TerSesat

TerSesat
TAMAT


__ADS_3

RANGKAS Dan Putri Ayu sudah ada di alam manusia dan waktu saat itu cuaca nya sudah terang benderang. Kala itu di alam manusia tengah siang hari dan Rangkas bersama Putri Ayu berjalan menuruni hutan itu untuk pergi ke rumah nya Rangkas. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan dan sesekali Putri Ayu mencium pipi Rangkas karena Putri Ayu sangat sayang dan cinta kepada Rangkas.


Rangkas juga terkadang sering usil mencium pipi Putri Ayu hingga membuat kedua nya berhenti berjalan. Mereka berdua berada di bawah pohon dan sedang berciuman mesra disana. Rangkas hanya diam saja ketika tangan Putri Ayu meremas apa yang selama ini ia jaga itu. Tangan Rangkas pun tak tinggal diam, ia meremas dua buah dada Putri Ayu yang montok itu dan membuat Putri Ayu semakin ke enakan. Saat leher Putri Ayu diciumi oleh Rangkas, mata Putri Ayu terpejam dan ketika terbuka ia melihat ke atas puncak gunung persik yang kini sudah gundul seluruh nya dan tertutupi bebatuan hitam.


Putri Ayu lalu menyuruh Rangkas untuk berhenti menciumi leher nya.


"Berhenti sayang, coba lihat puncak gunung ini." Rangkas lalu melihat ke arah puncak gunung dan seketika Rangkas tersentak kaget.


"Mengapa dengan gunung persik ini!? Apakah hutan dan pepohonan digunung ini ada yang menebang nya???"


"Ada-ada saja kau sayang, sepertinya gunung ini telah meletus dan batuan hitam menggumpal-gumpal di dinding tebing gunung ini adalah cairan lahar yang sudah membeku."


"Hmm benar, seperti nya di sini telah turun hujan lebat karena pepohohan di sini masih Basah dan tanah nya pun lembab." Ujar Rangkas memperhatikan ke sekeliling nya.


"Jadi waktu kita berada di dimensi itu, saat itu gunung ini meletus dengan sendirinya atau hanya karena sudah waktu nya saja gunung ini meletus."


"Kemungkinan memang begitu sayang, ayo kita segera pulang. Aku khawatir kepada ibu ku."


"Baiklah." Ujar Putri Ayu yang kini telah membetulkan letak pakaian nya.


Kedua nya turun gunung dan sudah melupakan soal percumbuan mesra tadi. Disepanjang perjalanan mereka melihat ada aktivitas penduduk di kampung tegalsari yang sedang mengobrol sesama tetangga nya.


"Tak biasa nya dikampung itu ramai oleh para penduduk." Ujar Rangkas dan ia lalu melihat ada pak ketua polisi serta para orang-orang berpakaian rapi tengah menanyakan sesuatu kepada Pak Kades.


Rangkas ingat bahwa orang-orang itu pasti wartawan dari kota yang ingin tahu soal kejadian bencana alam yang telah terjadi. waktu itu tepat gunung persik meletus dan hal itulah yang membuat Rangkas mewajarkan nya. Putri Ayu hanya diam saja sampai kedua nya tiba dirumah nya Rangkas dan Rangkas langsung mengetuk pintu rumah nya.

__ADS_1


Ketukan Pintu Terdengar oleh Suminah yang ada di dalam rumah. Terdengar Suminah berteriak,


"Sudah aku katakan! Aku tak ingin diwawancarai oleh kalian! Pergi sana! Jangan pernah kalian datang lagi!" Rangkas menatap wajah Putri Ayu dan Putri Ayu lalu berkata.


"Sepertinya Ibu mu tak tahu bahwa kau sudah kembali." Lalu Rangkas berteriak memanggil nama ibu nya.


Suminah hapal akan suara anak nya itu dan ia buru-buru keluar dari dalam kamar nya. Setiba didepan pintu ia mengintip di balik jendela dan itu benar adalah anak nya.


"Rangkas anakku!?" Pintu segera dibuka dan Rangkas langsung masuk kedalam bersama Putri Ayu. Suminah langsung memeluk anak nya hingga menangis pilu,


"Untung kamu selamat Nak..., apa jadi nya jika kau mati tertimbun lahar gunung meletus itu. Hixhixhix." Rangkas memeluk erat tubuh ibu nya sambil berkata.


