
PUTRI Ayu masih berada di atap rumah penduduk itu dan keadaan disana sangat sepi sekali. Ia menatap ke arah pintu rumah tempat salah satu warga yang melarikan diri sebelum nya. Putri Ayu pun terbang melayang di udara dan mendaratkan kali nya ditanah. Ia berjalan ke arah rumah dengan atap nya ada lambang salib dan ia melihat di tengah lapangan itu ada banyak darah yang sudah kering.
"Hmm seperti nya kayu salib ditengah lapangan ini digunakan untuk menyiksa orang-orang yang bersalah. Hanya darah kering saja yang terlihat disini, tapi aku bisa melihat masa lalu bahwa di sini seringkali dijadikan tempat penyiksaan bagi warga yang berkhianat. Hmm menarik juga, seperti nya ada yang aneh dikampung ini." Setelah berkata begitu Putri Ayu pun mendekati rumah dengan kayu salib diatas tiang nya.
Ia mencoba membuka nya namun tak bisa,
"Pintu ini terkunci dari dalam! Meskipun aku mahkluk gaib, tapi di alam gaib ini aku tak bisa sembarangan keluar masuk rumah yang terkunci atau tertutup. Tak seperti di alam manusia dengan mudah nya aku menembus pintu dan tembok rumah." Putri Ayu masih berusaha membuka pintu rumah itu, namun ia gagal membuka nya. Putri Ayu lalu meninggalkan tempat itu dan mengikuti jalan setapak ke arah kiri.
Pada saat itu terdengar suara gong berbunyi dan Putri Ayu terdiam,
"Bunyi Gong? Seperti nya suara nya tak terlalu jauh!" Putri Ayu mencoba mendengarkan dengan teliti lagi dan bunyi Gong itu tak terdengar lagi. Hanya dua kali saja Gong itu berbunyi dan Putri Ayu menganggap itu hal yang biasa saja. Putri Ayu pun lanjut berjalan mengikuti jalan setapak itu dan ia berharap bisa menemukan petunjuk keberadaan Rangkas.
Saat itu Rangkas sudah membaik dan tenaga nya sudah pulih kembali. Ia lalu bangun dan berjalan menanjak lagi, kali ini tak ada tangga tapi jalan tanah nya yang menanjak. Lorong tak terlalu sempit itu berhenti di ujung sana, Rangkas melihat ada tangga yang terbuat dari kayu. Tangga itu menempel di dinding gua dan naik ke atas lubang di atas sana.
"Akhirnya aku menemukan jalan keluar!" Ucap Rangkas senang dan bersemangat. Tongkat pusaka nya sudah ia ubah menjadi pisau kembali dan ia selipkan di ikat pinggangnya. Rangkas menaiki tangga itu dan setiba di atas ia ternyata berada di dalam sumur tua.
Rangkas naik ke daratan dan disekeliling nya hanyalah hutan dengan pepohonan yang daunnya jarang. Ia masih asing akan keadaan alam disekitar nya itu dan Rangkas kemudian berjalan mengikuti jalan setapak didepan nya. Jalan setapak dari sumur tua itu mengarah ke sebuah rumah penduduk dan Rangkas pun bertekad akan memasuki rumah itu untuk menanyakan tentang dimana dirinya saat itu.
Tiba di depan rumah yang terbuat dari kayu papan itu, Rangkas masuk dan berkata permisi. Tak ada jawaban dari dalam rumah dan ia memaksakan untuk tetap masuk ke dalam rumah itu. Tiba di belokan ruangan, Rangkas melihat ada seorang kakek tua sedang duduk dimeja makan. Rangkas mendekati nya dan berkata,
__ADS_1
"Permisi kek, maaf jika aku tak sopan memasuki rumah mu. Aku hanya ingin bertanya padamu soal nama tempat ini." Orang yang ditanya Rangkas itu bangun dan kemudian memutar tubuhnya.
Wajah kakek tua itu putih pucat dan mata nya merah, mulut nya keluar cairan merah darah dan membuat wajah kakek tua itu semakin angker.
