
RANGKAS Menatap lubang tipis yang ada dikepala tengkorak kambing itu seraya berkata.
'Ternyata bapak selama ini telah menutupi soal lubang tipis dikepala tengkorak kambing itu. Rupanya kambing itu mati karena ada yang menikam nya dikepala memakai pisau ini. Lalu siapa orang yang sudah menikam kambing itu? dan apa maksudnya orang itu meninggalkan pisau emas ini...??? Jika dipikir-pikir pisau emas ini sangatlah mahal harganya jika dijual. Tak mungkin ada manusia yang sengaja membuang benda berharga ini kecuali mahkluk gaib. Ya mungkin mahkluk gaib sejenis siluman yang melakukan nya atau sosok perempuan yang hadir didalam mimpi ku itu, aku yakin itu!" Rangkas membatin begitu dan ia pun mengira orang yang menikam kambing itu dahulu adalah sosok perempuan cantik yang ia temui di alam mimpi nya itu.
Rangkas Merenung memikirkan kejadian kala ia bermimpi dengan wanita cantik jelita itu. Ia yakin bahwa wanita itu bukanlah manusia seperti dirinya melainkan sosok mahluk gaib atau siluman yang menyerupai wujud seorang wanita cantik. Lama-lama pikiran Rangkas lelah dan Rangkas pun segera masuk ke dalam kamar lagi untuk melanjutkan tidur nya lagi dan berharap ia bisa bermimpi bertemu dengan wanita cantik jelita yang mengaku bernama Putri Ayu Candraningsih itu di alam mimpi nya.
Suara kicau burung dipagi hari mulai terdengar bersiul riang dikejauhan hutan-hutan kaki gunung persik sampai ke puncak nya. Dipagi buta itu matahari belum terbit dan baru saja menampakan sinar lembayung di ufuk timur. Keadaan dihutan Belantara dikaki gunung persik masih gelap gulita karena kerimbunan pepohonan besar berumur ribuan tahun. Suasana masih nampak gelap dan menyeramkan, akan tetapi suasana tersebut tak menjadikan penghalang bagi hewan-hewan penghuni hutan tersebut untuk mencari makan.
__ADS_1
Didataran tinggi puncak kaki gunung persik, terdengar suara gemerusuk semak-semak cukup keras dari kejauhan dan perlahan mendekat. Suara gemerusuk semak-semak itu karena diterabas oleh binatang Babi Hutan berukuran cukup besar dan bertaring. Babi Hutan itu memiliki taring cukup panjang dan melingkar ke atas. Babi hutan itu berlari cepat menerabas semak-semak belukar dan terus saja berlari ketakutan seperti ada yang mengejar nya dari arah belakang.
Semak belukar yang diterabas oleh Babi Hutan itu menjadi jejak tersendiri bagi orang yang ingin memburu Babi Hutan tersebut. Tapi ternyata bukan orang lain atau manusia yang sedang mengejar Babi Hutan itu, melainkan seekor ular besar berwarna coklat kemerahan motif batik seperti ular Python. Kepala ular tersebut memiliki tanduk kecil namun runcing ditengah dahi nya. Tak seperti ular besar biasa pada umum nya yang menggeloyor lambat, Ular itu dengan gesit nya mengejar ke arah lari nya Babi Hutan itu hingga ke suatu lembah yang cukup curam. Tiba ditepi lembah, Babi Hutan itu akhirnya menghentikan larinya karena di depan nya adalah tepi jurang cukup dalam. Babi Hutan tersebut tak mau mengambil pilihan lain untuk terjun ke dalam jurang karena hal itu sama saja dengan mati konyol baginya. Lebih baik ia mati bertarung daripada mati tanpa perlawanan atau menjatuhkan diri ke jurang.
Babi Hutan itu tak ada pilihan lain dan ia segera berbalik arah berlari ke arah jalan ia lewati tadi dengan menyerudukan taring nya ke arah depan. Ia berharap taring runcing nya itu mampu merobek tubuh ular besar yang mengejar nya itu. Namun sayang nya ular besar yang mengejar Babi Hutan itu pas tepat sekali berhadapan dengan Babi Hutan itu dan mulut ular itu langsung menyambar tubuh Babi Hutan tersebut dengan cepat. Babi Hutan itu tak bisa berkutik lagi bahkan tak bisa melarikan diri lagi, karena tubuh nya sudah dililit kuat oleh tubuh ular besar tersebut. Suara jeritan khas Babi Hutan terdengar begitu berisik sekali sampai-sampai burung-burung yang bertengger diatas pohon disekitarnya terbang entah kemana karena ketakutan.
