TerSesat

TerSesat
AJAKAN BERSEKUTU


__ADS_3

SERANGAN Gandaria itu mengenai dinding menara kerajaan Angkor Pura dan membuat hancur dinding tersebut. Menara pengawas yang cukup tinggi itu mulai roboh dan mengarah ke dalam pertarungan dua prajurit yang ada di halaman istana itu.


brugggg!! Banyak prajurit yang jatuh tertimpa bangunan menara pengawas itu dan suasana dikerajaan itu semakin kacau.


Separuh istana Angkor Pura rusak sebagian karena terkena serangan sinar tenaga dalam dari para prajurit yang berperang. Gandaria segera melecutkan cambuk nya ke arah Raden Aji Sakro dan Raden Aji Sakro mampu menghindari nya lagi.


"Kutu kupret! Mengapa sangat sulit sekali kau ku bunuh jahanam!" Geram Gandaria dan langsung menyerang memakai gerakan fisik nya.


Raden Aji Sakro pun tak menyerang dan ia cenderung menangkis serangan lawan nya. Dalam pertarungan adu ketangkasan itu Gandaria semakin beringas dan membabi buta, serangan nya tak terkontrol hingga ia pun akhirnya kelelahan. Raden Aji Sakro lalu menangkap tangan besar nya Gandaria itu dan meremas nya dengan kuat. Gandaria kesakitan dan ia segera menendang perut Raden Aji Sakro dengan sekuat tenaga nya.


Tendangan itu mengenai sasaran nya yaitu rusuk kiri nya Raden Aji Sakro dan sama sekali tak membuat Raden Aji Sakro kesakitan atau memuntahkan sesuatu dari mulut nya. Ia cenderung bersikap tenang namun dingin dan seakan tendangan keras nya Gandaria itu tak ada apa-apa nya. Mata Gandaria melotot bagai merasakan sakit dibagian punggung kaki nya.


"Sudah ku bilang, jangan lawan aku Gandaria! Kau sangat mudah aku kalahkan! Jika aku mau, kau sudah aku bunuh saat ini juga! Tapi aku ingin mengajak mu bekerja sama!"


"Tutup mulut mu rubah licik!!" Gertak Gandaria yang ingin menyerang Raden Aji Sakro dengan pukulan sinar tenaga dalam.


Baru saja Gandaria akan menyerang, ia sudah tak bisa menggerakkan tubuh nya. Lalu Raden Aji Sakro pun meninju perut Gandaria yang membuncit keras itu dengan cepat.


Buggg!!


"Hegggg!!" Suara Gandaria memekik tertahan di perut nya itu dan matanya mendelik. Hentakan tinju Raden Aji Sakro membuat Gandaria tersentak mundur beberapa langkah. Ia menahan mulut nya agar tak mengeluarkan sesuatu yang terkumpul didalam mulut nya. Tapi ia tak bisa menahan nya terlalu lama dan langsung memuntahkan seisi perut nya itu.


"Huekkk!! Hoeeeekkk!! Cuihhh!!"

__ADS_1


Nampak darah kental cukup banyak keluar dari mulut Gandaria dan Ia lalu jatuh berlutut memegang perut nya yang mulas.


"Padahal mudah saja aku membunuh mu saat ini Gandaria! Tapi aku tak akan melakukan nya karena aku butuh bantuan mu saat ini!." Gandaria melotot ke arah Raden Aji Sakro dan bertanya.


"Apa mau mu sebenarnya keparat?! Kau sudah membunuh istri ku dan juga guru ku! Kau telah menghancurkan perguruan milik guruku dan membantai semua murid nya! Aku tak bisa melupakan kekejian mu itu Aji Sakro! Kau sudah merenggut semua yang aku miliki dan aku tak akan lagi kalah dari mu atau bersekutu dengan mu sialan!!"


"Kau keras kepala juga rupa nya!!" Raden Aji Sakro geram karena ajakan nya itu ditolak mentah-mentah oleh Gandaria.


