
RANGKAS Merasa kasihan melihat Putri Ayu menangis pilu dihadapan nya. Muncul rasa peduli terhadap Putri Ayu dan dengan sipat dewasanya Rangkas mendekati Putri Ayu seraya memeluk nya dan berkata,
"Sudah Nyai, semua sudah terjadi. Jangan kau sesali kenyataan itu walaupun sangat berat sekali untuk mu melupakan nya. Aku paham dan mengerti apa yang kau rasakan itu karena aku pun pernah berada di posisi mu dulu." Putri Ayu semakin membenamkan wajah nya di dada Rangkas yang bidang itu dan ia tak malu melakukan hal itu.
Rangkas hanya bisa mengusap-usap punggung Putri Ayu agar ia bisa tetap tabah menjalani hidupnya itu. Putri Ayu kemudian menarik diri dan mengusap air mata nya seraya berkata,
"Ternyata kau lebih dewasa dari apa yang aku pikirkan Rangkas." Rangkas hanya tersenyum saja dan kemudian berkata,
"Aku sejak kecil sudah belajar bagaimana caranya menjadi orang yang berpikiran dewasa. Mendiang Ayah ku yang pernah mengajarkan hal itu kepadaku." Seketika Putri Ayu segera teringat akan Ayah nya Rangkas.
"Apa kau pernah menyesali kehilangan seseorang yang kau sayangi? contohnya Ayah mu itu?" Rangkas menengadahkan wajah nya menatap Putri Ayu.
Tatapan sendu dan sayu dari Rangkas membuat Putri Ayu salah tingkah, kemudian Rangkas berjalan mendekati tepi batuan datar itu dan duduk. Putri Ayu masih berdiam diri berdiri ditempat nya dan saat itu Rangkas berkata,
"Awal nya aku memang menyesali kepergian Ayah ku itu karena aku merasa Ayah ku saat itu tak mungkin tiba-tiba menderita sakit hingga menyebabkan nya meninggal dunia. Ayah ku adalah orang yang kuat dan tak pernah sekalipun aku melihat tubuh nya sakit sekecil apapun. Tapi entah kenapa terakhir ia pergi berburu bersama ku, setiba di rumah Ayah ku muntah darah yang cukup banyak. Setelah itu ia tak bisa bangun lagi dan hanya bisa berbaring dikasur sampai ajal nya tiba."
"Apa ia pernah mengatakan sesuatu kepada mu mengapa dia bisa sakit begitu...???" Rangkas menggelengkan kepala nya dan berkata,
"Ayah ku tak banyak bicara soal itu, ia hanya berkata bahwa dirinya merasa pusing ketika sedang berburu dihutan kaki gunung persik kala itu bersama ku. Setelah itu kami langsung pulang dan setelah itu Ayah ku muntah darah cukup banyak. Ibu ku sudah berusaha mengobati Ayah ku, namun tetap tak ada hasil nya. Mau meminta tolong kepada warga kampung Tegalsari pun kami tak berani karena Keluarga ku telah di asingkan oleh kepala desa kampung itu akibat Ayahku dituduh membunuh Rasti." Putri Ayu manggut-manggut mendengarkan nya dan ia langsung berkata,
"Kematian Ayah mu memang masih misteri, begitu pun dengan Rasti. Aku yakin ada orang yang melakukan Pembunuhan itu secara diam-diam." Rangkas menatap Putri Ayu dan bertanya,
"Apakah Rasti tak bercerita kepada mu soal orang yang membunuh nya..???"
__ADS_1
"Sudah, hanya saja aku tak tahu akan siapa orang dibalik selubung kain putih dikepala nya itu."
"Apa kau tahu soal mahluk penguasa gunung persik itu Nyai...???"
"Hmm seperti nya aku pernah bertemu dengan nya. Sosok nya mirip raksasa dan ia pernah menggoda ku ketika aku melakukan pertapaan ku dipuncak gunung persik itu."
"Lalu apakah sosok itu sangat jahat Nyai...? Sebab sosok itu sering muncul ketika ada kabut misterius dikampung Tegalsari dan aku pernah berjumpa dengan sosok itu dan hampir dibunuh nya." Putri Ayu pun mulai memerah wajah nya dan Rangkas bertanya,
"Mengapa wajah mu tiba-tiba memerah Nyai..???"
