TerSesat

TerSesat
PERTARUHAN NYAWA


__ADS_3

SUARA Teriakan Gandaria itu telah membuat Putri Ayu hilang konsentrasi nya. Ia teringat pada Pangeran Dirgantara yang bertarung dengan Gandaria. Saat itulah Putri terkena tendangan keras di bagian perut nya hingga ia terlempar jauh. Putri Ayu segera bangun karena ia melihat Pangeran Dirgantara terbaring dengan tubuh terbakar Api.


"Dirgaaaaaa!!" Teriak Putri Ayu dan ia segera berlari dan tiba di dekat Pangeran Dirgantara.


Gandaria sudah mati lebih dulu karena badan nya sudah hangus terbakar api yang membakar tubuh nya. Tubuh Pangeran Dirgantara pun hampir gosong dan tapi ia masih ada sisa napas terakhir nya.


"Dirga kau jangan mati!" Putri Ayu segera berusaha mencari air untuk memadamkan api yang membakar tubuh Pangeran Dirgantara.


"Ma...Maafkan aku...Putri...." Saat itu Pangeran Dirgantara sudah menghembuskan napas terakhir nya dan membuat Putri Ayu menangis histeris.


Raden Aji Sakro mendekati Putri Ayu dan ia tak langsung menyerang nya.


"Apa yang kau harapkan dari seorang pecundang itu Putri?"


"Tutup mulut mu setan! heaahhh!!" Putri Ayu segera menyerang Raden Aji Sakro dengan Kipas Dewi Murka nya dan keluarlah hempasan angin kencang dan membuat Raden Aji Sakro tersentak mundur beberapa tindak.


"Hebat juga kipas mainan mu itu perempuan lacur!" Lalu Raden Aji Sakro segera mengambil pedang pusaka nya dan berkata.


"Sepertinya ilmu mu sudah semakin meningkat Putri! Tapi tetap saja ilmu mu itu tak akan mampu mengalahkan ku!"


"Berisik kau lelaki biadab!!" Geram Putri Ayu disela tangisan nya.


Putri Ayu lalu menyerang Raden Aji Sakro dengan serangan ilmu tenaga dalam sinar. Semua kekuatan nya sudah ia kerahkan untuk membunuh Raden Aji Sakro. Tapi tetap saja Raden Aji Sakro mampu menghindari serangan berbahaya nya Putri Ayu.

__ADS_1


Pertarungan kedua nya itu terus berlanjut dan Putri Ayu menyerang tanpa henti hingga membuat Raden Aji Sakro marah. Satu serangan tenaga dalam mengenai tubuh Raden Aji Sakro dan ledakan keras terjadi lagi. Putri Ayu sudah mengira pasti tubuh Raden Aji Sakro hancur dan mati ditempat, Namun perkiraan Putri Ayu salah. Tubuh Raden Aji Sakro masih utuh dan hanya pakaiannya saja yang compang-camping.


"Brengsek kau wanita jalank!" Raden Aji Sakro akhir nya balik menyerang Putri Ayu dan Putri Ayu sudah siap menerima serangan itu.


Raden Aji Sakro menyerang Putri Ayu memakai pedang nya yang menyala merah membara seperti dilapisi bara api itu dan Putri Ayu mencoba menangkis memakai kipas Dewi Murka nya. Namun sayang nya tebasan pedang berhawa panas itu telah membuat kipas pusaka nya Putri Ayu patah dan terbakar. Putri Ayu terdesak karena ia tak punya senjata lagi untuk menahan serangan mematikan itu. Ia lalu berlari ke dalam istana kerajaan Angkor Pura untuk menghindari serangan tersebut.


"Jangan lari kau wanita laknat!" Teriak Raden Aji Sakro dan ia pun lalu mengejar Putri Ayu ke dalam gerbang istana itu.


Didalam gerbang Putri Ayu baru saja akan memasuki istana itu, Namun kaki nya tersambar tangan mayat yang masih hidup. Mayat itu ingin menarik kaki Putri Ayu dan ia pun terjatuh. Saat Putri Ayu ingin bangun, kepala nya sudah harus terdongak ke atas karena Raden Aji Sakro saat itu telah menendang wajah nya.


"Ughukkkk!!" Tubuh Putri Ayu tersentak kejang-kejang dan Raden Aji Sakro segera menjambak rambut Putri Ayu dan meninju wajah cantik nya dengan pukulan keras.


Saat itu Rangkas sudah tiba ditempat dimana Pangeran Dirgantara mati Terbakar.


