
SUASANA Keadaan di alam siluman itu seperti waktu senja di sore hari. Tak ada matahari atau bulan dan tak pernah berganti hari dari siang ke malam. Ditengah danau berair jernih itu masih ada Rangkas dan Putri Ayu yang berdiri dibatu datar cukup lebar tersebut. Putri Ayu sedang mempraktekkan cara menggunakan Pisau Pusaka Ranca Cula itu dengan benar kepada Rangkas. Pisau itu sudah sepenuhnya berubah menjadi Tombak dari gagang perak Panjang dengan ujung cula badak berwarna kuning emas.
Rangkas sudah di beritahu oleh Putri Ayu soal Pisau Emas yang biasa ia pakai itu adalah wujud pengalihan saja. Dan bentuk asli dari pisau itu adalah Tombak panjang sekitar dari bawah sampai pundak Rangkas dengan ujung cula badak. Tetapi Tombak itu pun bisa dijadikan pisau kembali dengan cara yang agak rumit bagi Rangkas.
"Bagaimana cara aku mengembalikan PUSAKA TOMBAK MAUT Ke wujud asli nya itu Nyai...???" Tanya Rangkas ketika melihat Putri Ayu mempraktekkan cara menggunakan Pisau Pusaka nya itu.
"Maksud mu merubah tombak ini ke wujud pisau emas itu???" Rangkas menganggukan kepala nya dan Putri Ayu langsung menjawab nya.
"Perhatikan Ini, Kau sudah aku beritahu soal merubah pisau emas itu menjadi tombak maut ini kan. Cara mengembalikan nya dengan cara menarik tali rumbai ini ke bawah yang ada digagang tombak ini." Lalu Putri Ayu Pun memperhatikan nya dan Rangkas pun menatap takjub melihat nya.
Tombak maut itu kini telah berubah menjadi pisau emas dengan gagang ukiran seekor ular perak. Putri Ayu lalu memberikan pisau itu kepada Rangkas dan berkata,
"Coba kau lakukan apa yang sudah aku praktekan tadi."
"Baiklah...." Jawab Rangkas dan ia lalu menekan mata ular di sebelah kanan yang ada di gagang pisau emas itu. Tak perlu waktu lama, hanya satu helaan napas saja pisau emas itu sudah memanjang menjadi tombak maut berujung cula badak.
"Kurasakan tombak ini berat sekali Nyai. Padahal waktu masih menjadi pisau tak seberat ini."
"Ya memang bentuk asli nya Memang seperti ini. Kekuatan yang ada di dalam tombak maut ini sangat besar dan kau bisa mencoba nya Rangkas."
"Benarkah? Bagaimana cara aku menggunakan nya Nyai? Seumur hidup ku aku tak pernah menggunakan tombak."
"Kau hanya perlu memusatkan pikiran mu saja Rangkas. Dengan sendiri nya Tombak Maut ini akan mengikuti gerak naluri mu. Coba serang aku dan pusatkan pikiran mu untuk menyerang ku!" Putri Ayu segera memasang kuda-kuda rendah dan Rangkas pun sudah siap untuk melawan Putri Ayu.
__ADS_1
Rangkas berdiri dengan kaki tegak merapat dan memegang gagang tombak itu sejajar dengan tubuh nya. Ia memejamkan mata nya untuk mencoba memfokuskan pikiran nya mengendalikan tombak itu. Putri Ayu masih menunggu Rangkas menyerang nya dan kemudian Rangkas memutar tombak maut itu di atas kepala nya dengan cepat. Bunyi 'Wung-Wung!!!' Terdengar mendengung keras dan Putri Ayu menyunggingkan senyum tipis di sudut bibir nya. Rangkas dengan cepat memutar tongkat itu memakai dua tangan dan langsung menghentakan nya ke arah Putri Ayu. 'Wushhh!!!' Hentakan dari pusaka tombak maut itu menyebabkan angin kencang dan cepat. Putri Ayu langsung menghindari nya dengan cepat dan ia kaget bukan main akan serangan dadakan itu.
Angin kencang itu menghilang di ujung danau sana dan Putri Ayu berteriak.
