TerSesat

TerSesat
DUKUN SESAT


__ADS_3

SUASANA Damai di sore menjelang malam itu membuat para warga kampung Tegalsari ramai memperbincangkan soal kepala Ranti yang ditemukan masih utuh itu oleh Rangkas. Mereka perlahan mulai membuang rasa benci dan acuh mereka terhadap Rangkas dan juga ibu nya. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang sering julid dan suka menggosip.


Bapak-bapak dan para pemuda warga kampung tegalsari beramai-ramai menuju ke rumah nya Gundalini yang berada di paling belakang kampung. Rumah itu menyendiri dan berada didekat pohon rumpun bambu yang lebat dan gelap. Rangkas dan ibu nya ikut menyaksikan ketika Rumah Gundalini diserbu oleh para warga kampung Tegalsari. Para anggota polisi segera mendobrak rumah itu karena rumah itu tetap terkunci dari dalam. Gundalini tak ditemukan ketika rumah itu didobrak, tapi ada banyak keanehan didalam rumah berdinding bilik bambu itu.


Disana banyak ditemukan nya tengkorak kepala manusia berbagai bentuk mulai dari yang kecil hingga yang besar. Kepala tengkorak manusia itu tersusun rapi didinding rumah itu dan semua nya berjumlah delapan tengkorak. Semua anggota kepolisian segera mengeledah seisi ruangan rumah itu dan tak ditemukan hal aneh lagi selain alat-alat perdukunan dan lambang iluminati di kamar tempat tidur nya Gundalini.


Dikamar itu ada kain dengan lambang iluminati dari goresan darah manusia dan menempel didinding kamar itu. Mereka sudah pasti meyakinkan bahwa Gundalini adalah salah satu orang yang menjadi dalang pembunuhan Ranti dan juga para warga lain nya yang menjadi korban pembunuhan.


Putri Ayu dan Pengeran Dirgantara ikut dalam kerumunan tersebut dan mereka sedang berada di dalam kamar nya Gundalini bersama Rangkas. Pak Ketua polisi memanggil Rangkas untuk melihat lambang iluminati dalam kain mori berwarna merah darah itu.


"Apakah lambang simbol ini yang kau maksud kan itu Rangkas.?"


"Iya benar Pak, lambang simbol ini adalah ciri dari Sekte Aliran Sesat itu dan Ki Gundalini adalah salah satu dari anggota nya."

__ADS_1


"Hmm begitu, jadi sekarang dia sedang ada di alam gaib begitu?"


"Benar Pak, tapi menurut saya sangat sulit untuk menangkap DUKUN SESAT Itu. Sebab ia bisa saja bersembunyi di alam gaib untuk waktu yang sangat lama, sebab ia memiliki kemampuan bisa keluar masuk alam gaib."


"Kalau begitu, apa teman gaib mu itu bisa membantu mu menangkap si penjahat itu Rangkas?" Tanya Pak Ketua Polisi dan Rangkas langsung menatap ke arah samping nya yang disana ada dua rekan nya yang ikut dalam obrolan tersebut.


"Bagaimana Nyai? Apa kau mau membantu ku menangkap si Dukun Sesat itu???" Pak Ketua Polisi dan beberapa anggota nya melihat Rangkas dengan kagum karena Rangkas sudah termasuk orang yang sakti karena bisa berinteraksi dengan mahkluk gaib serta bisa melihat wujud nya juga.


Putri Ayu pun menjawab nya bahwa ia dengan siap selalu akan membantu Rangkas menangkap penjahat itu. Pangeran Dirgantara pun tak keberatan akan soal itu, kemudian Rangkas pun berkata bahwa teman gaib nya itu bersedia membantu nya. Kini mereka segera keluar dari dalam rumah itu untuk pergi ke rumah nya Pak Kepala Desa. Rumah Gundalini pun langsung dibakar oleh warga atas izin Pak Ketua Polisi dan Pak Kepala Desa.


