
SUMINAH Tiba di rumah Pak Kades bersama Ayu dan Ia langsung bertanya kepada Pak Polisi.
"Bagaimana dengan anak saya Pak?"
"Tenang dulu Bu, kami sedang membicarakan penemuan darah ini. Ternyata ini bukanlah darah nya Rangkas, melainkan darah siluman!" Suminah menatap tegang ke wajah kepala polisi itu.
"Maksud Pak Polisi, anak saya telah dibunuh oleh Siluman? begitukah?"
"Bukan begitu Ibu, kabar soal Rangkas kami masih belum bisa memastikan nya. Entah itu Rangkas masih ada atau tidak kami akan mencari nya lagi dihutan sana. Darah yang kami curigai dan kami temukan ditempat kejadian itu milik siluman ular. Sebab darah ini campuran darah manusia dan ular. Jadi kami memastikan nya bahwa yang ada di hutan sana ketika ledakan terjadi itu adalah Siluman ular."
"Tapi ledakan itu terjadi karena apa sebenarnya Pak?" Tanya Ibu Suminah lagi.
"Kami masih menyelidiki nya Bu, hari ini kami akan pergi ke tempat kejadian untuk mencari hilangnya Rangkas."
"Saya Ikut Pak!" Ucap Suminah dan Pak Ketua Polisi pun mengizinkan nya.
Para warga kampung Tegalsari dikumpulkan oleh Pak Kades untuk mencari hilangnya Rangkas. Yang ikut mencari hanya pemuda dan bapak-bapak saja bersama para anggota kepolisian. Mereka segera pergi ke hutan belantara kaki gunung persik dan Suminah ikut dengan ditemani oleh Ayu.
Di satu sisi di dalam Kuil Pemujaan di alam gaib itu, terdapat ruangan cukup luas di bagian ruangan depan nya. Kuil itu terbuat dari batuan sebesar kepalan tangan yang merekat kuat. Entah siapa yang membuat bangunan yang tanpa semen dan pasir itu, tak ada yang perduli. Di dalam kuil itu ada gong besar di dekat meja depan dan tampilan nya isi ruangan itu mirip seperti gereja pada umumnya. Didalam ruangan itu banyak orang-orang yang sedang melakukan ritual perkumpulan. Orang-orang itu memakai jubah berwarna kuning kusam dengan kerudung penutup kepala nya. Mereka terlihat sedang menyembah sujud ke arah depan mereka. Didepan mereka ada dua meja yang di alasi dengan permadani tebal dan di atas dua meja yang terpisah itu ada Rangkas dan Putri Ayu yang terbaring pingsan. Di dalam ruangan itu ada lambang bintang segi enam dari cermin di dinding depan nya. Ukuran lambang itu cukup besar dan terlihat ada banyak kepala-kepala manusia tergantung dilangit-langit kuil itu.
Ada orang yang badan nya besar dan memakai jubah berwarna Merah darah dan kepala nya tertutup kerudung berwarna merah darah juga. Di kepala nya ada mahkota kecil dari emas murni dan Disamping kiri dan kanan orang besar itu ada dua orang yang memakai jubah putih dan jubah hitam ke abu-abuan. Ternyata Dua sosok misterius yang sebelumnya berada di dekat Rangkas dan Putri Ayu itu telah membawa Putri Ayu dan Rangkas yang pingsan itu ke dalam kuil tersebut. Entah apa yang akan dilakukan oleh mereka terhadap Putri Ayu dan Juga Rangkas itu.
__ADS_1
Orang besar itu terlihat menatap dengan mata bengis ke arah Putri Ayu dan juga Rangkas.
"Berkat Yodha dan Lodhaya, kita berhasil menangkap penyusup ini!!"
"Hidup Tuan Pangeran!!" Teriak orang-orang yang memakai jubah kuning kusam itu. Jumlah mereka hampir seratus orang dan mereka adalah pengikut setia dari orang yang mereka panggil 'Tuan Pengeran' Itu. Yodha adalah nama orang yang memakai jubah putih dan Lodhaya adalah orang yang memakai jubah hitam ke abu-abuan.