"Jangan bengong saja Rangkas, gunakan tombak itu untuk menyerang ku lagi!"
"Tapi bagaimana jika kau terluka dan terkena ujung tombak ini Nyai...???"
"Tak perlu kau takutkan soal itu Rangkas, Aku akan berusaha menghindari nya."
"Tapi..." Ucapan Rangkas terhenti karena Putri Ayu Menyerang Rangkas dengan tendangan cepat.
Rangkas kaget bukan main menerima serangan dadakan itu dan dengan refleks nya tangan nya yang memegang tombak pusaka itu menghadang kaki jenjang milik Putri Ayu. Tendangan Putri Ayu itu tertahan oleh tongkat itu dan Putri Ayu lalu memutar tubuh nya dan menendang kembali tubuh Rangkas memakai kaki kiri nya. Lagi-lagi Rangkas bisa menahan nya dan itu tanpa ia sadari sebelum nya bahwa ia hanya menggunakan insting nya tanpa menggerakkan tubuh nya.
Putri Ayu mundur tiga langkah dari Rangkas dan memegang kaki nya yang kesemutan.
"Kaki ku kesemutan ketika tertahan oleh gagang tombak itu. Aku baru merasakan bagaimana keras nya tombak itu ketika kaki ku tertahan." Lalu Rangkas menatap Tombak itu dengan takjub seraya berkata.
"Padahal aku tak menggerakkan tangan ku dan badan ku Nyai. Tombak ini seakan menuntun ku untuk melakukan tangkisan dan serangan."
"Itu tanda nya kau sudah menguasai Tongkat pusaka itu Rangkas. Aku sudah yakin kau mampu menggunakan nya tanpa perlu berlama-lama belajar menggunakan nya."
"Begitukah Nyai...???" Tanya Rangkas merasa kagum.
__ADS_1
"Benar Rangkas, ditambah kau sudah bisa membuka inti tenaga dalam mu dan hal itu salah satu hal yang wajib kau punya untuk menggunakan pisau pusaka itu."
"Terima kasih kau sudah membantu ku Nyai." Ucap Rangkas seraya menunduk hormat dan Putri Ayu berkata,
"Jangan dulu berterima kasih kepada ku Rangkas. Pelajaran yang aku berikan kepada mu itu belum selesai sepenuhnya. Masih ada beberapa tahap lagi agar kau bisa dengan mudah nya mengendalikan tombak itu tanpa perlu ragu lagi."
"Baiklah kalau begitu, lalu apa pelajaran selanjutnya Nyai...???" Putri Ayu memegang dagu nya dan menatap ke sekeliling danau bening itu.
Rangkas menatap Putri Ayu yang seperti orang mencari sesuatu dan Rangkas bertanya.
"Kau sedang mencari apa Nyai???"
"Kita akan pergi ke darat untuk mengajarkan mu ilmu bela diri."
"Memang nya kalau disini kenapa Nyai???"
"Di sini terlalu sempit! Ayo ikut aku." Lalu Putri Ayu terbang melayang dan Rangkas berseru.
"Tunggu Nyai...!! Bagaimana cara aku mengikuti mu? sedangkan aku tak bisa terbang melayang seperti mu." Putri Ayu berhenti di udara dan berseru.
"Kau juga bisa terbang seperti ku Rangkas...! Ayo cepat jangan bengong begitu!" Rangkas pun segera ingat akan keadaan diri nya yang hanya Arwah atau Sukma nya saja. Sedangkan raga aslinya masih tertidur pulas di alam manusia didalam kamar nya.
Rangkas pun mencoba terbang menggunakan gerak naluri nya dan ia kaget ketika tubuh nya terangkat naik.
__ADS_1
"Wow! Badan ku ringan sekali!" Ucap Rangkas dan ia lalu terbang mengikuti pergi nya Putri Ayu ke daratan. Rangkas terbayang akan Ranti yang ia temui di alam impian nya itu dan mengaitkan dengan danau bening itu.
'Seperti nya aku ketika bermimpi bertemu dengan Ranti saat itu aku berada di danau ini, tapi mengapa dia tak ada di sini sekarang???' Rangkas membatin begitu dan ia akan menanyakan nanti kepada Putri Ayu.