TerSesat

TerSesat
RITUAL PEMBANGKITAN MAYAT


__ADS_3

"SIAPA ITU NYAI?" Tanya Rangkas kepada Putri Ayu dan Putri Ayu menyipitkan mata nya ke arah sekelebat orang yang berlari disela-sela pohon itu. Dihutan itu suasana senja temaram dan jelas sekali apa yang sedang dilihat oleh Putri Ayu dan juga Rangkas. Orang yang memakai kain serba hitam itu melihat Putri Ayu dan David dijalan setapak itu dan orang itu segera berlari ke arah jalan tembus menuju kuil pemujaan.


Rangkas hendak mengejar nya, Namun langkah nya terhenti karena Putri Ayu segera menarik bahu nya.


"Sudah biarkan saja orang itu pergi, tak ada guna nya orang itu bagi kita." Rangkas pun membenarkan ucapan Putri Ayu itu dan kini mereka lanjut berjalan menurun menyusuri jalanan setapak di dalam hutan itu. Orang berpakaian serba hitam dari penutup kepala sampai kaki itu tiba di jalan tembus menuju kuil pemujaan. Ia keluar dari dalam sumur tua di didepan kuil itu dan ketika ia keluar dari dalam sumur, Ia kaget melihat kuil itu hancur porak poranda separuh bagian.


Orang dengan pakaian serba hitam itu pun masuk ke dalam tembok yang hancur berlubang dan disana ia melihat pemandangan mengerikan. Banyak sekali mayat-mayat berpakaian serba kuning kusam tengah ditumpuk disatu tempat dan darah basah masih menggenang dilantai kuil tersebut. Orang serba hitam itu melihat Gandaria sedang melakukan ritual dan posisi Gandaria bersila di depan para mayat para pengikutnya itu. Ternyata setelah dilihat dari atas, darah para mayat itu telah dibuat menjadi lambang bintang segi enam dan para mayat itu berada di tengah-tengah lambang iluminati tersebut.


Orang berpakaian serba hitam itu lalu masuk dan sujud didepan Gandaria.


"Maaf Tuan Pangeran, aku baru sampai di sini." Mata Gandaria yang awal nya terpejam kinu terbuka lebar. Mata besar berwarna merah terang itu melotot ke arah orang berpakaian serba hitam itu.


"Kau dari mana saja Gundalini?" Tanya Gandaria menyebut nama asli orang yang berpakaian serba hitam itu.


"Maaf tuanku, aku habis dari alam manusia dan aku melihat banyak sekali orang-orang yang sedang berada di sekitaran Pintu Gerbang menuju alam ini."


"Siapa mereka!?" Tanya suara besar nya Gandaria.


"Mereka adalah para manusia dari kampung tempat ku tinggal selama ini Tuanku."

__ADS_1


"Apa maksud mereka berada dihutan itu!? Apa mereka bermaksud menantang ku hah!?"


"Kalau soal itu saya kurang tahu tuanku, tapi dari kabar yang saya dengar. Para warga itu sedang mencari seorang pemuda yang hilang ketika berburu di hutan itu. Anak itu bernama Rangkas, dia anak dari salah satu orang yang sudah kita tumbalkan kepada Raja Iblis Tuanku."


"Hmmm jadi anak itulah yang tadi ada disini bersama perempuan lacur itu!"


"Maksud Tuanku?" Tanya Gundalini tak paham.


"Anak itu tadi berada di sini bersama perempuan siluman itu! mereka berdua telah menghancurkan kuil ini dan membantai para pengikut ku! Yodha dan Lodhaya mati ditangan mereka berdua dan aku gagal membunuh mereka berdua!" Gundalini pun menatap ke arah belakang Gandaria dan disana masih ada mayat Yodha yang hancur kepala nya dan Lodhaya yang masih berdiri menjadi patung batu.


