TerSesat

TerSesat
MENINGGALNYA AYAH RANGKAS


__ADS_3

SUARA Pintu rumah keluarga Rusdi diketuk dari luar dan terdengar suara gaungan orang-orang diluar rumah tersebut menyerukan agar Rusdi disuruh keluar dari rumah nya.


Rangkas dan ibu nya saling tatap, kemudian ibu Rangkas menyuruh Rangkas menjaga ayah nya dan sedangkan ibu nya pergi ke luar rumah. Setelah pintu dibuka, nampak lah beberapa polisi dan dibelakang nya ada banyak para penduduk yang memandang sinis kepada ibu nya Rangkas.


"Ada apa ini ramai-ramai begini? ada pak polisi juga dan pak kepala desa." Ujar Suminah dan ia segera mempersilahkan masuk. Akan tetapi pak kepala desa menolak dan berkata kasar,


"Mana suami mu Sumi!? suruh dia keluar! jangan macam banci berlindung dibalik ketiak istri nya!" Sentakan kasar pak kepala desa itu membuat Suminah mengerutkan dahi nya seraya bertanya.


"Mengapa pak kepala desa berkata kasar begitu kepada saya? apa salah suami saya sebenarnya?" Ucapan Suminah segera dibalas oleh para penduduk yang terdiri dari semua kalangan.


Mereka mengatakan bahwa 'Rusdi Seorang Pembunuh', hal itu membuat Suminah semakin tak mengerti dibuat nya. Kemudian ketua polisi yang ada disitu berkata setelah para warga ditenangkan oleh anak buah nya.


"Begini Bu, maaf sebelumnya jika kedatangan kami ini seperti ini. Apa suami ibu ada didalam?"


"Suami saya ada didalam pak, beliau sedang sakit." Jawab Suminah dan pak kepala desa segera berkata ngotot.


"Jangan beralasan kau Suminah! Aku tahu kau sedang berbohong kepada kami! Suami mu telah membunuh anak ku dan dia pantas dipenjara seumur hidup!" Suara Pak kepala yang cukup keras itu terdengar sampai ke dalam kamar nya Rusdi.


Rangkas mendengar jelas ucapan itu dan tiba-tiba ayah nya yang sedari tadi tertidur lelap itu terbangun seraya bertanya.


"Ada apa diluar Nak?"


"Tidak tahu Pak, tapi Ibu sedang ada didepan."


"Oh begitu, panggil ibu mu dan ajak orang yang berteriak tadi masuk. Suruh dia menemui Bapak disini." Ujar Rusdi dengan suara lemas nya.

__ADS_1


"Baik Pak." Lalu Rangkas pun segera bergegas pergi keluar rumah dan disana ia mendapati ibu nya sedang mengobrol dengan ketua polisi dan pak kepala desa di amben rumah panggung itu.


Rangkas kemudian berkata kepada ibunya.


"Mak, Bapak menyuruh Emak dan orang yang berteriak tadi untuk menemui Bapak dikamar. Ada yang ingin Bapak sampaikan."


"Kebetulan sekali!" Tegas Pak kepala desa bernafsu dan ia segera berjalan lebih dulu dan Kemudian disusul oleh Pak Ketua Polisi, Rangkas dan juga ibu nya. Kecuali para warga, mereka hanya menunggu diluar rumah sembari membicarakan kejelekan keluarga Rusdi jika benar Ayah Rangkas lah penyebab meninggalnya Anak perawan nya pak kepala desa.


Tiba dikamar, pak kepala desa tak jadi meluapkan emosi nya. Ia terdiam melihat keadaan Rusdi yang terbaring lemah dengan keadaan tubuh yang kurus kering. Rusdi menatap pak kepala desa dan ketua polisi dengan tatapan sayu seraya bertanya dengan suara pelan.


"Apakah pak kepala desa ada kepentingan dengan saya? sampai-sampai bapak datang ke rumah ku yang kumuh ini bersama pak polisi." Ucapan Rusdi tersebut membuat sedih istri dan anak nya.


Pak kepala desa pun segera menjawab ucapan dari Rusdi tadi.


"Sejak kapan kau sakit dalam keadaan memperihatinkan begini Rusdi?" Ucapan pak kepala desa tadi segera dijawab oleh istri nya Rusdi.


"Tiga bulan?" Ujar Pak Kades seperti menyangsikan ucapan Suminah. Kemudian Pak Polisi berkata,


"Begini Pak Rusdi, sebenarnya kami datang kemari tak tahu menahu bahwa pak Rusdi sedang sakit parah begini. Kami datang kemari hanya ingin mencari tahu soal penyebab meninggalnya putri kedua dari pak kades ini. Bapak dicurigai oleh para warga dan menuntut saya untuk mencari tahu akan hal tersebut kemari." Seketika Suminah dan Rangkas tersentak kaget dan memandang pak ketua polisi itu.