Rangkas dan ibu nya menyaksikan kesedihan keluarga besar itu dan Pak Kepala Desa segera mendekati Rangkas dan juga ibu nya. Pak Kepala Desa bersujud meminta maaf atas tuduhan nya kepada Rusdi, Ayah nya Rangkas yang sudah tiada itu. Suminah dan Rangkas pun memaafkan Pak Kepala Desa itu dan kini nama keluarga Rusdi sudah bersih terbebas dari tuduhan pembunuhan itu. Para warga yang dulu mengolok-olok keluarga Rusdi dan memfitnah dengan tuduhan itu pun semua nya meminta maaf kepada Suminah dan juga Rangkas.


Kini Suminah dan Rangkas sudah di izinkan untuk tinggal dikampung Tegalsari lagi, Namun Suminah menolak nya karena ia sudah nyaman tinggal dirumah nya yang sekarang. Pak Kades pun tak memaksa kehendak nya Suminah itu dan kemudian Rangkas melihat ada Arwah Ranti didekat nya.

__ADS_1


'Terima kasih kau sudah menolong ku Rangkas, sekarang arwah ku sudah tenang tak penasaran lagi seperti sebelumnya. Aku sangat berterima kasih banyak padamu Rangkas.' Setelah Ranti berkata begitu, tiba-tiba saja arwah Ranti menghilang untuk selama-lamanya.


Rangkas baru saja ingin berkata, tapi ucapan nya tak jadi ia lontarkan karena Arwah Ranti sudah menghilang.


'Arwah anak gadis itu sudah tenang sekarang karena urusan nya di dunia sudah selesai. Kini ia sudah kembali berada di alam kelanggengan.' Orang yang berkata begitu adalah Putri Ayu yang berada di dekat nya dan Rangkas hanya menganggukan kepala saja.


Kini kepala Ranti sudah dimakamkan dan situasi di kampung Tegalsari sudah sepi kembali, sebab para warga sudah pulang masing-masing ke rumah nya dan Pak Ketua Polisi bersama anak buah nya sudah pulang kembali ke kantor polisi.


Kini apa yang telah dibebankan oleh Pak Kepala Desa kepada Rangkas untuk mencari dalang pembunuhan anak nya itu telah rampung dan tuntutan seumur hidup itu sudah dicabut oleh Pak Kades dan Pak Kepala Polisi sebagai saksi nya. Kini tugas terakhir Rangkas dari Pak Kades adalah untuk menangkap Gundalini baik itu hidup maupun sudah mati. Rangkas tak keberatan soal itu, Namun Suminah mengkhawatirkan keselamatan Rangkas.


"Tak usah khawatir Mak, Rangkas akan baik-baik saja selama ada teman Rangkas yang membantu."


"Tetap saja Emak mengkhawatirkan mu Nak. Sebagai seorang ibu, wajar saja Emak khawatir begitu." Rangkas pun terharu mendengar nya dan ia lalu menitikan air mata nya. Rangkas dan ibu nya sudah ada dirumah dan mereka sedang mengobrolkan permasalahan itu diruangan meja makan.

__ADS_1


Ketika mereka memperbincangkan persoalan itu tiba-tiba saja tengkorak kepala kambing yang berada di atas pintu dapur itu jatuh dan hancur menjadi serpihan-serpihan tulang halus. Rangkas dan ibu nya tersentak kaget, begitu juga dengan Putri Ayu dan juga Pangeran Dirgantara yang pada saat itu sedang ada dikamar nya Rangkas. Mereka berdua berada dikamar Rangkas itu sedang mengobrolkan persoalan hati dan perasaan mereka.


Rangkas hanya tahu dua teman nya itu sedang mengobrolkan rencana penangkapan Gundalini, tapi diluar dugaan Rangkas dua teman nya itu sedang berpelukan dan berciuman mesra. Jatuh nya tengkorak kepala kambing itu membuat konsentrasi Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara yang sedang dimabuk asmara itu tiba-tiba saja buyar begitu saja.


__ADS_2