TerSesat

TerSesat
DUA SOSOK MISTERIUS


__ADS_3

RANGKAS Berjalan dengan sempoyongan menuju sebuah rumah di dekat danau tersebut. Ia lalu memasuki rumah itu dan tak orang di dalam nya. Pandangan mata Rangkas agak buram dan tiba-tiba tubuh nya ambruk dilantai kayu itu. Rangkas pingsan karena energi tenaga dalam nya sudah terkuras dan energi tenaga dalam nya itu sudah tak bisa menahan nya tubuh nya lagi.


Entah sadar atau tidak, Rangkas merasa melihat seseorang memakai pakaian jubah yang memiliki kerudung kepala berwarna biru kehitaman dan Sosok itu memegang sebuah tongkat. Seseorang itu seperti berdiri didekat Rangkas dan Rangkas tak bisa melihat wajah nya karena mata nya sudah terpejam dahulu. Ia hanya melihat dari kaki sampai perut saja dan sosok itu seperti mengatakan sesuatu kepada Rangkas, Namun Rangkas tak mengerti maksud ucapan sosok itu.


Putri Ayu tiba di depan sebuah rumah tua yang sudah rapuh kayu papan nya. Ia masuk ke dalam rumah itu dan tak ada satupun seseorang yang mendiami rumah itu. Putri Ayu berjalan lemas sambil memegang tembok rumah tua yang terbuat dari papan itu. Tiba-tiba tubuh nya ambruk jatuh ke lantai berdebu itu dan mata nya sudah tak bisa melihat dengan jelas lagi. Pada saat itu ada seseorang yang memakai jubah berwarna putih berkerudung. Sosok itu memegang tongkat ditangan nya dan terlihat oleh Putri Ayu sosok yang tiba-tiba ada didepan nya itu.


"Si..siapa kau?" Tanya Putri Ayu dan setelah itu ia pingsan tak ingat apa-apa lagi.


Putri Ayu dan Rangkas pingsan ditempat yang berbeda. Tanpa mereka sadari, DUA SOSOK MISTERIUS Itu membawa tubuh mereka berdua ke suatu tempat. Tempat itu mirip seperti kuil di alam nyata dan di halaman kuil itu terbentang pemakaman kuno. Entah apa maksud dua sosok misterius itu membawa tubuh Putri Ayu dan Rangkas ke dalam kuil pemujaan tersebut.


Di alam nyata suasana sudah menjelang pagi dan Suminah sudah terbangun dari tidur nya. Ia bangun dengan mata lebam dan ia masih amat merasakan kehilangan anak nya itu. Suminah pergi ke kamar anak nya dan duduk diranjang nya. Ia melamun tanpa sadar air mata nya sesekali menetes membasahi pipi nya. Pada pagi itu pihak kepolisian sudah berada di rumah nya Pak Kades dengan membawa bukti sampel darah yang sebelumnya ia temukan di tempat hilang nya Rangkas.


Dirumah Pak Kades ada pak ketua polisi dan beberapa anak buah nya. Pak Ketua polisi menunjukan sampel darah itu pada pak Kades.


"Bagaimana dengan sampel darah ini Pak Imran? apakah ini darah nya Rangkas?" Tanya Pak Kades kepada ketua polisi yang bernama Pak Imran itu.


"Setelah kami selidiki, ternyata darah ini bukan darah nya Rangkas. Tapi yang membuat kami bingung, darah ini memiliki kelainan genetik."


"Maksud Pak Imran? Saya kurang memahami ucapan Pak Imran itu."

__ADS_1


"Begini Pak Amir,..." Ucap Pak Imran menyebut nama asli Pak Kepala Desa.


"Jadi darah ini memiliki kelainan dan bukan murni darah manusia ataupun hewan. Darah ini memiliki campuran darah manusia dan ular, tapi yang membuat kami heran. Darah ini memiliki kadar racun yang mematikan!" Pak Amir mengerutkan dahi nya dan bertanya,


"Jadi kesimpulannya, darah ini bukan dari manusia ataupun hewan. Melainkan dari persilangan Manusia dan ular, begitu kah Pak Imran?"