Kedua sosok itu adalah tangan kanan dan kiri nya Tuan Pangeran bernama asli Gandaria yang pernah didengar oleh Rangkas dari dua orang yang sedang mengobrol. Wajah mereka semua nya tertutup kain jubah itu dan hanya menyisakan lubang untuk kedua mata saja.
"Selama ini kita selalu kalah dalam pertarungan melawan Kerajaan Angkor Pura itu dan sekarang lah saat nya kita akhiri kekalahan kita itu dengan kemenangan!!"
"Hidup Tuan Pangeran!!" Teriak para pengikutnya lagi dengan bersemangat.
"Perempuan ini akan kita sandera untuk kita tanyakan kelemahan Kerajaan Angkor Pura karena perempuan ini adalah mata-mata kerajaan itu! Sedangkan pemuda ini, hmm dia adalah manusia asli dan bukan dari alam ini. Sepertinya pemuda ini bukan manusia sembarangan, tanpa ilmu kekuatan yang ia punya sangat mustahil bagi nya untuk masuk ke alam ini dan mengalahkan siluman-siluman yang aku perintahkan untuk membunuh mereka ini." Lalu Tuan Pangeran Gandaria itu itu berjalan mengelilingi dua meja itu.
Matanya yang bulat merah itu menatap ke arah Rangkas seraya berkata,
"Aku akan menumbalkan pemuda ini kepada Raja dari segala Raja Jin dan Siluman, Yaitu Baginda Raja Iblis. Pasti beliau akan menerima persembahan ku ini dengan senang. Hahahaha!! Yodha, penggal kepala pemuda ini!! Kita akan mengadakan sesembahan tumbal lagi kepada Baginda Raja Iblis!!"
"Baik Tuanku!" Ucap orang yang memakai jubah putih itu dan ditangan nya memegang tongkat berujung sabit tajam yang biasa disebut senjata garda atau El Maut.
Sedangkan Lodhaya yang memakai jubah hitam ke abuan itu memegang tongkat dengan ujung trisula mata tiga. Yodha mendekati tubuh Rangkas yang masih pingsan itu dan TUAN PANGERAN GANDARIA Itu mengucapkan mantera yang aneh. Semua pengikut nya bersujud ke depan dan hanya Lodhaya dan Yodha saja yang masih berdiri tak ikut sujud. Pada saat itu Tuan Pangeran Gandaria menyuruh salah satu pengikut nya untuk memukul gong satu kali. Gong ditabuh dan suasana di dalam ruangan itu menjadi gelap mencekam. Lilin yang sebelumnya menyala mati seketika, tapi setelah Gong kedua ditabuh Lilin pun menyala kembali secara ajaib.
__ADS_1
"Sekarang penggal kepala pemuda itu, Yodha!"
"Baik Tuanku!" Lalu Yodha pun menjalankan tugas nya.
Ketika Kepala Rangkas akan dipenggal oleh Yodha, Tiba-tiba saja Putri Ayu bangun dan menyentakan telunjuk kanan nya ke arah Yodha.
Suuut!! Brakkk!!
Sinar api sebesar kelingking melesat mengenai kepala Yodha dan Yodha pun terpental sampai membentur dinding kuil. Rangkas segera melesat bangun dan ia langsung menendang Orang yang memakai jubah merah itu.
Bukkk!!
"Arghhh setan!!" Bentak orang itu dan dirinya tersungkur mundur ke belakang.
Putri segera melesat terbang ke atas untuk mengambil salah satu kepala seorang perempuan. Sedangkan Rangkas menghalau Lodhaya yang ingin menyerang Putri Ayu. Para pengikut sekte ajaran sesat itu mengepung Rangkas yang sedang berusaha melawan Lodhaya itu. Yodha sudah mati dengan kepala hancur dan Orang yang disebut tuan pangeran itu langsung bangun dan marah besar.
"Bajingan kau!! Heahh!!" Orang berjubah merah itu melemparkan sesuatu ke arah punggung Rangkas. Saat itu Rangkas sedang melawan Lodhaya memakai Pisau Ranca Cula nya yang sebelumnya ia simpan di balik pakaian nya itu.
...*...
...* *...
__ADS_1