TerSesat

TerSesat
PERTEMUAN MENGHARUKAN


__ADS_3

LUBANG Di tengah kepala tengkorak kambing itu menyala merah dan Putri Ayu langsung menyuruh Rangkas memegang pundak kanan nya. Pangeran Dirgantara pun disuruh Putri Ayu untuk memegang pundak kiri nya dan Pangeran Dirgantara tak menolak nya. Tak lama kemudian tubuh mereka bertiga tersedot masuk ke dalam lubang kecil itu dan dalam sekejap mereka sudah menghilang dari tempat itu.


Pada saat itu ada sesosok yang melihat kepergian Putri Ayu, Rangkas dan pangeran Dirgantara. Sosok itu adalah siluman burung hantu yang sebelumnya disuruh untuk mengambil semua mayat-mayat para penduduk yang mati untuk disatukan di Kuil Wayangsa. Gandaria dan Gundalini tak jadi menghidupkan para mayat itu karena Samiri tiba-tiba saja datang tergopoh-gopoh memberitahukan bahwa Karsani tewas ditangan rekan nya sendiri yaitu Pangeran Dirgantara.


Gandaria murka karena rekan seperjuangan, seperjalanan, seperguruan satu-satunya itu tewas ditangan anggota nya sendiri. Samiri pun menceritakan bahwa Pangeran Dirgantara bersekongkol dengan dua penyusup yang berhasil kabur itu. Gandaria semakin murka saja dan ia membabi buta menghancurkan dinding kuil itu. Emosi nya tak tertahankan lagi dan ia hendak pergi mencari mereka. Tapi Samiri mencegah nya karena tujuan nya dayang ke kuil itu pun ingin memberitahu soal para warga yang sudah menjadi mayat.


Kemarahan Gandaria masih ada, Namun ia segera menyuruh sisa dua anak buah nya itu untuk mengambil semua mayat-mayat yang terlantar itu untuk dibawa ke kuil itu. Gundalini dan Samiri akhir nya diperintahkan untuk membawa semua para warga penduduk yang sudah menjadi mayat dan Gundalini lah yang terakhir berada di kampung itu dan ia melihat Putri Ayu, Rangkas serta Pangeran Dirgantara bersekutu hingga pergi masuk ke dalam gerbang alam gaib dikepala tengkorak kambing itu.


Gundalini pun mendekat kepala tengkorak kambing yang menempel di batang pohon tak terlalu besar itu. Gundalini lalu menghancurkan kepala tengkorak kambing itu memakai ilmu tenaga dalam sinar nya.


"Mampus kalian bertiga!! Aku yakin kalian akan tersesat di dimensi gaib lain nya dan tak akan bisa kembali lagi ke dimensi alam ini!! hahaha!!" Gundalini segera membawa satu mayat terakhir dikampung itu untuk ia bawa ke Kuil Wayangsa.


Sedangkan di alam manusia, dua orang yang di utus untuk memanggil seorang dukun di kampung tegalsari itu sudah kembali lagi. Mereka mengatakan bahwa dukun itu tak ada dirumah nya dan dirumah nya sama sekali tak ada siapapun.


"Kami sudah datang kesana dan pintu rumah nya terkunci dari luar. Kami yakin Ki Gundalini sedang tak ada di rumah nya." Ujar warga yang disuruh menemui dukun itu oleh pak Kades.


Pak Kades dan Pak Kepala Polisi saling tatap dan kemudian mereka berencana akan menunda lagi pencarian Rangkas yang hilang itu karena hari sudah semakin sore. Kini mereka semua nya kembali ke kampung Tegalsari dan meninggalkan hutan belantara itu. Sosok siluman ular bertanduk yang mengintip keramaian itu dari jauh hanya terdiam saja tak melakukan gerakan apapun dan ia belum tahu pasti apa tujuan para manusia itu ada dihutan itu ramai-ramai.