Pagi hari mulai tiba dan seperti biasa warga kampung Tegalsari mulai melakukan aktivitas dipagi hari seperti biasa nya. Ibu nya Rangkas sudah bangun tidur dan ia sedang menjemur pakaian yang sudah ia cuci dihalaman depan rumah nya. Rangkas masih tertidur lelap dan ibu nya sempat menengok Rangkas dikamar nya karena pintu kamar itu tak terkunci dari dalam. Suminah tak membangunkan Rangkas karena ia membiarkan anak nya itu untuk istirahat yang cukup. Setelah Suminah menjemur pakaian, ia pergi ke dapur untuk mengolah daging kancil dan burung yang sebelumnya sudah ia bersihkan.
__ADS_1
Sambil memasak, Suminah membatin tentang cerita anak nya ketika ia bertemu sosok tinggi besar itu.
'Apakah sosok tinggi besar itu mahluk gaib yang selama ini merenggut nyawa para warga dan membuat korban nya mati tanpa kepala??? Jika aku telaah secara dalam, dari dulu sering kali banyak korban berjatuhan karena adanya kabut misterius itu. Tapi itu dulu ketika aku masih kecil dan sampai aku gadis kabut itu sudah tak pernah muncul lagi. Sampai saat ini kabut aneh tersebut masih menjadi misteri dan tetap akan menjadi bencana bagi warga kampung Tegalsari jika tak ada seorang pun yang mampu mengungkapkan nya. Sudah sekian lama menghilang, kini kabut misterius itu muncul lagi dan pasti akan banyak korban berjatuhan. Untung saja Rangkas masih selamat, entah apa yang terjadi jika anak ku lah yang menjadi korban kabut aneh itu." Suminah merenungkan jika anak nya menjadi korban dari keganasan kabut tersebut, maka ia akan bersedih dan putus asa untuk menjalani hidup karena hidup nya hanya sebatang kara tanpa anak dan suami.
Suminah merasa berterima kasih kepada suaminya karena telah menitipkan pisau emas itu untuk menjaga mereka dari segala bahaya. Suminah tak banyak bicara kepada Rangkas soal pisau itu didapatkan dari mana oleh Ayah nya. Padahal Rusdi pernah berkata untuk memberitahukan akan TAKDIR KUTUKAN yang ia dengar ketika berburu bersama RANGKAS dan menemukan pisau emas itu tertancap dikepala kambing gunung. Suminah masih menyimpan ucapan Rusdi itu dan belum ia putuskan untuk menceritakan hal itu kepada Rangkas disaat kematian ayah nya. Tapi kini Suminah telah menetapkan hati nya untuk membicarakan soal darimana asal-usul pisau itu berasal kepada Rangkas. Sebab Rangkas kini telah dewasa dan sudah pasti bisa memahami ucapan yang akan Suminah ucapkan nanti. Pesan yang sudah disampaikan Rusdi kepada Suminah pun akan ia ceritakan nanti kepada Rangkas setelah anaknya itu bangun dari tidur nya.
Rangkas masih tertidur lelap dan kali ini ia memang benar-benar sedang bermimpi. Ia melihat ada seorang perempuan sedang duduk ditepi danau yang bening dan Rangkas mendengar suara isakan tangis dari perempuan tersebut begitu memilukan. Rangkas ingin mendekati perempuan itu, namun kaki nya tak bisa melangkah. Kaki Rangkas sangat berat sekali dan Ia hanya bisa heran akan apa yang telah terjadi kepada nya.
__ADS_1
'Mengapa kaki ku berat sekali untuk melangkah? Apakah aku sedang bermimpi lagi? Lalu dimana ini dan siapa perempuan yang sedang menangis memilukan itu?' Ucap Rangkas dalam keraguan hati nya.