Kemudian Pak Kades berkata dengan emosi yang masih ada dihati nya.


"Aku tak percaya kau sakit selama tiga bulan Rusdi! Kau kan yang membunuh Ranti hah!?"


"Hei pak kades jangan asal menuduh! suami saya mana mungkin melakukan hal keji semacam itu pak! lagipula apa untungnya membunuh seseorang yang tak ada permasalahan sangkut paut nya dengan keluarga kami! Apa selama ini kami pernah bermusuhan dengan keluarga bapak? tak pernah kan?" Ucapan tegas dari Suminah terdengar jelas oleh para warga yang menguping diluar rumah tersebut.

__ADS_1


Pak Kepala desa pun terdiam dan ia menyadari bahwa selama ia tinggal dikampung tersebut tak pernah sekalipun ia punya permasalahan besar atau kecil kepada siapapun. Meskipun dia bukan asli penduduk kampung tersebut, semua warga segan kepada nya dan tak ada yang berani macam-macam kepada keluarganya. Tapi kini diluar dugaan nya, ada orang jahat yang telah membunuh anak nya dan sial nya tak ada bukti yang kuat siapa pembunuh anak nya itu.


Kemudian Pak Polisi yang mendengar ucapan Suminah pun berkata,


"Jika beliau sudah sakit selama tiga bulan, jelas ada orang lain yang telah merencanakan pembunuhan Ranti. bukankah itu hal yang tak mungkin dilakukan oleh pak Rusdi? Pak kades?" Pak Kades pun terdiam memikirkan hal itu. Ia nampak bingung dengan kenyataan yang di alami oleh nya itu.


"Saya tak mengerti akan akar permasalahan ini pak kades. Mengapa Pak Kades tega menuduh suami saya sekeji itu? Sedangkan beliau sudah lama sakit dan Saya serta anak saya yang menjadi saksi sehari-sehari nya mengurusi keperluan beliau ketika sakit."


"Benar Pak Kades, Bapak sudah lama sakit dan Kami benar-benar tak mengerti akan tuduhan bapak kades itu." Ujar Rangkas ikut bicara dan membuat pak kades semakin bingung serta menyesali ucapan nya.


Hening sejenak, kemudian terdengar Rusdi berkata.


"Apakah Pak Kepala desa dan para warga curiga terhadap saya hanya karena dulu saya selalu berbeda pendapat ketika ada kasus meninggalnya dua korban itu didalam hutan belantara Pak Kades?" Pak Kades pun menjawab 'Iya' lalu Rusdi berkata,


"Ketahuilah Pak Kades, Ada orang-orang yang berkelakuan aneh yang tinggal di atas puncak gunung persik ini." Semua mata tertuju kepada Rusdi, kemudian Rusdi melanjutkan ucapan nya.


"Sebelum saya jatuh sakit separah ini, mungkin sekitar empat bulan yang lalu. Seperti biasa saya pergi berburu ke dalam hutan belantara itu. Saya mengejar buruan saya yaitu seekor kambing gunung jantan yang cukup besar ukuran nya. Kambing gunung tersebut lari ke atas puncak gunung dan saya terus mengejar nya karena Kambing Gunung itu lari dalam keadaan terluka. Pada akhirnya saya mendapatkan buruan saya dengan keadaan mati tertancap pisau emas dikepala nya. Lalu saya menemukan keanehan lagi tak jauh dari tempat ku menemukan buruan ku itu. Diatas puncak gunung persik, Saya melihat ada orang-orang berpakaian aneh yang sed...dang. Hah Hah Hah." Tiba-Tiba Nafas Rusdi sesak dan tak jadi meneruskan ucapannya. Hal itu membuat Suminah serta Rangkas segera mendekati Rusdi.


Pak Kepala Desa dan Pak Polisi memandang Rusdi dengan kasihan dan mereka mengira bahwa umur Rusdi sudah tak lama lagi. Suminah segera memberi minum Rusdi, namun Rusdi menolak nya seraya berkata.


"Jaga Anak kita satu-satu nya ini ya Bu." Ujar nya seraya tersenyum. Suminah menitikan air mata nya dan mulai menangis terisak. Rangkas segera memeluk Ayah nya karena ia paham akan pesan dari ayah nya itu.


Kemudian Ayah Rangkas mengambil sesuatu yang ada dibalik bantal nya.


"Ambil Pisau emas ini nak, hanya ini yang bisa bapak berikan untuk mu untuk yang terakhir kalinya." Rangkas menerima nya dengan isakan tangis. Tak lama Rusdi pun menghembuskan nafas terakhirnya dan membuat Rangkas serta Suminah menjerit menangisi kepergian sang kepala keluarga mereka itu.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2