__ADS_1


Rangkas, Putri Ayu dan Pengarang Dirgantara yang sebelum nya pergi dari alam dimensi siluman itu pun akhirnya keluar dari dalam lubang kepala kambing yang ada di rumah nya Rangkas. Rangkas terjatuh tak terlalu keras dan dua orang lain nya Yakni Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara tak nampak wujud nya di alam manusia. Tapi Rangkas bisa melihat kedua nya karena mata batin nya sudah terbuka.


"Kita pulang Nyai!" Ucap Rangkas kaget bercampur girang. Putri Ayu hanya tersenyum saja sambil berkata,


"Kulihat Ibu mu menangisi mu terus dikamar mu Rangkas. Mungkin ia mengira bahwa diri mu menghilang ketika dihutan dan tak ditemukan keberadaan nya." Rangkas langsung berlari ke kamar Ibu nya dan tak menemukan siapapun disana.


"Emak dimana? Rangkas sudah pulang." Ujar Rangkas memasuki semua ruangan di rumah itu.


Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara hanya diam saja melihat Rangkas yang gelisah itu.


"Aku tak menemukan Emak ku Nyai." Ujar Rangkas nampak sedih, kemudian Pangeran Dirgantara berkata.


"Iya aku pun melihat nya, sepertinya ibu mu berada bersama rombongan orang-orang itu Rangkas." Rangkas secepat kilat langsung pergi keluar rumah dan ia melihat di jalan setapak menanjak menuju hutan belantara banyak Rombongan orang-orang kampung Tegalsari bersama orang-orang pihak kepolisian menuruni jalan turunan itu.


Disamping itu ada Ibu nya Rangkas yang tak henti-henti nya menitikan air mata nya karena sangat terpukul kehilangan anak semata wayang nya.


"Maaaaaakkkk....!" Teriak Rangkas dan mata nya sudah mengeluarkan air mata. Teriakan tersebut membuat Rombongan itu menatap ke arah rumah Suminah yang tak terlalu jauh dari jalanan tersebut.

__ADS_1


"Rangkas!? Anak ku...!" Ucap Suminah kaget dan ia segera berlari menuju Rangkas yang berlari juga ke arah nya.


Kedua nya lalu berpelukan dan menangis histeris mengingat ikatan anak dan ibu yang sangat kuat itu. Para warga kampung Tegalsari dan para anggota kepolisian nampak haru melihat PERTEMUAN MENGHARUKAN Antara Ibu dan anak itu. Rangkas meminta maaf kepada ibu nya bahwa ia tak mendengarkan ucapan ibu nya yang telah melarang Rangkas pergi berburu sebelum kejadian hilang nya Rangkas.


"Maafkan Rangkas Mak, hixhixhix. Rangkas tak mendengarkan larangan Emak untuk tidak pergi berburu ke hutan. hixhixhix."


"Padahal Emak sudah punya firasat buruk padamu Nak, hixhixhix. Emak sangat bersyukur sekali karena kau masih baik-baik saja Nak. hixhixhix."


"Rangkas baik-baik saja Mak, Tanpa pertolongan Nyai Putri mungkin Rangkas sudah mati dan tak akan bertemu dengan Emak lagi. hixhixhix." Ucapan Rangkas itu membuat orang-orang yang melihat keharuan itu saling tatap karena tak mengerti akan Nyai siapa yang Rangkas maksud itu.


Suminah menatap wajah anak nya itu dan bertanya,


"Siapa yang telah menyelamatkan mu Nak? Emak ingin berterima kasih banyak pada nya." Rangkas lalu memutar tubuhnya ke belakang sambil berkata.


"Itu Mak orang nya yang perempuan berwajah cantik jelita." Suminah menatap ke belakang Rangkas dan tak ada siapa-siapa disana. Para warga pun yang sejak tadi memperhatikan keharuan itu nampak aneh melihat Rangkas dan ada yang mengira bahwa Rangkas sudah gila.


"Tak ada siapapun dibelakang mu Nak."

__ADS_1


"Itu Mak, dibawah pohon itu ada dua orang yang sedang menghadap kepada kita. Memang nya Emak tak bisa melihat mereka?" Tanya Rangkas lagi dan ia belum sadar bahwa Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara adalah mahkluk tak kasat mata yang tak sembarangan orang bisa melihat nya.


__ADS_2