
KETIGA Orang itu berkeliling melihat semua kuburan yang retak dan amblas itu. Tak ada mayat satu pun yang ada di dalam kuburan itu. Tapi bau busuk dari mayat tersebut masih tercium menyengat.
"Sepertinya si Gandaria sudah melakukan penyerangan ke Kerajaan Angkor Pura itu!" Ujar Pangeran Dirgantara.
"Benarkah? kalau begitu kita harus segera pergi kesana!" Ujar Putri Ayu.
"Jangan dulu! Kita harus tetap waspada dahulu sebelum melanjutkan langkah kita! Kita pergi ke dalam kuil itu dulu, siapa tahu si Gundalini ada di dalam untuk menjaga dua peti mayat itu."
"Peti Mayat?" Tanya Rangkas berkerut dahi nya dan Putri Ayu pun mengerutkan dahi nya tanda penasaran.
"Lalu siapa yang membangkitkan semua mayat di dalam kuburan ini?" Tanya Putri Ayu.
"Siapa lagi kalau bukan si Gandaria itu, ia memiliki ilmu pembangkit mayat dan dulu nya ia memiliki julukan nama 'PAWANG JENAZAH'."
"Hebat sekali, seumur hidupku baru kali ini aku mendengar ada orang yang mampu menghidupkan orang yang sudah mati." Ujar Rangkas merasa kagum.
"Memang ilmu yang sangat langka, tapi aku pernah menyaksikan nya dulu." Ujar Pangeran Dirgantara dan Putri Ayu bertanya.
"Hmm begitu, hebat juga dia berarti." Putri Ayu pun merasa kagum mendengar nya.
Pangeran Dirgantara pun segera berkata,
"Sudah ikuti aku, aku akan tunjukan dua peti mayat milik si Gandaria itu." Rangkas dan Putri Ayu pun mengikuti Pangeran Dirgantara sampai tiba di aula tengah kuil Wayangsa itu. Tak ada siapa-siapa disana, tapi disana masih banyak bekas darah dan berbau anyir. Pangeran Dirgantara lalu berjalan lagi ke belakang singgasana Gandaria dan ada ruangan yang ditutup memakai gordeng permadani dengan lambang iluminati. Mereka bertiga masuk ke dalam lorong itu hingga berbelok ke arah kiri dan ada dua ruangan kiri dan kanan.
"Di kanan ini adalah tempat tidur nya si Gandaria. Kita pergi ke sebelah kiri saja, peti mati itu ada di dalam sini." Lalu Pangeran Dirgantara membuka pintu itu dan pintu tersebut tak terkunci sama sekali.
Ketiga nya masuk ke dalam dan aroma didalam ruangan itu semerbak bau kemenyan bercampur wangi kayu Cendana. Di dalam ruangan itu ada dua peti mati yang masih terawat bersih. Putri Ayu dan Rangkas melihat ke arah atas kaca peti mati itu. Ada seorang perempuan cantik terbaring dan satu lagi seorang kakek tua berpenampilan model biksu.
__ADS_1
"Orang tua ini adalah guru agung nya si Gandaria itu, dan perempuan ini adalah istri nya si Gandaria sekaligus anak nya orang tua ini." Ujar Pangeran Dirgantara memberi tahu.
"Jadi mereka berdua ini mati karena ikut terbantai juga?" Tanya Putri Ayu.
"Iya memang benar, menurut cerita Gandaria ketika ia menunjukan alasan mengapa ia sangat berambisi sekali ingin membalas dendam nya kepada Raden Aji Sakro, karena kedua dia jasad inilah alasan nya." Lalu Rangkas berkata,
"Apakah dua jasad ini di awetkan jasad nya kang???"
"Benar Rangkas, Gandaria telah membalsam seluruh tubuh guru nya dan istri nya ini. Ia sangat sayang sekali kepada istri nya dan juga kepada guru nya ini. Maka nya ia awetkan dua orang paling berharga di hidup nya ini. Niat nya memang bagus karena bertanggung jawab membalaskan dendam kedua orang ini, tapi hanya cara nya saja yang salah."
"Maksud mu?" Tanya Putri Ayu tak mengerti.
