
TANGAN Rangkas akhirnya berhasil mengambil pisau emas itu dan ia segera menyabetkan nya ke arah lidah siluman kadal yang menjulur panjang dan mengikat kaki nya itu.
Crasss!!
"Ahhggggg!! hihah hu!!" Mungkin maksud siluman kadal itu lidah nya terpotong dan ia menjerit kesakitan. Rangkas berhasil lepas dari bahaya setelah ia berhasil memotong lidah panjang nya siluman kadal itu.
dan ia pun kini segera bangun. Kali ini Rangkas tak mau ceroboh lagi, ia segera mengancam siluman kadal itu.
"Cepat sebutkan dimana arah jalan yang benar dari ketiga jalan itu!!"
"ahuhhh...ahitt hekali hihahku.., ahu tah hahu hahingan!!" (haduh sakit sekali lidah ku, aku tak tahu bajingan!!) Siluman kadal itu merintih kesakitan dan Rangkas mulai hilang kesabaran nya.
Rangkas segera menekan salah satu mata ular yang ada digagang pisau emas itu dan seketika pisau emas itu berubah menjadi tombak berujung cula badak berwarna emas. Rangkas menodongkan ujung tombak itu ke arah kepala siluman ular itu.
"Jawab pertanyaan ku dengan jujur!! Jika kau berani menipuku, kepala mu akan akan hancurkan memakai tombak pusaka ini!!" Rangkas yang biasa nya berwatak kalem dan tak suka marah-marah itu kini terlihat berbeda dari biasa nya.
Wajah Rangkas yang tampan itu agak angker dengan kedua mata melotot ke arah siluman kadal itu. Sorot mata siluman ular itu nampak kalah energi dan ia segera berkata,
__ADS_1
"hatu-hatu ha halan hang henar ahalah hohoong hang aha hi hehahah hahan.." (Satu-satunya jalan yang benar adalah lorong yang ada di sebelah kanan)
"Hei bicara yang benar, aku tak bisa mengartikan ucapan mu itu!"
"Hohoh, hihahku shuhah Hau hohong!. Ahu, uhukuhukujuk, hoekkk!!" (Bodoh, lidahku sudah kau potong! aku,) Siluman kadal itu terbatuk-batuk sampai memuntahkan darah kental hitam yang cukup banyak.
Rangkas masih bingung mengartikan ucapan siluman kadal jelek itu. Ketika Rangkas ingin bertanya lagi, siluman kadal itu sudah tak bernyawa lagi.
"Sialan malah mati duluan dia!" Rangkas merasa kesal karena bingung mengartikan ucapan siluman kadal itu. Rangkas berjongkok disamping siluman kadal yang sudah mati itu, kemudian ia berusaha mengambil kembali anak panah nya yang tertancap dalam di tubuh siluman kadal itu.
"Susah sekali aku mencabut nya! Kalau begini cara nya aku harus menjagal tubuh siluman kadal ini! Tapi..., aku tak tega untuk melakukan nya." Rangkas pun tak mau ambil pusing, ia membiarkan salah satu anak panah nya itu tertinggal ditubuh siluman kadal itu.
Rangkas tak memperdulikan akan soal itu, ia kini sedang berpikir untuk memilih salah satu lorong jalan yang akan ia masuki.
"Di sini ada tiga lorong, satu berada di kiri dan satu lagi berada di kanan ku. Satu lagi berada dihadapan ku. Apakah aku harus memasuki lorong itu satu persatu-satu? Atau apa aku harus memulai nya dulu dari kiri, sehabis itu baru ke sebelah nya. Hmm seperti nya tak ada pilihan lain selain itu, gara-gara aku potong lidah siluman kadal itu, jdi susah dia berbicara dan membuat ku pusing sekarang." Rangkas kemudian melangkahkan kaki nya ke arah sebelah kiri lorong.
Keadaan disana memang gelap tanpa cahaya apapun, namun Rangkas bisa melihat jalanan rata dari lorong itu menuju ke suatu tempat. Rangkas berjalan dengan waspada sembari siap memegang tombak pusaka nya. Jika sewaktu-waktu ada bahaya didepan nya, Rangkas bisa menghalau nya. Kini Rangkas berbelok ke kiri dan disana ia terdiam sejenak. Aroma bau busuk dan bau Pesing air kencing tercium memualkan oleh Rangkas. Ia segera buru-buru pergi dari tempat itu sembari memakai,
__ADS_1
"Babi bunting! Aku pikir ruangan itu adalah jalan keluar dari gua ini, ternyata itu adalah tempat buang air nya si siluman kadal itu! huekkk! mual sekali rasa nya!" Rangkas meludah beberapa kali dan ia sekarang sudah tiba diruangan bundar sebelum nya.
Mayat siluman kadal yang dibunuhnya itu masih terbujur kaku ditempat nya. Rangkas lalu melangkahkan kaki nya ke arah tengah lorong itu. Ia berjalan mengendap-endap bagaikan seorang maling yang takut ketahuan. Mata nya sigap menoleh kesana kemari dan tetap tertuju ke arah depan nya. Rangkas terus saja menyusuri lorong panjang itu dan jalan nya kian menurun. Dijalanan turunan itu ada tangga ke bawah dan suasana ditempat itu sudah terang karena ada cahaya obor yang tersimpan di dinding gua itu.
"Apakah ini jalan menuju tempat tuan nya si siluman kadal buntung itu?" Ujar Rangkas berkata sendirian sambil ia melangkahkan kaki nya menuruni tangga yang terbuat dari batu yang tersusun rapi itu.
Rangkas mendengar suara seorang perempuan yang sedang merintih dan pelan-pelan Rangkas pun melambatkan langkah nya.
"Seperti nya aku mendengar ada suara seorang perempuan yang merintih." Memang benar apa yang didengar Rangkas itu, setelah Rangkas tiba di tangga terakhir. Disana ia mengintip ke arah ruangan tak terlalu lebar itu. Terlihat disana ada baru datar dan ada dua sosok yang sedang bercinta.
"Sialan! Aku pikir ada seorang perempuan yang merintih kesakitan, tak tahu nya perempuan itu sedang main kuda-kudaan dengan mahkluk jelek itu." Rangkas melihat dua sosok yang sedang bercinta di baru datar itu.
Sosok perempuan yang ia lihat itu wujud nya seperti manusia biasa, akan tetapi seluruh kulit tubuh nya pucat pasi seperti mayat. Sedangkan lelaki sang penunggang wanita itu berkulit hitam keling dan kepala nya gundul. Ditengah rambut nya ada rambut panjang yang di ikat dan dikuncir menjadi satu. Rambut kuncir Mahkluk Keling itu terlihat goyang-goyang tak beraturan karena tuan nya sedang memacu kuda betina.
Rangkas masih belum memastikan Mahkluk apa yang ia lihat itu karena ia sadar betul diri nya sedang berada di alam gaib. Rangkas segera menarik diri tak kuat berlama-lama melihat adegan panas itu. Namun telinga nya tetap mendengar erangan kenikmatan dari kedua Mahkluk itu dan semakin membuat Rangkas panas dingin. Rangkas ingin naik lagi ke atas, namun ia merasa malas karena jarak nya untuk naik akan lama lagi. Maka Rangkas memutuskan untuk diam-diam melintas dibelakang mereka menuju lorong diseberang sana. Tetapi nanti jika kedua Mahkluk itu sedang lengah dan tak memperdulikan sekitar nya.
...*...
__ADS_1
...* *...