TerSesat

TerSesat
SIASAT LICIK


__ADS_3

GANDARIA Akhirnya menerima persekutuan itu dengan Raden Aji Sakro setelah mereka berdua berjabat tangan. Dua pasukan yang bertarung dibawah itu seluruh nya sudah hampir mati semua, karena mereka semua nya bertarung sampai mati dan kebanyakan telah tertimpa menara yang hancur tubuh itu. Istana Angkor Pura sudah tak dipedulikan oleh Raden Aji Sakro karena yang terpenting bagi nya adalah membalaskan dendam Ayah nya dengan membunuh Putri Ayu. Gandaria pun sudah masa bodo dengan pasukan nya itu dan begitu juga dengan Raden Aji Sakro. Selama ini Raden Aji Sakro membantai semua orang-orang kuat dijagat alam gaib itu hanya untuk membuktikan bahwa dirinya lah orang yang terkuat karena telah mengalahkan Raja yang paling ditakuti sejagad alam gaib yaitu Ayah nya Putri Ayu.


Raden Aji Sakro pun menjelaskan perihal soal ia membantai semua orang-orang kuat itu karena alasan tersebut. Gandaria pun perlahan mulai memaafkan apa yang sudah dilakukan oleh Raden Aji Sakro itu kepada istri dan gurunya. Disatu sisi Gandaria pun punya dendam kepada Putri Ayu dan juga Pangeran Dirgantara karena mereka berdua telah membantai banyak pasukan nya dan Anggota-anggota terkuat lain nya yang selama ini ia banggakan.


Gandaria sudah tak tahan ingin menyerang kedua orang itu dan ia bertanya,


"Apakah kita harus menyerang mereka sekarang...???"


"Tunggu mereka sampai di depan gerbang ini. Aku punya SIASAT LICIK Untuk menjebak mereka!"


"Baiklah." Ujar Gandaria menurut saja.


Rangkas tiba dibalik sebuah pohon besar dan disana ia melihat Gundalini sedang bersama Samiri. Rangkas jelas sekali melihat tangan Samiri itu hampir putus dibagian pergelangan tangan nya. Saat itu mereka duduk berhadapan dan Gundalini sedang mengobati tangan Samiri yang hampir putus itu. Rangkas melihat kulit daging tangan yang hampir putus itu menyatu kembali dan dengan ajaib nya bisa digerakan kembali oleh Samiri.


"Sungguh metode pengobatan yang luar biasa! Pantas Ki Gundalini itu sering dijuluki dengan nama Ki Sambung Urat oleh orang-orang yang berobat pada nya! Ternyata itulah kemampuan hebat nya dalam menyembuhkan penyakit orang-orang yang berobat pada nya!" Rangkas nampak kagum dan dalam hati ia ingin sekali memiliki ilmu seperti itu agar bisa berguna menolong orang lain yang sakit.


Rangkas mengintip di balik batang pohon itu dan Samiri tak sengaja melihat kepala Rangkas yang nongol sedikit itu.


"Hei Gundul! Sepertinya ada yang sedang mengintip kita di balik pohon itu!" Gundalini segera memutar kepala nya dan Rangkas kaget karena ia ketahuan.

__ADS_1


"Hei keluar kau setan! Apa maksudmu mengintip kami hah!?" Bentak Gundalini dan Rangkas pun mau tak mau harus menunjukkan diri.


Rangkas keluar dari balik pohon itu sambil menatap benci kepada Gundalini.


"Hei bocah tuli! Sedang apa kau di sini hah!?"


"Aku ada di sini untuk membawa mu ke kantor polisi!" Samiri tak tahu apa itu kantor Polisi dan Gundalini segera paham maksud perkataan Rangkas.


"Apa kau bilang!? Kantor Polisi!? Huahahaha!! Dengar bocah dungu!! Polisi tak ada apa-apa nya dihadapan ku!! Mereka bisa mampus semua tanpa aku harus bersusah payah membunuh mereka memakai tanganku!!"


"Siapa itu Polisi? Apa dia orang sakti?"


Wajar Samiri tak tahu, sebab ia bukan manusia seperti Gundalini. Rangkas menatap sinis seraya berkata,


"Ternyata orang-orang kampung Tegalsari mati karena kau tumbalkan kepada si Gandaria itu bukan!?"


