
PUTRI Ayu Mengerti apa yang dikatakan oleh orang berpakaian serba tertutup itu bahwasanya ia adalah salah satu anggota dari Sekte Aliran Sesat yang diketuai oleh Gandaria sebagai Raja atau Pangeran di Kuil Wayangsa itu.
Putri Ayu pun sudah tak penasaran lagi soal pembunuhan berencana kepada manusia-manusia yang tak bersalah itu. Obrolan mereka berdua masih berlanjut dan Putri Ayu kini mengalihkan pembicaraan soal jati diri lelaki berpakaian serba putih itu.
"Terimakasih kau sudah membocorkan rahasia sekelompok orang-orang sesat pencari tumbal itu. Lalu apa aku boleh mengetahui siapa jati diri mu sebenarnya?"
"Apa itu perlu...???" Tanya lelaki itu lagi.
"Aku tak memaksa mu untuk mengungkapkan nya, tapi jika kau tak keberatan untuk bergabung dan bersekutu dengan ku untuk membalaskan dendam mu kepada Raden Aji Sakro itu. Aku rasa kau wajib menceritakan soal asal-usul mu agar tak ada salah paham lagi di antara kita." Ucap Putri Ayu sambil menyodorkan tangan nya untuk mengajak lelaki itu bersalaman tanda persahabatan.
Lelaki itu terdiam dan hati nya mulai tertarik akan ajakan secara halus dari Putri Ayu itu.
"Baiklah tak ada pilihan lain untuk ku selain menerima tawaran mu, karena ku yakin kau memiliki ilmu yang cukup tinggi." Ucap Lelaki itu menyanjung Putri Ayu dan kemudian ia meneruskan ucapan nya lagi.
"Aku hidup sebatang kara dan hidup ku hancur gara-gara penyerangan yang dilakukan prajurit kerajaan Angkor Pura dan menewaskan banyak prajurit ayahku, keluarga ku dan juga kekasih ku!" Orang itu menunduk sedih dan mata nya memerah menahan tangis dan amarah.
Genggaman nya semakin kuat dan pedang yang ia pegang pun bergetar. Putri Ayu sudah siap siaga dan waspada jika orang itu tiba-tiba menyerang nya karena Putri Ayu merasa dirinya masih dituduh termasuk orang nya Raden Aji Sakro oleh lelaki itu.
"Kita senasib, karena aku pun termasuk korban nya si Raden Aji Sakro itu." Orang itu menatap wajah Putri Ayu yang cantik jelita itu.
"Aku adalah mantan kekasihnya Raden Aji Sakro dan Ia telah tega merebut kekuasaan kerajaan Ayah ku dan membunuh semua sanak keluarga ku bersama seisi istana kerajaan Angkor Pura. Kerajaan Angkor Pura adalah milik Ayah ku yang bernama Raden Swaladipa Yogya." Putri Ayu tak sadar telah menceritakan soal dirinya dahulu sebelum lelaki itu menceritakan soal asal-usul nya.
Tapi tanggapan dari lelaki itu biasa saja dan ia mengerutkan dahi nya.
__ADS_1
"Sepertinya aku pernah mendengar nama ayah mu itu, sebab nama itu pernah disebut oleh Ayah ku dulu."
"Benarkah!? Jadi Ayah mu mengenal Ayah ku juga?" Tanya Putri Ayu penasaran.
"Sepertinya dulu mereka saling mengenal dan bersahabat, tapi itu dulu sebelum Ayah mu berkata bahwa anak perempuan nya itu lebih tertarik dengan lelaki lain dibanding dengan perjodohan itu. Setelah itu hubungan Ayah ku dan Ayah mu menjadi renggang." Putri Ayu nampak terheran-heran dengan ucapan lelaki yang belum jelas wajah nya itu tampan atau jelek.
"Maksud mu anak perempuan nya Ayah ku dijodohkan dengan lelaki lain?"
"Iya, aku tak tahu wajah nya tapi aku tahu nama nya."
"Coba sebutkan nama nya, aku ingin mendengar nya darimu."
"Apa itu penting? Bagiku itu hanyalah harapan semu saja."
