
PENGOBATAN Yang dilakukan oleh Putri Ayu itu cukup Efektif. Luka dalam itu dengan ajaib nya telah rapat kembali dan mulus seperti tak pernah ada luka di kedua tangan Rangkas itu. Putri Ayu berjongkok Karena Rangkas diperintahkan untuk duduk. Saat itu mata mereka berdua bertatapan dan ada debaran aneh dihari masing-masing.
Pangeran Dirgantara melihat dua orang itu saling menatap dan Pangeran Dirgantara segera mengusik mereka.
"Ekhemm!! Mau sampai kapan kita di sini?" Seketika Putri Ayu segera bangun dan begitu juga dengan Rangkas.
"Kemana kita sekarang kang???" Tanya Rangkas.
"Kemana lagi kalau bukan pergi ke Kerajaan Angkor Pura itu." Lalu Putri Ayu berkata,
"Sebaiknya kita harus cepat-cepat kesana, siapa tahu si Gandaria itu telah berperang dengan Prajurit nya si Raden Aji Sakro. Nanti kita akan ambil kesempatan membunuh mereka berdua jika mereka berdua lengah."
"Aku setuju dengan rencana mu itu Putri."
"Lalu aku akan mencari si Gundalini itu." Ucap Rangkas bersemangat dan kedua teman nya pun nampak bersemangat juga.
Kini ketiga orang itu sudah keluar dari dalam kuil pemujaan tersebut. Tapi Pangeran Dirgantara tak mau pergi begitu saja, ia berniat ingin menghancurkan kuil tersebut.
"Sebelum pergi, Aku akan menghancurkan kuil terkutuk ini!"
__ADS_1
"Aku akan membantu mu." Ujar Putri Ayu dan Rangkas pun tak mau menjadi penonton saja. Mereka bertiga mengeluarkan sinar tenaga dalam berbeda bentuk dan warna. Putri Ayu menyentakan telapak tangan kanan nya dan keluarlah sinar hijau tua sebesar kelereng melesat cepat ke arah kuil itu. Serangan Putri Ayu membuat atap kuil yang terbuat dari bebatuan itu hancur menjadi serbuk pasir.
Pangeran Dirgantara pun menunjukan telunjuk tangan kanan nya dan keluarlah sinar merah terang patah-patah seperti aliran listrik melesat cepat ke arah kuil wayangsa itu. Serangan Pangeran Dirgantara itu menyebabkan terbakar nya seluruh kuil sekte aliran sesat itu. Sedangkan Rangkas, ia sama sekali tak memiliki ilmu tenaga dalam sinar berwarna.
Ia hanya ingat ketika ia menyentakan kedua telapak tangan nya ke depan dan keluarlah serangan tenaga dalam tanpa sinar saat menghadang serangan Nyai Lalai waktu digua itu. Rangkas pun melakukan nya dan keluarlah inti tenaga dalam tak bisa dilihat wujud dan warna nya, tahu-tahu kuil itu langsung hancur meledak dan melemparkan puing-puing bangunan nya.
Pangeran Dirgantara terdiam dan matanya mendelik melihat bangun itu langsung hancur rata dengan tanah. Putri Ayu hanya tersenyum saja karena Rangkas sudah bisa menguasai ilmu yang sudah ia ajarkan itu.
"Hebat sekali serangan tenaga dalam mu itu Rangkas, walaupun tanpa sinar. Pengaruh ledakannya cukup membuat satu istana kerajaan hancur berkeping-keping. Aku yakin prajurit si Raden Aji Sakro itu akan langsung binasa jika kau arahkan serangan itu pada mereka."
"Aku masih tahap belajar Nyai. Hehehe." Rangkas merasa tersanjung dipuji seperti itu oleh Putri Ayu dan membuat Pangeran Dirgantara semakin panas hati nya karena merasa iri atas pujian itu.
Gandaria dan pasukan mayat nya itu melanjutkan perjalanan mereka lagi. Gandaria lalu mengacungkan tangan nya lagi ke atas, pertanda ia menyuruh pasukan nya untuk berhenti. Gandaria memejamkan mata nya lagi dan ia ingin melihat apa yang sudah terjadi kepada dua mayat itu.
"Tuan Pangeran kenapa Gun?" Tanya Samiri.
"Tanyakan saja pada nya langsung." Ujar Gundalini tak mau membahas tuan nya itu.
