TerSesat

TerSesat
KORBAN TANPA KEPALA


__ADS_3

RANGKAS Mulai siuman dan jari-jari tangan nya mulai bergerak-gerak. Perlahan mata Rangkas terbuka dan ia menatap ke atas. Pandangan nya masih buram dan Rangkas mengerang karena kesadaran nya hampir pulih. Rangkas tak ingat apa-apa setelah ledakan keras terjadi sebelumnya akibat tabrakan senjata pusaka nya itu.


Rangkas masih mengumpulkan tenaga nya agar ia bisa bangun dan tubuh Rangkas masih lemas serta kaku tak bisa digerakkan. Perlahan ingatan nya mulai pulih kembali dan tubuh Rangkas perlahan mulai bisa bergerak normal. Ia lalu bangun dengan tangan nya bersandar ditanah dan pandangan nya sudah tak kabur lagi. Rangkas segera mencari-cari sesuatu dipunggung nya,


"Kemana tas berisi kepala Ranti itu?" Ucap nya masih linglung dan Rangkas menatap ke arah depan nya. Disana tak terlalu jauh ada kubangan besar agak dalam dan jauh kesana nya berada di dekat tebing bukit itu, Rangkas melihat dua orang yang sedang berdiri berhadapan.


"Sedang dengan siapa dia disana?" Ucap Rangkas pelan dan ia belum bisa berdiri karena kaki nya masih lemah.


Kemudian Rangkas melayangkan pandangan nya ke arah tubuh berkulit hijau lumut didekat dua orang itu.


"Apakah si mahkluk gundul itu mati karena kepala nya terpenggal? setahu ku kepala nya masih utuh ketika ledakan keras tadi menghempaskan tubuh ku dan juga tubuh mahkluk gundul itu." Kemudian Rangkas melihat darah melintang jauh dari jalan menanjak itu hingga ke jalan menurun. Disana Rangkas melihat kepala mahkluk gundul itu berlumuran penuh darah.


Di alam manusia, Orang-orang yang sedang mencari hilangnya Rangkas itu pun masih berada di tempat. Ucapan Suminah soal kematian suami nya itu telah membuat Pak Kepala Polisi mempunyai pemikiran lain.


"Jika benar Pak Rusdi meninggal karena hal yang tak wajar dan ada hubungan nya dengan hal gaib, maka sudah dipastikan kematian para KORBAN TANPA KEPALA Itu berasal dari hal gaib dan pelaku nya bukan dari manusia."


"Benarkah Pak Ketua Polisi?" Tanya Pak Kades.


"Belum pasti benar, sebab belum ada bukti yang kuat. Penemuan sampel darah yang berjenis dikaitkan dengan darah siluman ular itu masih abu-abu. Arti nya masih belum jelas itu darah siluman ular atau darah hewan ular biasa." Pak Kades pun manggut-manggut, kemudian ia menatap Suminah yang berada didekat Ayu istrinya itu.

__ADS_1


"Lalu sekarang kita harus bagaimana Pak? Tak ada tanda-tanda anak yang hilang itu di sini."


"Hmm seperti nya kita harus menyelidiki tanda lambang iluminati dibatang pohon itu. Lalu apakah di kampung tegalsari ada dukun atau paranormal yang mengerti akan hal gaib?"


"Seingat saya, dikampung kami ada seorang dukun. Tapi sudah lama ia tak pernah menampakan wujud nya karena ia menutup dirinya dari keramaian."


"Apakah kita harus memakai jasa dukun itu untuk mengungkapkan lambang misterius ini Pak Kades?"


"Hmm saya rasa layak dicoba Pak Ketua Polisi. Sebentar saya menyuruh orang dulu untuk pergi ke rumah dukun itu."


"Baik Pak Kades." Ujar Pak ketua Polisi dan Pak Kades lalu menyuruh salah satu warga nya untuk pergi ke rumah seorang dukun dikampung Tegalsari.