"Rangkas baik-baik saja Mak, Emak jangan khawatir lagi. Sekarang Rangkas tak akan pergi kemana-mana lagi karena Rangkas sudah berhasil membunuh Gundalini." Suminah melepaskan pelukan itu dan melihat Rangkas membuka kain hitam yang ia bawa sejak dari alam dimensi Siluman.


Suminah menatap ke arah kepala itu dan berkata,


Rangkas mengangguk dan berkata kepada ibu nya.


"Mak, masih ingat tidak kepada teman gaib Rangkas itu?"


"Ingat, kenapa memang nya?"


"Dia ingin berkenalan dengan Emak."


"Mana temanmu itu Rangkas? Emak tak melihat nya."

__ADS_1


"Sekarang pejamkan mata Emak, Rangkas akan membuka mata batin Emak." Suminah menuruti ucapan anak nya itu dan Rangkas lalu mengusap wajah ibu nya.


"Silahkan dibuka mata nya Emak." Suminah segera membuka mata nya dan nampak jelas seraut wajah cantik bak bidadari dari kayangan tersenyum pada nya.


"Yatuhan cantik sekali!" Ujar Suminah terpesona akan kecantikan Putri Ayu itu.


"Siapa nama mu itu Cah Ayu?" Tanya Suminah.


"Nama ku Putri Ayu Candraningsih, Mak."


"Nama yang bagus sekali, Emak baru tahu bahwa teman gaib nya Rangkas bisa secantik ini."


"Terimakasih pujian nya Mak." Ujar Putri Ayu nampak malu dan Rangkas berkata.


"Apakah Emak merestui hubungan kami jika kami nanti menikah?"


"Emak sangat merestui hubungan kalian itu, lebih baik kalian cepat menikah daripada berpacaran harus menanggung dosa besar." Putri Ayu dan Rangkas saling tatap dan mereka bertekad akan segera menikah.


Lalu Rangkas dan Putri Ayu bersama Suminah pergi ke kampung tegalsari untuk memberikan bukti bahwa Gundalini sudah mati ditangan nya. Pak Kades dan Pak ketua polisi yang melihat Rangkas membawa kepala Gundalini itu nampak kagum dan segan. Rangkas sudah dianggap orang sakti oleh mereka dan terlebih lagi para warga pun langsung mendatangi Rangkas untuk meminta diobati dari sakit nya. Rangkas bingung harus bagaimana dan Putri Ayu berkata,


"Kau sudah berjanji bahwa ilmu yang kau punya saat ini selama nya akan kau gunakan untuk menolong ke sesama mu bukan?" Rangkas pun mengangguk mengingat ucapan nya itu.


Lalu Rangkas pun membuka pengobatan alternatif dirumah nya setelah kasus Sekte Aliran Sesat itu dikatakan tuntas oleh Pak Ketua Polisi. Mereka kini hidup damai dan tak ada lagi teror pembunuhan yang meresahkan warga kampung Tegalsari dan kampung-kampung disekitarnya. Hanya saja kini Rangkas sudah tak bisa berburu lagi karena hutan dikaki gunung persik itu sudah gundul dan hewan-hewan nya pun sudah pergi entah kemana.


Setelah Sekian lama Rangkas mendalami ilmu pengobatan dan ia pun sudah resmi menikah dengan Putri Ayu dengan di hadiri oleh orang-orang penting yang menurut Rangkas layak ikut menyaksikan nya. Orang-orang itu adalah Pak Kades dan juga istri nya, Lalu Pak ketua polisi dan juga ibu nya Rangkas serta penghulu pernikahan itu. Mata batin mereka dibuka oleh Rangkas dan mereka terpesona serta kagum terhadap kecantikan Putri Ayu waktu menikah dengan Rangkas. Pernikahan dua insan berbeda jenis dan alam itu masih langgeng hingga sampai saat ini, bahkan mereka dikarunia dua orang Putra dan Putri yang tampan serta cantik. Kedua anak Rangkas dan Putri Ayu itu memiliki kelebihan yang dimiliki oleh Ibu dan ayah nya. Suminah sudah menjadi nenek-nenek dan ia sangat sayang kepada dua cucu nya itu. Kini rumah tangga Rangkas sudah enak dan hidup nya sudah tak sesusah dulu karena sekarang ia telah menjadi seorang Tabib sakti yang sering dikunjungi oleh orang-orang kaya yang ada di kota.

__ADS_1


...*TAMAT*...


__ADS_2