"Betul sekali Pak Amir, jikalau benar ini adalah darah nya Rangkas yang dimangsa oleh ular. Mungkin perpaduan darah Rangkas dengan racun ular itu tak akan membuat darah ini beracun. Seumur hidupku baru kali ini aku menemukan keanehan di dalam darah ini. Entah siapa pemilik nya, kita tak bisa mengungkap kan nya." Ucapan Pak Ketua Polisi itu membuat orang yang di dalam ruangan itu menjadi bungkam memikirkan keanehan tersebut.


"Apakah saat ini Rangkas belum pulang kembali ke rumah nya?"


"Kami belum tahu akan soal itu Pak Imran."


Istri Pak Kepala desa yang bernama Ayu itu mendengar pembicaraan itu dengan jelas. Ia saat itu sedang menguping didalam kamar nya. Pada saat itu Ayu keluar dari dalam kamar dan berkata,


"Biar saya saja yang melihat kondisi Suminah, Pak Ketua Polisi." Tanpa di suruh, Ayu langsung pergi ke rumah Suminah untuk memberitahukan soal penemuan barang bukti oleh Polisi itu.


Pak Amir pun tak menyergah istri nya dan ia masih lanjut mengobrolkan kejadian hilangnya Rangkas itu bersama barang bukti yang belum pasti itu. Tiba di rumah Suminah, Ayu mengetuk pintu rumah itu berkali-kali. Suminah mendengar ketukan pintu itu dan ia hapal betul dengan suara siapa yang memanggil nama nya itu. Suminah segera keluar dari kamar Rangkas dan pergi ke luar rumah.


"Ayu? Ada apa?" Tanya Suminah sembari menyeka air mata nya.

__ADS_1


"Apakah Rangkas sudah pulang, Sumi?"


"Rangkas belum pulang, Ayu. Aku bingung harus mencari nya kemana, hixhix." Suminah menangis dan Ayu segera memeluk nya.


Ayu membawa masuk Suminah dan mereka duduk diruangan tamu rumah itu.


"Sudah jangan menangis Sumi, Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa mu ini. Aku yakin Rangkas masih hidup dan suatu saat pasti akan pulang kembali."


"Aku tak tahu harus bagaimana Ayu, aku hanya bisa pasrah saja kepada yang maha kuasa agar anak ku bisa secepatnya diketemukan. Hixhixhix, aku tak sanggup jika hidup sanak keluarga. Hixhixhix." Ayu tetap sabar menenangkan Suminah dan ia lalu berkata,


"Menurut ketua Polisi itu, darah yang ia temukan itu bukanlah darah Rangkas." Seketika Suminah menatap Wajah Ayu, kemudian Ayu berkata lagi.


"Kata nya darah itu sangat beracun dan memiliki kelainan genetik. Darah itu memiliki campuran darah manusia dan ular, apa jangan-jangan itu adalah sosok ular yang menyerang Rangkas ya?"


"Aku harus bagaimana sekarang Ayu? Apakah para polisi itu akan meneruskan pencarian anak ku lagi?"


"Aku kurang tahu akan soal itu Sumi, tapi kau bisa tanyakan hal itu kepada ketua nya langsung." Suminah pun segera mengajak pergi Ayu ke rumah nya dan Ayu pun mengikuti nya saja.


Suminah sudah tak sabar ingin menemui ketua polisi itu untuk mencari hilangnya anak nya itu. Pada saat itu cuaca tiba-tiba saja mendung dan para warga banyak yang melihat para polisi diluar rumah Pak Amir sedang berjaga. Ada satu orang penduduk berpakaian serba hitam dan ia sedang mengintip di balik pohon pisang disamping rumah. Disana orang itu menatap dengan tatapan sinis dan senyum jahat terulas di sudut bibir nya ke arah rumah nya Pak Kepala Desa.

__ADS_1


__ADS_2