
KEMUDIAN Pangeran Dirgantara pun menjelaskan siapa saja anak buah Gandaria yang memiliki peran penting di dalam kelompok sekte aliran sesat nya si Gandaria itu.
"Para warga kampung ini adalah salah satu anggota yang paling rendah, karena mereka tak punya keahlian khusus dan cenderung mudah terpengaruh ucapan Gandaria. Pakaian mereka tak dibuat khusus karena hanya untuk mengecoh para penyusup seperti kalian berdua ini." Rangkas dan Putri Ayu manggut-manggut mendengarkan nya.
Kemudian Pangeran Dirgantara pun melanjutkan ucapan nya lagi.
"Lalu para penjaga perbatasan gerbang disetiap kampung ini ada yang menjaga nya. Mereka adalah Siluman-siluman yang memiliki kekuatan lumayan yang diantara nya adalah Rokani, si Mahkluk berbulu hitam mirip Genderuwo yang menjaga gerbang utama dari alam manusia menuju alam siluman."
"Maksud mu mahkluk yang menjaga pohon beringin itu?" Tanya Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara mengangguk membenarkan.
"Kemudian ada siluman kadal yang menjaga gua gelap itu, disana tugas nya hanya menyesatkan orang yang masuk ke dalam gua itu. Bagi sebagian orang yang memiliki ilmu gaib, dia pasti bisa melihat keadaan di dalam gua gelap itu dan mungkin bertarung dengan nya. Tapi kalau orang awam yang terjebak masuk ke dalam gua itu, mustahil bagi nya untuk selamat karena Siluman kadal itu diperintahkan untuk membuat manusia apes itu sekarat. Setelah sekarat manusia itu akan dibawa ke Kuil Wayangsa untuk dibunuh dan dipersembahkan darah nya kepada Raja Iblis. Nanti setelah itu raga tubuh nya dibuang kembali ke alam manusia dan kepala nya digantung di atas langit-langit kuil itu."
"Aku juga hampir saja mati oleh Siluman kadal itu jika tak segera menyerang nya dengan panah ku. Tapi sayang, anak panah ku telah hilang."
"Mungkin anak panah ini maksud mu?" Ucap Pangeran Dirgantara dan Rangkas menatap tangan Pangeran Dirgantara yang mengambil anak panah beserta busur nya yang tersimpan di punggung nya.
"Iya itu busur panahku! Darimana kau menemukan nya kang?" Tanya Rangkas kegirangan ketika anak panah dan busur nya itu diberikan kepada nya.
Putri Ayu tersenyum melihat Rangkas senang seperti itu,
"Mengapa kau senang sekali Rangkas? Apa anak panah dan busur itu istimewa bagimu?"
"Busur panah dari kayu ini sangat istimewa bagiku Nyai, ini adalah busur panah pemberian Bapak ku yang telah tiada. Aku merasa bersalah jika aku menghilangkan busur panah ini karena aku sudah berjanji untuk menjaga peninggalan Bapak ku ini."
"Hmm begitu rupa nya." Ujar Putri Ayu manggut-manggut.
Kemudian Pangeran Dirgantara berkata,
"Ku temukan busur panah dan anak panah nya itu berada di jalanan pemakaman yang ada di depan Kuil Wayangsa. Mungkin terjatuh ketika kau dibawa terbang oleh si Lodhaya itu."
"Iya sepertinya Kang, terimakasih banyak kalau begitu." Ujar Rangkas yang kini sudah membuang rasa curiga nya terhadap Pangeran Dirgantara.
Pangeran Dirgantara hanya mengangguk saja sambil tersenyum dan Putri Ayu melihat senyuman manis itu. Kedua pipi nya semburat merah karena Putri Ayu terpesona melihat senyum mahal nya lelaki tampan itu. Kemudian Pangeran Dirgantara berkata meneruskan ucapan nya lagi soal anak buah ketua Sekte Aliran Sesat itu.
__ADS_1
"Disetiap kampung ada yang menjadi ketua nya dan mereka yang bertugas mengatur keamanan dikampung itu. Seperti orang yang kepala nya ditutup kain dan membawa senjata gergaji mesin, lalu Siluman banteng dan siluman laba-laba. Masih banyak juga yang lain nya, tapi kebanyakan dari mereka sudah mati ditangan Gandaria sendiri."
"Mengapa Gandaria membunuh mereka?"
"Karena mereka sudah di atur!" Putri Ayu pun manggut-manggut mendengarkan nya. Kemudian Pangeran Dirgantara melanjutkan ucapannya,
"Anggota sekte aliran sesat yang berilmu sedang adalah yang memakai jubah kuning kusam. Tugas Mereka hanya menjadi pelayan, penjaga penjara bawah tanah dan penjaga Kuil Wayangsa saja. Kemudian yang memakai jubah hitam yaitu seperti si Lodhaya dan si Gundalini, ilmu mereka cukup lumayan dan pantas berada di dekat tuan mereka si Gandaria itu."
"Gundalini!? Sepertinya aku ingat akan nama itu." Ujar Rangkas.
"Kau tahu dimana Rangkas?" Tanya Putri Ayu penasaran.
"Entahlah aku lupa, sudah lanjutkan ucapan mu itu kang." Pangeran Dirgantara pun melanjutkan ucapannya lagi.