Putri Ayu masih menunggu jawaban dari lelaki itu dan lelaki itu menjawab nya setelah ia memasukan pedang nya ke dalam sarung nya.
"Nama nya Putri Ayu Candraningsih." Seketika Putri Ayu terkejut dan mata nya mendelik ke arah wajah lelaki itu.
"Mengapa kau terkejut seperti itu?"
"Aku terkejut karena itu adalah namaku!"
"Ahhh tak mungkin itu nama mu, mungkin itu nama kakak perempuan mu."
__ADS_1
"Sumpah itu nama ku! Nama kakak perempuan ku adalah Putri Larista Setyadiningrum. Saudara perempuan ku hanya satu saja dan sisa nya laki-laki."
"Jadi kau lah orang nya yang gagal dijodohkan dengan ku oleh Ayah mu itu."
"Mungkin saja, tapi aku tak tahu soal perjodohan ku dengan seorang anak dari kerajaan Salawesi."
"Perjodohan itu di adakan secara diam-diam, aku pun baru mengetahui nya setelah Ayahku mengadakan pertemuan dengan Ayah mu di suatu tempat. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Ayah mu maupun anak perempuan nya yang akan di jodohkan dengan ku itu."
"Akulah orang nya yang akan dijodohkan oleh Ayah ku waktu itu..., tapi..." Putri Ayu menatap wajah lelaki itu sambil berkata lagi,
"Semua ini memang salah ku, dulu Ayah ku pernah berkata bahwa aku akan dijodohkan oleh anak dari teman nya itu. Tapi aku menolak perjodohan itu, sebab aku kala itu sedang kasmaran terhadap seorang lelaki tampan yang bernama Raden Aji Sakro itu. Aku tertarik karena ketampanan nya itu dan aku tak berpikir buruk soal hubungan ku dengan nya ke depan nya. Setelah kami memutuskan untuk menikah, ternyata itu hanyalah kedok Raden Aji Sakro saja untuk mendekati ku karena ia berniat ingin menguasai kerajaan Ayah dan membunuh ku bersama keluarga ku. Hanya aku yang selamat karena Ayahku yang menyelamatkan ku sebelum akhirnya Ayah ku tewas ditangan si Lelaki brengsek itu!" Mata Putri Ayu sudah sembab oleh Air mata karena ia teringat lagi soal kematian Ayah nya tepat didepan mata nya.
Lelaki itu pun merasakan apa yang dikatakan oleh Putri Ayu itu, sebab ia pun korban nya Raden Aji Sakro karena pembantaian yang dilakukan Raden Aji Sakro dulu. Putri Ayu mengusap air mata nya sambil berkata,
"Ternyata apa yang aku harapkan itu malah berujung petaka. Ayahku sebenarnya melarang mu berhubungan dengan Raden Aji Sakro karena Ayah ku dulu adalah musuh kakek buyut nya Raden Aji Sakro. Ayah Raden Aji Sakro sama sekali tak mempunyai dendam terhadap Ayah ku, karena mereka baru saja kenal ketika Aku dan Aji Sakro bertandang ke kerajaan masing-masing." Lelaki itu hanya manggut-manggut saja mendengarkan KISAH MASA LALU Dari Putri Ayu itu.
Putri Ayu lalu bertanya kepada lelaki yang ada dihadapan nya itu.
"Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?" Lelaki itu pun lalu membuka tali pengikat dibelakang leher nya dan kemudian membuka kain penutup kepala nya itu sambil menyebutkan nama nya.
"Namaku Pangeran Dirgantara Pangestu Agung. Aku adalah penerus tahta terakhir dari kerajaan Salawesi yang kini sudah dikuasai oleh si Aji Sakro itu." Mata Putri Ayu tak berkedip ketika lelaki itu membuka kain penutup kepala nya dan Putri Ayu pun membatin.
'Gilak! Lebih tampan orang ini daripada si Raden Aji Sakro itu! Menyesal aku dulu karena telah menolak perjodohan itu!' Putri Ayu langsung membuang pandangan mata nya ke samping karena ia tak tahan berlama-lama menatap bola mata lelaki tampan itu.
__ADS_1