"Oh maaf, amarah ku terpancing jika kau dalam keadaan bahaya Rangkas. Tapi apa kau baik-baik saja waktu itu...???"
"Ibu ku yang menolong ku karena aku tak ingat lagi setelah aku melihat sosok tinggi besar itu."
"Hmm begitu rupa nya. Semenjak pisau pusaka ini ada ditangan Ayah mu kemudian beralih kepada mu, saat itu aku sudah tak bisa mendampingi mu lagi Rangkas."
Putri Ayu pun kemudian berjalan mendekati Rangkas dan duduk disampingnya.
"Sejak kau masih bayi, Aku selalu berada di sampingmu sampai kau dewasa. Hal itu aku lakukan hanya untuk menjaga mu dari segala marabahaya. Sebab kau adalah orang yang terpilih untuk membantu ku melawan musuh bebuyutan ku. Jika kau mati dalam usia muda karena ada yang mengincar mu dan mencelakakan mu, justru aku yang akan menderita nanti nya. Berkata pengawalan ku, sampai saat ini kau masih baik-baik saja Rangkas." Rangkas menatap Putri Ayu dan bertanya,
"Jadi selama ini kau selalu berada disamping ku?" Putri Ayu mengangguk dan menjawabnya,
"Ya aku adalah SOSOK KHODAM PENDAMPING Mu di saat kau masih bayi sampai anak-anak. Aku selalu berada disamping mu saat itu dan sering mengajak mu bermain dikala kau sedang sendiri dikamar mu. Tetapi setelah kau dewasa dan mewarisi pisau emas ini dari Ayah mu. Mulai saat itu aku selalu memantau mu dari kejauhan karena pengaruh energi pada pisau emas ini dapat menyerap separuh energi pada tubuh ku. Saat itu aku selalu berjaga jarak darimu hanya disaat kau sedang memegang pisau ini saja. Disaat kau sudah tertidur, seperti biasa aku akan menemani mu tidur sampai kau bangun pagi pada esok hari nya." Rangkas yang mendengarkan cerita Putri Ayu pun mulai merasakan malu pada diri nya.
__ADS_1
Rangkas sudah dewasa dan punya pemikiran lain soal wanita. Ia pun berkata seraya menunduk malu,
"Jadi kau sudah mengetahui apa yang ada pada tubuh ku ini Nyai..???"
"Tentu saja, Tanda lahir yang ada dipunggung mu pun aku tahu."
"Apa setiap aku mandi dan berganti pakaian kau selalu ada disamping ku?" Putri Ayu menatap Rangkas yang merasa malu itu dan Putri Ayu pun tertawa mengikik genit.
"Kau tak usah malu begitu Rangkas. Aku sudah tahu bentuk barang lelaki mu itu, lagi pula kau sudah aku anggap kekasih ku sendiri. xixixixi."
"Kekasih...???" Tanya Rangkas dan dahi nya mengerut tanda tak paham.
Putri Ayu masih mengikik geli dan kemudian berkata,
"Andai aku bisa hidup di dunia seperti mu, mungkin kau sudah aku jadikan suami ku Rangkas." Ucapan penuh makna itu di artikan oleh Rangkas sebagai candaan saja.
"Ada-ada saja kau Nyai, aku belum merasakan ada nya rasa tertarik terhadap seorang wanita. Aku hanya mencintai dan menyayangi ibu ku saja karena hanya dia yang aku miliki di dunia ini." Seketika Putri Ayu terharu akan ucapan Rangkas itu dan ia mengingat akan keadaan diri nya yang hidup sebatang kara.
"Kau masih beruntung karena masih mempunyai seorang ibu, Rangkas." Rangkas paham akan maksud ucapan Putri Ayu itu dan Rangkas berkata,
"Sudah kau tak perlu cemas dan sedih Nyai, Kau masih punya teman yaitu diriku ini." Ucap Rangkas sembari tersenyum dan Putri Ayu pun terharu langsung memeluk Rangkas.
Obrolan dari kedua nya pun telah selesai dan Putri Ayu segera teringat akan pembelajaran kedua Rangkas. Putri Ayu lalu menyuruh Rangkas untuk belajar cara mengendalikan Pisau Pusaka Yang ia pegang itu dan Rangkas pun akan melakukan nya dengan dibantu oleh Putri Ayu.
__ADS_1
...*...
...* *...