TerSesat

TerSesat
DALANG PEMBUNUHAN


__ADS_3

SUMINAH Menatap wajah anak nya lagi dengan raut wajah aneh sambil berkata,


"Tak ada siapapun disana Nak. Kamu jangan mengada-ada."


"Tapi benar disana ada teman Rangkas Mak." Ucap Rangkas tetap meyakini ibu nya. Putri Ayu lalu mengirim telepati kepada Rangkas,


'Percuma saja kau bilang begitu kepada ibu mu Rangkas, kami ini Mahkluk tak kasat mata dan tak bisa di lihat oleh manusia biasa' Seketika Rangkas memutar tubuh nya ke belakang dan ia baru menyadari bahwa yang dikatakan oleh Putri Ayu itu benar adanya.


Kemudian Rangkas segera ingat akan tas berisi kepala Ranti itu. Rangkas menatap ke arah pak kepala Desa yang disana ia berdiri didekat pak kepala polisi dan para orang-orang warga lain nya. Rangkas bertanya kepada ibu nya,


"Apakah Emak dan semua orang itu telah mencari Rangkas dihutan sana?"


"Iya Nak, mereka membantu Emak untuk mencari hilang nya dirimu. Sudah berhari-hari kami tak menemukan jejak mu dan Emak sudah menyerah untuk mencari mu lagi. Memang nya kamu habis darimana Nak??? Mengapa kami tak menemukan mu dihutan sana???" Pertanyaan Suminah itu segera dijawab oleh Rangkas.


"Rangkas tersesat dan berada di alam gaib Mak." Lalu Rangkas pun menceritakan semua yang ia alami itu waktu ia masuk ke dalam portal dimensi alam Siluman yang berada di batang pohon dengan lambang iluminati itu sampai ia berhasil menemukan kepala Ranti dan juga kepala-kepala para korban lain nya yang masih utuh di alam gaib.


Para warga tak ada yang percaya akan cerita Rangkas itu dan Pak Kades juga tak percaya hingga Pak Ketua Polisi bertanya kepada Rangkas.


"Apa benar apa yang kamu ceritakan itu Rangkas? Kau sedang tidak membual kan didepan kami???"


"Tidak Pak! Saya bersumpah demi apapun bahwa ucapan saya ini adalah benar ada nya! Jika kalian tak percaya, aku bisa memberikan bukti yang nyata!" Lalu Rangkas mengambil tas kain nya yang selalu berada di punggung nya.


Semua mata menatap ke arah Rangkas dan kemudian Rangkas mendekati pak ketua polisi seraya memberikan tas kain berisi kepala Ranti itu.

__ADS_1


"Ini Pak bukti nya, silahkan lihat saja sendiri." Pak Ketua polisi pun menerima tas tersebut dan membuka nya. Kepala nya tersentak ke belakang dengan tegang dan kemudian menatap wajah Pak Kades bersama istri nya Pak Kades.


"Ada apa Pak?" Tanya Pak Kades.


"Silahkan lihat sendiri." Lalu Pak Kades pun menerima tas kain itu dan membuka isi nya.


Wajah Pak Kades dan Istri nya terkejut dan wajah nya menegang.


"Inikan kepala anak kita!" Sentak Pak Kades kepada istri nya dan saat itu istri nya langsung pingsan ditempat dan Pak Kades segera menangkap tubuh istri nya. Ia pun ikut terjatuh juga karena sekujur tubuh nya mendadak lemas. Para warga panik melihatnya dan segera menolong Pak Kades dan juga istri nya. Mata mereka semua nya terbelalak lebar melihat kepala Ranti yang masih utuh tanpa luka dileher nya yang terputus itu bahkan tak tercium aroma bau busuk atau amis darah. Wajah cantik Ranti masih muda seperti yang dulu yaitu pada saat sebelum ia meninggal beberapa tahun yang lalu. Tak ada perubahan sedikit pun dari wajah Ranti, harus nya wajah Ranti sudah semakin dewasa karena umur nya dibanding dengan Rangkas masih lebih tua Ranti yaitu beda selisih delapan tahun.