"Diakan!?" Sentak Rangkas kaget ketika melihat jasad terbakar itu karena ia mengenali ciri-ciri baju Jirah perang nya Pangeran Dirgantara.


"Hmm ternyata itu mayat si Gandaria dan mereka mati dalam Pertarungan secara kesatria. Kasihan sekali aku melihat Kang Dirga mati dalam keadaan terbakar begini tubuh nya." Api yang membakar dua orang itu nampak awet dan masih menyala sampai tubuh kedua mayat itu menjadi abu.


Putri Ayu lalu menendang kejantanan Raden Aji Sakro dan membuat Raden Aji Sakri kesakitan hingga pedang nya terjatuh. Putri Ayu yang kini menghajar wajah Raden Aji Sakro dengan tinju nya dan membuat Raden Aji Sakro terhentak mundur. Ketika Putri Ayu ingin menendang tubuh Raden Aji Sakro dengan tendangan memutarkan kaki nya, saat itu rambut nya langsung dijambak lagi oleh Raden Aji Sakro.


Di sekitaran tempat Rangkas berada itu semua nya bagai habis Terbakar karena pepohonan di samping dua mayat itu bagai habis terjadi kebakaran alam. Daun-daun pepohonan Rontok dan batang pohon nya mengelupas kering. Rangkas masih mencari dimana Putri Ayu berada,


"Lalu kemana Nyai Putri? Jika Kang Dirga ada di sini, harus nya Nyai Putri ada di sini juga!" Rangkas lalu meninggalkan mayat Pangeran Dirgantara itu karena ia lebih khawatir soal keselamatan Putri Ayu.

__ADS_1


Di dalam gerbang istana Rangkas mendengar suara teriakan Putri Ayu yang memekik kesakitan.


"Aaaaaaaa!!"


"Nyai!" Sentak Rangkas kaget dan ia segera berlari cepat melesat ke arah pintu gerbang. Di sana ia melihat wajah Putri Ayu sudah babak belur dan Rambut nya dijambak oleh Raden Aji Sakro. Posisi Putri Ayu terkulai lemas dan kaki nya setengah berlutut. Saat itu Raden Aji Sakro beberapa kali meninju wajah Putri Ayu hingga babak belur dan berdarah-darah. Lalu ia mengambil pedang nya yang terjatuh tadi dan ingin menebas leher Putri Ayu. Rangkas melihat hal itu dan Rangkas dengan gerakan naluri nya segera memanah kepala Raden Aji Sakro itu dengan panah nya.


wuuuut!!


Anak panah itu melesat cepat ke arah kepala Raden Aji Sakro dan kepala Raden Aji Sakro tersentak kesamping bersama dengan tubuh nya nya terlempar.


Rangkas segera mendekati Putri Ayu yang terkulai lemas di tanah yang telah basah oleh darah dan mayat-mayat para prajurit yang telah mati itu.


"Nyai!? Bangun Nyai!" Ujar Rangkas dan tak sadar ia menitikan air mata.


"Rang...kas...Kau kau itu..?"


"Iya ini Aku Nyai! Maafkan aku Nyai, aku telah bertindak gegabah dan membuat keadaan mu dan Kang Dirga menjadi korban kesalahan ku."


"Kau tak salah Rangkas, mungkin aku dan Dirga sudah ditakdirkan untuk mati dalam pertarungan ini."


"Kau masih bisa hidup Nyai! Aku akan mengobati mu!" Lalu Rangkas mempraktekan apa yang diajarkan Putri Ayu soal pengobatan memakai hawa murni pada nya.


"Sudah hentikan Rangkas, hidup ku tinggal sebatang kara karena aku sudah tak memiliki keluarga dan juga kekasih. Maafkan aku karena aku telah memilih Dirga sebagai pendamping ku nanti. Karena aku sadar kita tak mungkin hidup bersama karena kita berbeda alam. Aku paham perasaan mu yang menyukai diriku ini Rangkas, tapi aku pun sadar diri akan keterbatasan ruang lingkup kita ini berbeda. Maafkan aku Rangkas, aku telah mempertaruhkan nyawa ku padamu untuk membunuh si lelaki brengsek itu. PERTARUHAN NYAWA Ku dan Nyawa Dirga ada ditangan mu Rangkas." Rangkas paham akan perkataan Putri Ayu tadi bahwa Putri Ayu dan juga Pangeran Dirgantara telah menyerahkan semua nya kepada nya.

__ADS_1


...*...


...* * ...


__ADS_2