Gundalini menatap tegang ke arah dua rekan nya yang mati mengenaskan itu. Pada saat itu Gandaria berkata,


"Bawa kemari dua mayat teman mu itu Gundalini! Aku akan menghidupkan mereka lagi!!"


"Aku akan menghidupkan mereka kembali! Kita akan menyerang Kerajaan Angkor Pura dengan prajurit mayat ku ini!"


"Baik Tuanku!" Tegas Gundalini patuh dan ia pun mengikuti RITUAL PEMBANGKITAN MAYAT Para pengikutnya yang sudah mati itu.


Di alam manusia dan berada di hutan belantara kaki gunung persik, Para warga dan para polisi masih mencari keberadaan Rangkas dihutan itu. Seorang pun tak ada yang bisa menemukan bukti lain soal hilangnya nya Rangkas. Keramaian suara berisik dari para warga itu membuat penghuni hutan itu terganggu. Salah satu nya adalah seekor ular besar bersisik merah kehitaman dengan tanduk kecil dan tajam di kepala nya. Ular itu mengintip dibalik sebuah batu besar dan itu berada sangat jauh diseberang jurang. Ular itu memperhatikan yang sedang dilakukan oleh para warga itu dan ular itu tak berani pergi kesana karena ia tak mau menunjukkan diri nya dihadapan publik.

__ADS_1


Ular siluman itu mendesis dan mata nya menatap tajam ke arah sebuah pohon besar ditempat itu. Ular itu melihat energi gaib di batang pohon itu dan ia melihat ada lambang bintang segi enam dan lubang kecil ditengah nya. Kala itu pohon tersebut sedang diperiksa oleh para anggota polisi dan salah satu dari mereka menemukan letak lambang iluminati di batang pohon beringin itu.


Anak buah polisi itu memanggil ketua mereka untuk memeriksa nya dan penemuan simbol bintang segi enam itu membuat para warga penasaran.


"Lambang bintang segi enam? Apa maksudnya lambang seperti ini ada di sini?" Ucap Pak ketua Polisi dan Pak Kades yang ada disamping nya itu menjawab ucapan Pak Ketua Polisi.


"Sepertinya Simbol lambang ini adalah goresan dari orang iseng saja Pak."


"Sepertinya memang begitu, tapi saya mencurigai dengan lubang ditengah nya ini. Seperti nya terlihat sangat dalam sekali." Pak Ketua Polisi ingin menyentuh lubang itu, tapi gerakan nya segera terhenti karena Suminah berkata.


"Jangan disentuh Pak Ketua Polisi!" Suminah maju ke depan dan mendekati Pak Kades dan Pak Ketua Polisi.


"Ada apa memang nya Ibu Sumi?" Tanya Pak ketua polisi merasa heran. Para warga banyak yang bersungut-sungut menjelekkan Ibu Suminah yang dianggap tak sopan telah menyuruh Pak Ketua Polisi menghentikan langkah nya itu.


Suminah lalu menghadap para warga dan juga kepada Pak Kades dan Pak Ketua Polisi. Ayu istri nya Pak Kades juga ada di sana dan ia bersama para ibu-ibu yang ikut dalam pencarian tersebut.


"Maaf jika ucapan ku ini tak sopan terhadap Pak Ketua Polisi, sekali lagi aku minta maaf." Ucap Suminah dengan tegas dan percaya diri.


"Aku di sini hanya ingin menjelaskan sesuatu terhadap orang-orang yang ada di sini tentang simbol ini karena ada hubungan nya dengan kematian suami ku." Semua orang menatap Suminah dengan raut wajah aneh.

__ADS_1


Kemudian Pak Kades bertanya,


"Maksud mu bagaimana Sumi? Jangan mengada-ada dan mengarang cerita didepan kami!" Tegas Pak Kades dan para warga mulai bersungut-sungut lagi menjelekkan Suminah. Pak Ketua Polisi lalu mengangkat tangan nya agar para warga itu diam dan seketika para warga diam ketika Pak Ketua Polisi mengangkat tangan nya ke atas.


__ADS_2