"Lalu yang memakai jubah putih seperti ku ini, ilmu mereka cukup tinggi dan aku berada di jajaran tersebut. Dulu banyak anak buah Gandaria yang memakai jubah putih, tapi sayang mereka banyak yang mati ketika mengadakan pertemuan dipuncak gunung persik itu." Seketika Rangkas kaget lagi dan bertanya,
"Mungkinkah orang-orang yang berpakaian serba putih itu benar ada nya? Sebab Bapak ku pernah melihat mereka sedang berkumpul di puncak gunung persik kala ia mengejar buruan nya."
"Hmm jadi Bapak mu pernah melihat mereka? Pantas mereka banyak yang mati ketika ada nya pemberontakan dari sekutu. Sebab Gandaria wanti-wanti kepada anak buah nya itu agar jangan sampai mereka terlihat oleh manusia. Sekarang aku sudah paham mengapa ilmu mereka tak berguna sama sekali ketika melawan orang-orang yang berkhianat itu."
"Ada satu kelompok yang ingin bergabung ke dalam kelompok nya si Gandaria. Tapi Gandaria menyuruh anak buah nya yang berjumlah sepuluh itu untuk menghadiri pertemuan tersebut. Ternyata setelah mereka menerima syarat yang sulit untuk masuk ke dalam kelompok nya si Gandaria, kelompok itu murka dan menyerang hingga menewaskan sepuluh orang anak buah nya si Gandaria itu."
"Hmm begitu rupa nya." Ujar Putri Ayu manggut-manggut.
"Sekarang hanya tersisa aku saja dan Gundalini yang masih hidup. sebab Yodha, Lodhaya dan Karsani sudah mati."
"Lalu bagaimana jika si Gandaria itu tahu bahwa kau telah bersekongkol dengan ku dan berkhianat pada nya?"
"Aku sudah siap menerima akibat nya dan aku sama sekali tak takut kepada nya."
"Baguslah jika begitu." Ujar Putri Ayu, lalu Pangeran Dirgantara bertanya.
"Kita sekarang mau pergi kemana lagi? Tak ada jalan keluar kalau kita pergi mengarah ke gerbang sana." Lalu Rangkas menyahut.
__ADS_1
"Digerbang sana hanya ada satu rumah dan aku dikeroyok oleh orang-orang disana kang. Tapi aku berhasil selamat dan membunuh orang-orang yang menyerangku itu."
"Kalau begitu, kita langsung pergi ke alam manusia saja." Ujar Putri Ayu segera ingat akan portal menuju alam manusia yang pernah ia singgahi itu.
Pangeran Dirgantara berkerut dahi sambil bertanya,
"Mustahil bagi kita untuk pergi ke alam manusia, sebab di dimensi alam Siluman ini sipat nya tak bisa keluar masuk dengan mudah. Kita perlu pergi ke gerbang utama yaitu pergi ke tempat nya Siluman kadal itu berada."
"Siluman kadal itu sudah mati kang, lalu jalan menuju kesana pun sudah tertutup oleh runtuh nya langit-langit gua."
"Benarkah? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Pangeran Dirgantara.
"Ketika aku berhasil membunuh siluman kadal itu, aku pergi ke jalur lorong tengah dan jalan nya tangga menurun. Sepertinya yang sudah aku ceritakan, aku melihat penjaga ruangan itu sedang berhubungan badan. Disana aku ketahuan dan akhirnya aku melawan mereka berdua. Pertarungan kami tak lama, hanya mengandalkan pisau Ranca Cula saja mereka sudah kewalahan dan hampir mati. Tapi perempuan berwajah kelalawar itu marah besar dan menyerang ku dengan ilmu tenaga dalam sinar dan aku menghadang nya dengan ilmu tenaga dalam yang aku punya. Dua sinar itu bertabrakan dan mengakibatkan hancur nya dua siluman itu, aku hanya terluka di bagian punggung saja. Dengan susah payah aku keluar dari ruangan itu dan aku berhasil keluar setelah ruangan itu sepenuhnya tertimbun batu-batu langit-langit gua itu." Cerita Rangkas itu membuat Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara manggut-manggut.
Kemudian Pangeran Dirgantara berkata,
"Kalau begitu, satu-satunya jalan untuk bisa keluar kita harus kembali ke kuil Wayangsa itu. Tapi resikonya sangat besar."
"Tidak perlu kesana lagi! Masih ada jalan keluar untuk keluar dari dimensi alam ini!" Tegas Putri Ayu dan Putri Ayu berkata.
"Ayo ikuti aku." Rangkas dan Pangeran Dirgantara pun mengikuti Putri dari belakang hingga tiba di dekat pohon tak terlalu besar.
Dibatang pohon sana ada kepala tengkorak kambing yang ditengah kepala nya ada lambang simbol Illuminati.
"Inikan!?" Sentak Rangkas kaget.
"Iya ini mirip dengan tengkorak kepala kambing yang ada di rumah mu Rangkas."
"Tapi beda nya, yang dirumah ku tak ada tanda simbol nya."
"Aku juga tak mengerti soal itu, sebab ketika aku ingin mencari mu. Aku merasakan energi Pusaka Pisau Ranca Cula melekat kuat di kepala tengkorak kambing ini. Maka aku pun bisa masuk ke dalam dimensi ini hanya mengandalkan petunjuk pisau itu saja."
"Baiklah jika begitu, ayo kita segera keluar dari dimensi ini sebelum ada anak buah si Gandaria lain nya yang melihat kita." Putri Ayu mengangguk dan ia segera menggunakan ILMU PERPINDAHAN DIMENSI Nya itu.
__ADS_1
...*...
...* *...