"Siapa kau ini?" Tanya kakek tua itu dan di tangan kanan nya memegang sebilah pisau.
"Aku hanya orang yang tersesat saja pak." Jawab Rangkas dan kakek tua itu bangun dari duduk nya dan berjalan mendekati Rangkas.
"Tersesat? apakah kau seorang pengembara?"
"Hmm iya kek." Ucap Rangkas mengiyakan saja.
"Kemari Nak, aku ingin memberitahu mu sesuatu." Rangkas mundur karena ia takut kakek tua itu menghujamkan pisau itu ke pada nya. Terlebih lagi Rangkas melihat tangan manusia di meja makan itu yang keadaan daging nya sudah koyak.
"Kemari Nak, jangan menjauhi ku. Aku ingin memberitahu mu jalan keluar dari tempat ini, heaaah!" Kakek tua itu menyerang Rangkas dengan beringas dan menghujamkan pisau ditangan nya itu.
Rangkas sudah sigap dan ia tak menghindari nya, Rangkas menangkis sabetan pisau kakek itu memakai pisau pusaka nya.
Trankk!! Prushh!! Seketika pisau kakek itu menjadi abu dan kakek tua itu semakin marah dan menyerang Rangkas. Rangkas telat menghindari terkaman kakek tua itu. Rangkas terjatuh dan kakek itu berada di atas nya berusaha ingin mencekik Rangkas. Pisau pusaka Rangkas terjatuh dan terlempar ketika Rangkas jatuh diterkam kakek gila itu.
__ADS_1
"Grrauwww mati kau penyusup!!" Kakek tua itu terus saja menggeram menyebut Rangkas adalah penyusup.
Rangkas belum memikirkan soal ucapan kakek itu, ia masih berusaha melepaskan tubuh kakek itu di atas nya. Rangkas pun lama-lama kesal juga dan ia lalu menendang perut kakek tua itu memakai tumit nya. Kakek tua itu berjungkir balik karena ditendang Rangkas cukup keras ke belakang Rangkas tubuh nya membentur dinding dan kepala nya jatuh duluan dilantai dengan keras. Rangkas segera bangun dan melihat kakek tua itu sekarat dengan leher terkilir di dekat dinding rumah itu.
"Kakek gila!! Aku ingin bertanya baik-baik padanya, tapi dia malah ingin membunuh ku!!" Kecam Rangkas kepada kakek tua yang sudah sekarat itu.
Pada saat itu ada yang melempar rumah itu dengan batu api.
Brasss!! Prannkk!! Kaca dan dinding rumah itu pecah karena dilempari batu yang terbakar. Rangkas segera naik ke lantai atas karena ia takut terkena lemparan batu yang dilapisi oleh api itu.
"Siapa mereka? mengapa rumah ini mereka lempari dengan batu berlapis api!?" Ujar Rangkas merasa heran dan ia melihat beberapa penduduk melempari batu tadi ke arah rumah itu.
Perlahan asap mulai mengepul dirumah itu dan Rangkas baru menyadari bahwa batu berapi itu sengaja dilemparkan untuk membakar rumah itu.
"Lempar terus!! Bakar penyusup itu!!" Teriak salah satu warga kepada warga yang lain nya.
"Penyusup!? Apakah aku dicurigai sebagai penyusup oleh mereka? kalau begini cara nya aku harus bertahan hidup untuk bisa keluar dari alam gaib ini! Seperti nya kedatangan ku telah diketahui oleh pimpinan mereka, tapi bagaimana bisa mereka tahu akan siapa aku ini?" Rangkas tak punya banyak waktu lagi untuk memikirkan hal itu.
Ia lalu meloncat keluar melewati kaca lantai atas itu dan kaca itu pecah. Rangkas meluncur ke bawah dan ia segera bangun karena para warga menyerang nya dengan lemparan batu berapi itu. Rangkas menghindari nya dan segera mencabut anak panah nya. Ia berlindung di balik pohon besar dan membidik satu persatu para WARGA **KAMPUNG** JAHAT Yang melempari nya memakai batu berapi itu.
__ADS_1