TerSesat

TerSesat
RAJA KEJAM


__ADS_3

RANGKAS Memasang kuda-kuda dengan kaki merendah. Pisau pendek nya itu sudah menjadi pusaka tombak maut dan siap untuk dipakai melawan dua lawan nya itu. Dua lawan nya itu memutari tubuh Rangkas dan Rangkas menatap ke arah kiri dan kanan musuh nya itu.


"Heaahhh!!" Teriak salah satu lawan nya Rangkas itu dan Rangkas segera menangkis tebasan pedang itu memakai tombak nya.


Trank!! Trank!! Hanya dia kalo tangkisan pedang lawan nya langsung patah menjadi tiga bagian.


Satu lawan yang masih memegang pedang pun lalu menghujamkan ujung pedang nya itu ke arah perut Rangkas. Rangkas lalu menepis nya dengan tombak pusaka itu dan kemudian memukul tubuh lawan nya itu dengan gagang tombak.


"Heggg!!" Lawan yang terkena sodokan ujung tumpul nya tombak pusaka itu mendelik matanya karena ulu hati nya disodok begitu kencang.


Lawan yang ada di belakang Rangkas segera kabur ke arah pusat kerajaan Angkor Pura yang masih agak jauh jarak nya dari alun-alun itu. Rangkas membiarkan orang itu kabur dan lawan yang ada didepan Rangkas rubuh dan memuntahkan darah segar. Rangkas membiarkan prajurit itu dan ia pergi ke arah hutan yang dimana ia melihat Gundalini pergi. Tapi ia dihadang lagi oleh sekumpulan mayat hidup yang sedang asyik menyantap tubuh lawan nya itu.


Serangan para mayat itu begitu lambat, tapi Rangkas dibuat kaget karena tiba-tiba saja para mayat itu menyerang memakai ilmu tenaga dalam sinar. Rangkas menghindari nya dengan cara berjungkir balik ke samping. Pasukan mayat hidup itu ada lima orang dan Rangkas harus bisa mengalahkan kelima mayat hidup itu jika ia ingin pergi ke arah hutan seberang nya.


Pangeran Dirgantara dan Putri Ayu berhasil menumbangkan seluruh pasukan mayat nya si Gandaria itu. Dada kedua nya nampak naik turun dan napas mereka bagai susah di hirup. Mereka melawan puluhan pasukan mayat yang tersisa dikampung tersebut. Mereka berdua agak kewalahan karena para mayat itu memiliki ilmu-ilmu tenaga dalam sinar dan gerakan silat yang liar.


Kipas Dewi Murka dan pusaka pedang milik Pangeran Dirgantara pun terpaksa dipakai untuk mempercepat mengalahkan para lawan-lawannya mereka itu. Kini mereka berdua segera berjalan lagi menyusuri jalanan kampung yang rumah-rumah nya itu sudah hancur terbakar dan porak poranda bagai ada gempa ditempat itu.

__ADS_1


Kebanyakan para pasukan mayat lain nya menyerang kerajaan Angkor Pura karena mengejar sisa prajurit yang berlarian kesana. Gandaria berhasil membunuh ketua pasukan khusus itu dengan tangan nya sendiri dan dada pasukan khusus itu jebol dari depan tembus ke belakang. Gandaria menusukan tangan besar nya itu dengan cepat ke arah dada kiri tepat di bagian jantung lawan nya hingga menembus ke punggung. Gerakan serba cepat itu membuat ketua pasukan khusus itu tak bisa menghindari nya.


Kini Gandaria sudah membuka gerbang istana itu dengan tangan nya sendiri. Di dalam istana itu ada banyak prajurit yang bersenjatakan pedang dan dibelakang Gandaria masih ada banyak pasukan mayat nya yang sudah siap tempur. Saat itu ada seseorang yang turun dari atas istana dengan cara melayang.


Terdengar suara orang itu berkata kepada Gandaria,


"Apa mau mu itu sebenarnya Gandaria!? Bukankah kau sudah menyerah dihadapan ku!?"