Putri Ayu terbengong menatap ketampanan wajah lelaki yang ada di depan nya itu. Wajah lelaki itu bermata tajam dan halis nya tak terlalu tebal mirip golok tanpa sarung. Hidung nya agak mancung dan bibir nya pun terbilang sensual untuk ukuran seorang laki-laki. Rambut lelaki itu panjang dan di ikat ke belakang memakai tali sutera dan sisa nya menjuntai ke punggung.


"Hmm aku pikir wajah mu tak setampan ini, ternyata ini diluar dugaan ku. Apa kau bisa merubah wajah mu memakai kesaktian mu itu?" Tanya Putri Ayu sengaja memasang wajah tak percaya.


"Aku tak memiliki kesaktian seperti itu! Sepertinya mata mu perlu di cuci dengan air rebusan sirih agar bisa memastikan mana wajah yang asli dan buatan!"


"Xixixixi, ada-ada saja kau." Ujar Putri Ayu mengikik geli menertawakan ucapan konyol nya lelaki itu.

__ADS_1


Lelaki itu nampak dingin dan tak ada senyum terulas sedikit pun di bibir nya.


"Aku salut padamu, disaat kau telah kehilangan segalanya kau masih bisa tertawa lepas seperti ini." Putri Ayu lalu menghentikan tawa nya sambil menjawab ucapan lelaki tadi.


"Andai kau tahu, sebenarnya hati ku ini sudah hancur lebur dan hidupku berada di dalam kehancuran. Tapi setelah aku pikirkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, perlahan aku bisa menerima kenyataan pahit ini walaupun sebenarnya berat untuk ku melupakan nya. Tapi kejadian dari pembantaian terhadap keluarga ku itu tak akan aku lupakan sampai kapanpun sebelum aku berhasil membalaskan dendam mereka dengan membunuh si Raden Aji Sakro itu dan merebut kembali tahta kerajaan milik Ayahku itu!" Lelaki tampan yang bernama asli Dirgantara Pangestu Agung itu pun bergumam seraya berkata.


"Sepertinya kita satu tujuan yang sama, apa yang kau katakan itu tak jauh beda dengan apa yang sedang aku rasakan ini. Satu-satunya kunci ketenangan dalam hidup ku adalah membunuh Raden Aji Sakro dan merebut kembali tahta kerajaan Salawasi."


"Apa kah kau tak berniat ingin memiliki istri?" Tanya Putri Ayu tiba-tiba saja dan lelaki itu menjawab nya.


"Hati ku sudah tertutup rapat-rapat untuk seorang wanita setelah aku merasakan sakit nya ditolak oleh seorang wanita akibat perjodohan itu."


"Mungkin maksud mu wanita itu adalah aku bukan?" Tanya Putri Ayu merasa tersindir.


"Entahlah, aku tak pernah memaksa mu untuk mengakui nya." Putri Ayu hanya manggut-manggut saja dan ia merasakan hati nya saat itu merasakan ada nya rasa bersalah terhadap lelaki yang ada di depan nya. Padahal mereka berdua baru pertama kali itu bertemu dan hanya Pangeran Dirgantara Pangestu Agung saja yang tahu nama asli Putri Ayu, sedangkan Putri Ayu tak diberi tahu nama calon lelaki yang dijodohkan oleh ayah nya waktu itu.


Obrolan dua orang itu masih berlanjut dan kedua nya nampak bungkam setelah Pangeran Dirgantara berkata,


"Andaikan dulu perjodohan itu berhasil dilaksanakan, mungkin saat ini hidup kita berdua tak hampa seperti ini." Putri Ayu menatap dalam-dalam mata tajam nya lelaki itu dan lelaki itu menatap dalam-dalam mata Putri Ayu juga. Debaran aneh dalam hati mereka perlahan mulai terasa menyentuh lubuk hati mereka yang sudah terkunci rapat-rapat itu. Getaran cinta dari tatapan mata kedua nya mulai turun ke dalam hati sanubari kedua nya. Entah apa yang sedang mereka pikirkan berdua itu, mereka berdua sama-sama tak bisa membaca isi hati dan pikiran lawan jenis nya.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2