masih mempunyai ilmu penangkal nya, tapi aku merasa tak tega jika berniat ingin membunuh nya. Yang ada nanti malam aku yang ia bunuh!"


"Ilmu yang aneh, tapi aku percaya dengan ilmu seperti itu memang benar ada nya."


"Sekarang kita kembali lagi keluar, mungkin Rangkas sudah menunggu kita disana." Pangeran Dirgantara hanya mengangguk saja dan kini mereka keluar dari gua itu lagi.


"Bagaimana Nyai? Apa kalian menemukan ular bertanduk itu???"


"Kami tak menemukan nya, tapi gua itu memang benar-benar baru saja ditinggalkan oleh siluman ular itu." Kata Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara segera berkata,


"Sebaiknya kita harus secepat nya pergi ke kuil Wayangsa untuk menangkap si Gundalini itu. Soal Raden Aji Sakro, kita kesampingkan dahulu."


"Ada benar nya juga. Ayo kita berangkat." Lalu Putri Ayu berjalan lebih dulu dan kemudian di ikuti oleh Rangkas serta Pangeran Dirgantara.


Pangeran Dirgantara pun mempraktekkan cara ia masuk ke dalam lubang sekecil kelereng itu.

__ADS_1


"Pegang pundak ku." Perintah Pangeran Dirgantara dan Rangkas serta Putri Ayu memegang pundak kanan dan kiri nya Pangeran Dirgantara. Dalam sekejap ketiga nya langsung terperosok masuk ke dalam lubang kecil itu dan tiba di sebuah ruangan yang gelap. Rangkas masih ingat ketika ia awal masuk ke dalam ruangan itu dan apa yang ia lihat kali ini sangat mengejutkan nya.


Di dinding gua itu banyak tulang belulang manusia yang sengaja digantung dinding gua itu. Rangkas nampak ngeri melihat nya dan Putri Ayu yang baru pertama kali masuk ke dalam ruangan itu hanya geleng-geleng kepala saja melihat banyak tengkorak dan tulang belulang manusia itu. Pangeran Dirgantara pun menjelaskan nya kepada kedua orang teman nya itu.


"Semua tengkorak manusia dan tulang belulang yang sengaja digantung di dinding gua ini adalah bekas para korban yang daging nya habis dimakan siluman kadal itu. Ia memperoleh tubuh manusia-manusia ini ketika kami berhasil membunuh manusia dan raya tubuh manusia tanpa kepala itu diambil oleh penjaga gerbang Siluman ini untuk diberikan kepada teman nya si siluman kadal itu." Rangkas dan Putri Ayu manggut-manggut mendengarkan nya.


Mereka berjalan sampai tiba ditempat tiga lorong yang pernah Rangkas lewati itu. Satu lorong paling kiri adalah ruangan tempat buang air nya si Siluman kadal itu. Lorong tengah jalan menuju kampung para orang-orang gila itu. Tapi sepertinya jalan menuju kesana memang sudah tertutup reruntuhan batu gua."


"Benar Kang, sebab aku menyaksikan ruangan itu runtuh dan tertimbun seluruh nya."


"Berarti kita harus pergi ke jalan lorong kanan ini, soal nya jalan ini langsung tembus ke kuil Wayangsa." Kemudian Pangeran Dirgantara jalan lebih dulu dan di ikuti oleh Putri Ayu serta Rangkas.


Lorong panjang itu diterangi oleh obor-obor disetiap dinding gua nya dan memungkinkan ketika orang itu bisa melihat jalan dan sekeliling gua. Tak ada yang istimewa di lorong itu hingga agak lama mereka menyusuri lorong itu, kini mereka bertiga menemukan tangga untuk naik ke atas. Ketiga nya menaiki tangga itu dan setelah tiba di atas, mereka berada di sebuah gubuk rumah kayu.


"Inikan rumah yang ada di dekat pemakaman kuil itu?" Ujar Rangkas masih ingat akan rumah kayu itu.


"Ini memang jalan menuju kuil itu Rangkas, ayo sekarang kita bergegas." Ujar Pangeran Dirgantara dan kini mereka keluar dari rumah kayu itu.


Pemandangan mencengangkan terjadi, Putri Ayu, Rangkas dan juga Pangeran Dirgantara melongo melihat pemakaman yang ada di depan Kuil Wayangsa itu retak terbelah dan berlubang tengah nya. Seluruh kuburan itu sudah kosong oleh penghuni nya dan Rangkas merasa merinding melihat nya. Bau bangkai tercium dari dalam kuburan itu dan membuat Rangkas mual-mual. Sedangkan Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara terlihat sudah terbiasa mencium bau bangkai itu.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2