"Aku cabut kembali kata-kata ku itu!! Sekarang kau yang harus nya menyerah dihadapan mu bajingan busuk!!" Mata Gandaria melotot besar menatap ke arah seorang lelaki yang tak lain adalah Raden Aji Sakro.


Sang RAJA KEJAM Yang hobi nya membantai suatu tempat untuk ia rampas harta benda nya itu kini telah menapakan kaki nya ditanah. Penampilan Raden Aji Sakro sangat rapi dan terlihat bersih. Wajah nya tampan dan berkualit sawo matang, ada kumis tipis dan jambang. Rambutnya panjang di ikat seperti di konde dan ia menyandang pedang panjang dipunggung nya.


"Sekarang sudah saat nya kau mati ditangan ku Aji Sakro! Heaahh!!" Gandaria segera menyerang Raden Aji Sakro dengan serangan tenaga dalam sinar berwarna hijau sebesar jeruk Bali.


Raden Aji Sakro pun mengadu nya dengan sinar tenaga dalam milik nya. Sinar itu berwarna coklat tua dan keluar dari mata kiri nya dan hanya sebesar kelereng saja. Dua sinar itu beradu dan terjadilah ledakan keras membahana menggema kemana-mana.


Blegarrrrrrrr!! Tanah bagai dilanda gempa dan tubuh semua pasukan dari kedua nya pun nampak oleng. Angin kencang berhembus dan menerbangkan apa saja yang ada didekat ledakan tadi. Jarak Gandaria dan Raden Aji Sakro cukup jauh dan ledakan keras tadi ada ditengah jarak mereka.

__ADS_1


Kedua nya masih berdiri kokoh dan setelah angin ledakan itu mereda, Raden Aji Sakro terbang melesat ke atas benteng gerbang istana itu. Gandaria segera berseru keras kepada masukan mayat nya karena pasukan lawan nya sudah bergerak untuk menyerbu.


"Hancurkan kerajaan itu beserta prajurit si brengsek itu pasukan mayatku!!"


"grrauwww!!" Semua pasukan mayat itu menyerbu masuk ke dalam gerbang istana itu dan pertarungan antar pasukan pun terjadi lagi. Gandaria meloncat tinggi hingga ada di atas benteng yang datar dan disana sudah ada Raden Aji Sakro yang berdiri menghadap ke arah nya.


"jangan harap kau bisa lari jahanam!!" Lalu Gandaria segera mencabut cambuk pusaka nya itu.


Raden Aji Sakro menyunggingkan senyum sinis nya seraya berkata.


"Daripada kau ingin membalaskan dendam padaku, ada baik nya kau membantu ku Gandaria." Gandaria terdiam mendengar Raden Aji Sakro berkata seperti itu pada nya.


"Jangan banyak omong kau Aji Sakro! Lawan aku dan tentukan siapa raja terkuat di alam ini!"


"Kau akan mati jika melawan ku!"


"Jahanam kau! Kau pikir aku takut padamu brengsek!" Lalu Gandaria segera melecutkan cambuk pusaka nya itu ke arah tubuh Raden Aji Sakro.

__ADS_1


Raden Aji Sakro masih berdiri pada tempat nya dan ia langsung menangkap ujung tali cambuk itu dengan cepat. Mata Gandaria mendelik dibuat nya karena baru kali ini ada yang mampu menghentikan pecutan cambuk pusaka nya yang terbilang sangat cepat itu. Raden Aji Sakro lalu meremas tali cambuk itu dan Gandaria merasakan tangan nya ngilu. Ia pun segera menarik cambuk pusaka nya itu dan kemudian menghentakkan kepalan tangan nya ke arah Raden Aji Sakro.


Sinar merah menyala sebesar bola mata nya itu menyerang ke arah Raden Aji Sakro dan Raden Aji Sakro pun melepas pegangan cambuk nya itu, lalu ia pun meloncat melentingkan tubuh nya ke atas untuk menghindari serangan nya Gandaria itu yang menurut nya serangan itu sangat mematikan.


__ADS_2