"Gandaria masih merasa kalah ilmu dengan Raden Aji Sakro jika mereka berdua berduel dalam Pertarungan. Seluruh ilmu guru nya yang sudah ia miliki tak mampu mengalahkan kesaktian ilmu Raden Aji Sakro itu. Makanya ia bersekutu dengan Raja Iblis dan meminta kekuatan ilmu maha sakti untuk menaklukan Raden Aji Sakro."
"Apa Raja Iblis itu telah memberikan kekuatan ilmu nya kepada Gandaria?"
"Oh jadi ilmu pembangkit mayat itu ia dapatkan dari raja iblis itu..." Ucap Putri Ayu baru tahu sekarang.
Lalu Rangkas bertanya karena penasaran,
"Soal sebuah pusaka yang diberikan oleh raja iblis itu bagaimana bentuknya kang?"
"Aku belum pernah melihat nya, sebab ia belum pernah memperlihatkan nya kepada semua anggotanya." Putri Ayu manggut-manggut dan Rangkas berkata,
"Kalau begitu, mengapa dua orang ini tak di hidupkan saja oleh Gandaria? bukan nya ia memiliki ilmu pembangkit mayat?"
"Aku juga tak tahu alasan nya mengapa dua orang ini tak ia hidupkan, padahal untuk apa ia menyimpan dua mayat ini jika nanti ia mati ditangan kita atau ditangan si Raden Aji Sakro itu."
__ADS_1
"Sepertinya sengaja disimpan hanya untuk dikenang saja." Ujar Putri Ayu.
"Mungkin saja." Ujar Pangeran Dirgantara.
Mata Rangkas tak sengaja melihat ada gerakan tangan dari dua mayat itu.
"Hei lihat tangan dua mayat ini bergerak-gerak!" Ucap Rangkas memberi tahu dua rekan nya itu. Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara ikut melihat ke dalam dua peti mati itu. Memang benar, dua jari tangan dua mayat itu bergerak-gerak pelan. Mereka bertiga masih menatap keanehan itu dan di sisi lain, rombongan Gandaria bersama para pasukan mayat nya itu tengah berhenti di satu tempat lapangan cukup luas. Jalur itu mengarah ke Kerajaan Angkor Pura tapi perjalanan mereka masih cukup jauh.
Gandaria mengangkat tangan nya ke atas dan mengepal kuat. Semua pasukan nya berhenti dan pasukan mayat itu nampak beringas menahan lapar. Wajah Gandaria terpejam karena ia merasakan ada yang sedang memasuki Kuil Wayangsa.
'Si brengsek Dirgantara itu berani-beraninya memasuki ruangan itu! Hmm benar, ternyata dia bersekutu dengan dua orang penyusup itu!' Gandaria membatin begitu karena ia melihat jelas apa yang ada di dalam ruangan tempat peti mayat itu.
Didalam ruangan itu memang ditanamkan sebuah ilmu milik Gandaria untuk menjaga dua peti mayat itu dari para penyusup. Ia bisa melihat ketiga orang itu memakai ilmu nya itu dan saat itulah Gandaria memainkan jurus pembangkit mayat nya. Kali ini berbeda, ia hanya membuka pembatas mayat itu memakai mantera. Sebab, dua mayat itu sudah dirasuki arwah dan dipaksa tidur oleh Gandaria.
Mata dua mayat itu pun terbuka dan tatapan mata nya tajam berwarna merah. Putri Ayu, Rangkas dan juga Pangeran Dirgantara segera mundur karena kaca peti mati itu ditendang oleh dua mayat itu hingga pecah.
brakkk Prankkk!!
"Mengapa mereka bisa hidup!?" Ujar Rangkas tegang.
"Apakah Gandaria bisa menghidupkan orang mati dari kejauhan?" Tanya Putri Ayu kepada Pangeran Dirgantara.
"Aku tak tahu soal itu, tapi kita harus tetap waspada jika dua mayat itu menyerang kita. Jika mereka menyerang, kita harus melawan mereka!" Tegas Pangeran Dirgantara dan dua mayat itu lalu bangun dan berdiri menghadap ketiga orang itu.
...*...
...* * ...
__ADS_1