Mereka terkesima melihat kepala Ranti yang masih utuh itu karena mereka tahu dan ingat bahwa Ranti meninggal sudah lebih dari delapan tahun lalu. Hari meninggal nya Ranti bersamaan dengan meninggalnya Rusdi yaitu Ayah nya Rangkas. Pak Ketua polisi dan para anggotanya nya nampak heran dengan kepala Ranti yang masih utuh itu. Harus nya kepala itu sudah menjadi tengkorak jika kepala itu ditemukan saat itu. Tapi aneh nya kepala itu masih utuh dan tak ada luka sedikitpun dan hal itulah yang membuat mereka semua nya tercengang karena kemustahilan yang telah terjadi itu.


Istri Pak Kades sudah sadar dan ia menangis histeris menangisi kepala anak nya itu. Pak Kades juga ikut menangis pilu juga karena ingat betul bagaimana anak nya itu meninggal dalam keadaan tanpa kepala. Pak Kepala Polisi mendekati Rangkas yang sedang dipeluk oleh ibu nya itu.


"Saya menemukan nya disebuah tempat kuil pemujaan di alam gaib Pak."


"Di alam gaib? bapak sebenarnya percaya tak percaya akan cerita mu tadi. Tapi setelah melihat bukti yang kau tunjukan yaitu kepala anak nya pak kades yang sudah lama meninggal itu, aku percaya pada cerita mu itu Rangkas. Aku percaya bahwa hal gaib itu ada dan tak sembarangan orang bisa masuk ke sana."


"Saya tak sendirian Pak Polisi, ada dua teman saya yang telah membantu saya. Tapi wujud mereka tak nampak karena mereka berdua adalah sejenis mahkluk halus."


"Bapak percaya saja akan ucapan mu itu Rangkas, sebab Bapak tak bisa melihat wujud mahkluk halus itu. Sekarang yang masih membuat bapak penasaran dan selalu menjadi pertanyaan sampai saat ini. Siapa sebenarnya pembunuh anak nya Pak Kades itu?"


"Sudah pasti bukan Bapak Rangkas pelaku nya Pak Polisi! Semua tuduhan yang menyatakan bahwa Bapak saya adalah pembunuh Ranti itu adalah suatu kesalahan besar!"

__ADS_1


"Lalu siapa DALANG PEMBUNUHAN Dari tewas nya Ranti itu Rangkas?" Tanya Pak Polisi lagi.


"Sebenarnya pembunuh Ranti bukan dari bangsa manusia melainkan dari bangsa siluman. Tapi ada orang yang patut dicurigai dikampung Tegalsari, sebab ia adalah salah satu dalang dari pembunuhan ini!" Semua orang yang mendengar ucapan Rangkas itu saling tatap karena mereka semua nya tak merasa ikut melakukan dalam pembunuhan tersebut.


Pak Ketua Polisi pun bertanya lagi kepada Rangkas akan siapa nama orang itu. Kemudian Rangkas menatap ke semua warga kampung Tegalsari dan ia tak melihat orang nya ada disitu.


"Ki Gundalini orang nya! Dia adalah salah satu anggota Sekte Aliran Sesat yang setiap waktu selalu memburu tumbal darah manusia!"


"Apa Ki Gundalini!?" Semua orang berkata kaget dan kemudian Pak Kades berkata.


"Yakinkah apa yang kau katakan itu Rangkas?"


"Aku bersumpah demi tuhan jika aku berbohong, sebab aku pun melihat Ki Gundalini berada di alam gaib dan salah satu teman gaib ku ada yang bilang padaku bahwa Ki Gundalini lah orang yang selalu mencari manusia calon tumbal disetiap daerah untuk nanti di incar!"


"Cari si Gundalini itu dirumah nya sampai dapat!! Dobrak pintu rumah nya jika ia tetap tak mau keluar!!" Sentak Pak Ketua Polisi memerintahkan anak buah nya.


Semua anak buah ketua polisi yang berjumlah sepuluh orang itu segera berangkat dengan ditemani semua para warga yang ada di situ. Pak Ketua Polisi pun kemudian menatap Rangkas dan berkata,


"Lalu apa saja yang dilakukan nya itu selain mencari calon tumbal manusia itu?"


"Selain itu saya tak tahu, Pak Polisi. Sebab saya belum bertemu langsung dengan nya untuk mempertanyakan soal kelakuan jahat nya itu." Ucapan Rangkas itu pun membuat Pak Ketua Polisi manggut-manggut saja.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2