"Memang, aku dalang dibalik pembunuhan itu! Harus nya kau waktu itu sudah mati! Sayang nya ada ibu nya yang menyelamatkan mu!" Rangkas teringat ketika ia terjebak di dalam kabut pekat di kampung Tegalsari waktu itu dan ia diselamatkan oleh Ibu nya yang membawa Pisau Ranca Cula itu.


Lalu Gundalini berkata lagi,

__ADS_1


"Gara-gara kau semua rencana Tuan Gandaria hancur!! Raja Iblis murka karena ia tak lagi menerima Tumbal karena ulah mu itu Rangkas! Lamban laut nyawamu akan terancam atau mungkin ibu mu saat ini sudah mati dibunuh anak buah Raja Iblis itu!"


"Brengsek kau Gundalini!!" Bentak Rangkas sudah hilang kesabaran nya. Lalu Rangkas mengambil anak panah nya dan membidikan nya ke arah Gundalini.


Gundalini langsung menghindari nya dan anak panah itu melesat cepat ke arah Samiri yang ada di belakangnya. Anak panah itu dengan cepat mengenai kening Samiri dan ia tak bisa menghindari nya karena terhalang gerak nya oleh Gundalini. Maka tanpa memekik, kepala Samiri langsing hancur menjadi serbuk daging tak berguna. Darah membanjiri tubuh nya dan tubuh Samiri rubuh tanpa nyawa lagi.


"Jahanam kau bocah babi!" Bentak Rangkas karena teman nya itu langsung mati tanpa ada nya perlawanan. Gundalini sudah marah besar dan langsung melesat berlari ingin menendang wajah Rangkas.


Rangkas menangkis tendangan itu dan lalu Rangkas menyodokan tinju nya ke arah dada Gundalana. Sodokan tinju itu tertahan oleh telapak tangan Gundalini dan ia langsung menyikutkan tangan kanan nya ke arah pipi kiri nya Rangkas. Lalu Rangkas segera menangkis nya dengan gerakan tangan ke samping. Gundalini lalu menarik diri mundur beberapa langkah dan langsung menyerang Rangkas dengan serangan ilmu tenaga dalam sinar.


Rangkas pun tak mau kalah ilmu, ia menghentakkan telapak tangan nya ke arah sinar itu datang. Maka keluarlah sinar putih memanjang seperti tongkat dan menghantam sinar kuning patah-patah nya Gundalini itu.


Duarrrrrrrrr!! Ledakan keras menggema menghempaskan daun-daun dihutan itu dan berguguran. Angin ledakan tadi tak membuat kedua nya bergeming dari berdiri nya dan Gundalini semakin bernafsu ingin membunuh Rangkas.


"Kurang ajar kau bocah kencur! Akan ku hancurkan tubuh mu itu dengan ilmu ku!!" Lalu Gundalini menyentakan ujung keris nya dan Rangkas melihat ada jarum-jarum kecil berwarna merah menyala menuju ke arah nya.


Rangkas berpikir jika serangan itu ia lawan, maka salah satu dari jarum itu pasti akan mengenai tubuh nya. Maka Rangkas pun menghindari serangan itu dan berhasil ia hindari. Pohon besar di belakang Rangkas menjadi sasaran serangan itu dan seketika pohon besar itu langsung hancur menjadi serbuk kayu halus. Rangkas belum ingin memakai pisau Ranca Cula untuk melawan Gundalini. Ia masih memakai anak panah nya untuk melawan Gundalini dari jarak jauh. Berkali-kali Rangkas membidik anak panah nya itu ke arah tubuh Gundalini. Namun Gundalini begitu gesit dan ia berhasil menghindari nya dengan cepat.


Rangkas mundur ketika Gundalini berada dihadapan nya untuk menusukan ujung keris itu kepada tubuh Rangkas. Ada seberkas sinar kuning patah-patah seperti tadi melesat menuju tubuh Rangkas dan Rangkas kaget karena jarak serangan itu begitu dekat dengan nya. Rangkas lalu menjatuhkan diri ditanah dan alhasil serangan sinar itu hanya melintas di atas nya Rangkas. Sinar itu meledak di ujung sana karena mengenai batang pohon hingga pohon itu berlubang besar.

__ADS_1


__ADS_2