Lalu Raden Aji Sakro melayangkan tendangan samping ke arah pelipis kiri Gandaria dan dengan cepat Gandaria menangkis tendangan itu memakai tangan nya. Tendangan keras itu mampu ditahan oleh Gandaria, Namun hal itulah yang diharapkan kan oleh Raden Aji Sakro. Gandaria lengah dan hanya fokus ke arah kiri nya saja, lalu tiba-tiba saja kepala Gandaria terhentak ke samping karena kaki Raden Aji Sakro meninju pelipis kanan Gandaria dengan keras.


"Huaakkkk!!" Gandaria merasa pusing karena pelipis nya ditinju sebegitu keras nya oleh Raden Aji Sakro.


Gandaria pun jatuh berdebam dan ia masih memiliki kesadaran untuk melawan. Tapi baru saja ia ingin bangun, tubuh nya sudah terjatuh lagi. Kepala nya begitu pusing dan pandangan nya begitu buram ketika melihat ke arah Raden Aji Sakro. Perut Gandaria pun masih sedikit mulas dan tubuh nya pun tiba-tiba saja terasa berat untuk bangun.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku hah!? Aku ini musuh mu!! Dan aku punya dendam padamu!!"


"Lupakan dendam mu itu dan kau akan aku anggap sebagai temanku! Mari kita bersekutu!" Gandaria diam dan masih berpikir soal AJAKAN ******BERSEKUTU****** Dari Raden Aji Sakro itu.


'Ada apa dia sebenarnya? Mengapa dia ingin bersekutu denganku?' Gandaria membatin begitu dan Gandaria pun bertanya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Lalu Raden Aji Sakro pun menjawab nya.


"Bantu aku mengalahkan dua orang yang ada disana!" Lalu Gandaria menunjuk ke arah jalanan alun-alun Kerajaan Angkor Pura. Disana ada Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara yang berjalan berbarengan ke arah Kerajaan Angkor Pura.

__ADS_1


Mereka berdua tak tahu bahwa saat itu kedua nya sedang diperhatikan oleh Raden Aji Sakro dan juga Gandaria.


"Mereka kan!?" Ujar Gandaria tak habis pikir bisa bertemu mereka lagi disana.


"Kau kenal dengan mereka berdua kan..???" Tanya Raden Aji Sakro dengan raut wajah yang sudah mulai memerah karena terbakar amarah serta cemburu terhadap Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara.


"Lelaki itu bernama Dirgantara dan dia adalah bekas anak buah ku yang sudah berkhianat! Lalu yang perempuan itu dia adalah tawanan ku berhasil lolos ketika akan aku tumbalkan kepada Raja Iblis!"


"Berarti kita punya dendam yang sama Gandaria! Lelaki itu musuh ku yang berhasil kabur setelah bertarung dengan ku dan ia melukai pundak ku! Dan perempuan itu adalah mantan kekasih ku dan ia adalah anak pemilik Kerajaan Angkor Pura Ini!" Seketika Gandaria menatap Raden Aji Sakro dan bertanya.


"Oh jadi perempuan itu anak dari raja pemilik Kerajaan ini!?"


"Benar!! Ayah nya telah membunuh Ayah ku dan aku sekarang mempunyai dendam kesumat pada perempuan itu!!"


"Sebaik nya kita urus dendam kita masing-masing! Aku akan menghabisi si Dirgantara itu dan kau lawan si perempuan binal itu!"


"Aku setuju dengan pendapat mu!" Ujar Raden Aji Sakro dan kini mereka berdua sudah bersekutu untuk melawan Pangeran Dirgantara dan juga Putri Ayu.


Rangkas berhasil membunuh kelima mayat hidup itu dan kini ia sudah pergi menuju hutan samping alun-alun Kerajaan Angkor Pura untuk mengejar Gundalini. Pangeran Dirgantara dan Putri Ayu pun melihat banyak para pasukan mayat dan pasukan kerajaan Angkor Pura yang mati disepanjang jalan dan alun-alun Kerajaan itu. Putri Ayu nampak geram karena alun-alun itu dulu nya adalah tempat para penduduk yang berdagang menjajakan jualan nya. Putri pun tak habis pikir akan kemana pergi nya para penduduk Kerajaan itu setelah kekuasaan Ayah nya direbut oleh Raden Aji Sakro itu.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2