"Kurang ajar!! berani-beraninya mereka membunuh dua orang kesayangan mu itu!!" Samiri dan Gundalini saling tatap tak mengerti maksud ucapan dari Gandaria itu.
__ADS_1
Lalu Gandaria memutar tubuh nya ke belakang dan melihat ke arah dua anak buah nya yang tersisa itu.
"Dirgantara telah mengalahkan mayat istri dan guruku bersama dua penyusup nya Kerajaan Angkor Pura itu!! Ia datang ke kuil itu dan menghancurkan kuil tersebut setelah mengalahkan dua orang yang aku sayangi itu!! Ini tak bisa dibiarkan!! Aku harus segera kembali!!" Lalu langkah Gandaria segera dicegah oleh dua anak buah nya itu.
"Tuan perjalanan kita sebentar lagi sampai, jika tuan kembali pergi ke kuil Wayangsa, yang ada nanti para pasukan ini akan cepat hancur tubuh nya." Ujar Gundalini yang paham soal daya tahan tubuh mayat itu.
"Benar kata Gundalini Tuan Pangeran, perjalanan kita sebentar lagi tiba. Lagipula dua orang itu adalah mayat dan tuan pun membalaskan dendam untuk mereka bukan? Ada baik nya kita hancurkan saja istana kerajaan itu beserta istana nya." Ujar Samiri dan Gundalini pun menimpali.
"Benar tuanku, kalau bisa kita rebut istana itu untuk nanti dijadikan tempat baru untuk tuan Pangeran. Wanita didunia ini tak hanya satu tuanku, jika tuanku sudah menjadi raja di istana itu. Tuanku akan bebas memiliki selir sebanyak apapun yang tuan mau." Gandaria pun merasa membenarkan ucapan kedua anak buah nya itu.
"Kalian berdua benar, untuk apa aku kembali kesana hanya untuk mengorbankan dua orang mayat itu. Aku masih hidup dan masih banyak wanita lain yang ingin aku jadikan istri atau selir. Hahaha kalau begitu kita lanjutkan perjalanan kita ini dan kita harus menang dalam peperangan ini!"
"Baik tuan pangeran!!" Tegas Gundalini dan Samiri bersamaan.
Kini mereka lanjut berjalan lagi dan para Mayat berjumlah hampir seribu pasukan mayat itu beriringan mengikuti arah Gandaria berjalan. Ditempat Gandaria berjalan, ia melihat menara tinggi kerajaan Angkor Pura dan ia pun melihat ada dua penjaga yang melihat rombongan pasukan mayat itu. Gandaria segera mempercepat langkah nya sambil berteriak,
"Kita akan segera MEMULAI PEPERANGAN Nya! Kerahkan semua ilmu yang kalian miliki dan habisi semua pasukan prajurit kerajaan itu!!"
"Grawhhhhh...." Teriak semua para prajurit mayat itu bersemangat dan nampak mengerikan. Para mayat itu semua nya tak membawa senjata tajam seperti para prajurit ketika akan berperang. Para mayat itu hanya dibekali kuku-kuku yang tajam dan ilmu tenaga dalam sinar. Lalu gerakan silat sudah mereka kuasai karena Gandaria telah menyusupkan sedikit ilmu nya kepada para mayat itu.
__ADS_1
Pangeran Dirgantara, Putri Ayu dan juga Rangkas kini melanjutkan perjalanan mereka lagi. Arah yang mereka tuju adalah jalur cepat menuju Kerajaan Angkor Pura. Pangeran Dirgantara lah yang tahu jalan tembus itu karena ia sering di utus untuk memata-matai pergerakan kerajaan itu. Jalan yang mereka tempuh harus melewati portal perpindahan dimensi lagi karena dimensi kerajaan Angkor Pura lebih tinggi di atas dimensi yang saat ini mereka masuki.
Rangkas hanya mengikuti Pangeran Dirgantara dan juga Putri Ayu dari belakang saja karena ia tak mau menjadi jarak penengah diantara mereka berdua. Putri Ayu merasa tak enak hati dan ingin berjalan beriringan dengan Rangkas, namun ia pun merasa tak enak hati juga kepada Pangeran Dirgantara itu. Sebab yang pasti nanti akan menjadi pendamping hidup nya bukan Rangkas, melainkan Pangeran Dirgantara.