TerSesat

TerSesat
TINDAKAN GEGABAH


__ADS_3

GANDARIA Berjalan dengan di ikuti oleh Samiri serta Gundalini. Kedua anak buah nya itu masih sehat dan belum terkena luka apapun dalam Pertarungan itu. Beberapa pasukan khusus yang mengatur isi istana pun turun tangan, karena Raja Mereka itu tak kunjung tiba disana.


"Hei para berdebah!! Mana Raja kalian itu hah!? Apa dia bersembunyi dan takut menghadapi ku!? Hahahaha!!" Ujar Gandaria Menggertak.


"Raja kami sebentar lagi akan tiba dan akan ******* habis tubuh gempal mu setan alas!!" Ujar ketua prajurit khusus itu dan Gandaria pun membalas nya.


"Raja kalian itu tak ada apa-apa dihadapan ku sekarang!! Dulu memang aku yang kalah, tapi sekarang jangan berharap Raja Kalian bisa menang lagi!!"


"Apa urusan mu menyerang kerajaan ini hah!? Seharus nya kau sadar diri dan beruntung kala itu kau tidak dibunuh oleh Raja Kami!!" Tanya Ketua pasukan khusus itu ingin tahu.


"Apa Kau bilang? Kau tanya kenapa!? Sadar diri sialan!! Kalian telah membantai perguruan ku tanpa ada alasan yang jelas!! Sekarang aku membantai kalian hanya untuk membalaskan dendam guru ku dan juga istri ku!! Akan ku hancurkan tubuh si Aji Sakro itu biar dia tahu bagaimana nikmat nya di siksa di neraka!!"


"Jahanam!! Serang mereka!!" Perintah ketua pasukan khusus itu dan anak buah nya yang ada dua puluh orang itu mengepung tiga orang itu dengan masing-masing membawa senjata tajam berupa pedang yang terbuat dari perak murni.


Dua puluh pasukan khusus itu mengepung Gandaria dan dua anak buah nya itu. Kemudian mereka langsung menyerang menebaskan pedang-pedang nya nya ke arah mereka. Gandaria pun berjungkir balik ke atas untuk menghindari kepungan itu dan dua anak buah Gandaria tetap berada di situ untuk melawan ke dua puluh pasukan itu. Gandaria menyerahkan nya kepada anak buah nya karena ia yakin dua anak buah nya itu tak akan dikalahkan semudah itu. Gandaria menyerang ketua pasukan khusus itu dan terjadilah pertarungan diantara kedua nya.


Rangkas dan Putri Ayu serta Pangeran Dirgantara tiba di hutan atas kerajaan Angkor Pura. Disana adalah jalan tercepat menuju Kerajaan Angkor Pura.


"Tak kusangka jalan itu akan menembus kemari, ini adalah hutan tempat Ayah ku melatih ku ilmu Kanuragan." Ujar Putri Ayu teringat akan kenangan nya bersama Ayah nya dulu. Dihutan itu memang banyak bekas-bekas pertarungan dan pohon-pohon yang rompal akibat serangan ilmu tenaga dalam sinar.

__ADS_1


Semua itu bekas latihan Putri Ayu dengan digembleng oleh Ayah nya langsung. Rangkas nampak kagum melihat istana megah yang berdiri dibawah bukit hutan itu dan ia nampak terheran-heran dengan kepulan asap tebal memanjang sejauh mata memandang. Pangeran Dirgantara pun melihat apa yang sedang dilihat oleh Rangkas.


"Sepertinya pasukan mayat nya di Gandaria itu telah melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Angkor Pura. Disana sudah banyak bangunan-bangunan yang terbakar dan mayat-mayat yang bergelimpangan." Putri Ayu lalu melihat ke bawah dan ia membenarkan apa yang di lihat oleh Pangeran Dirgantara itu.


Putri Ayu lalu menyipitkan mata nya dan menunjuk ke arah pintu gerbang istana.


"Seperti nya orang tinggi besar itu adalah si Gandaria yang sedang bertarung dengan salah satu prajurit nya si Raden Aji Sakro."


"Iya benar, aku juga melihat si Samiri dan si Gundalini sedang menghadapi para prajurit-prajurit itu." Ujar Pangeran Dirgantara dan saat itu gigi Rangkas menggeletuk dan mata nya menyipit penuh kebencian.


Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara mendengar geletukan gigi Rangkas dan kedua nya menatap Rangkas.


"Haruskah kita bergerak sekarang?"


"Tunggu dulu, jangan gegabah! Raden Aji Sakro belum muncul dan itu arti nya sangat berbahaya bagi kita untuk terang-terangan menyerang mereka." Putri Ayu berkerut dahi nya lalu bertanya.


"Memang nya kenapa???"


"Dia itu licik! Jika kau terang-terangan terlihat oleh nya, maka tanpa pertarungan pun kau akan mati oleh nya Putri! Ingat ia orang licik dan tak peduli ia menang pertarungan meskipun dengan cara kotor!"

__ADS_1


"Benar juga apa yang kau katakan itu. Sebaiknya kita tunggu saja si Raden Aji Sakro itu muncul dan setelah itu baru kita menyerang nya."


"Lebih baik begitu, jadi kita bisa berhadapan dengan nya langsung." Ujar Pangeran Dirgantara tanpa mereka berdua sadari, Rangkas diam-diam sudah turun dengan cara menjatuhkan diri nya dan ia yakin bahwa dirinya bisa terbang kalau dia sedang berada di alam gaib. TINDAKAN GEGABAH Rangkas itu patut dicoba jika ia ingin membuktikan kekuatan yang dimiliki nya itu.


Ternyata benar saja apa yang dipikirkan Rangkas, ketika ia menyalurkan inti tenaga dalam nya itu ke seluruh tubuh nya dan tubuh nya pun bisa melayang seperti burung. Rangkas baru merasakan kali ini terbang memakai tubuh asli nya dan Putri Ayu serta Pangeran Dirgantara yang awal nya panik melihat Rangkas menjatuhkan diri ke bawah bukit itu, kini kedua nya menjadi lega. Tapi kelegaan mereka segera sirna karena mereka melihat Raden Aji Sakro berdiri di teras istana yang berada di lantai dua nya.


Kedua nya saling tatap karena bingung harus berbuat apa, lalu kedua nya putuskan untuk mengejar Rangkas. Kedua nya terbang melesat cepat ke arah Rangkas yang sebentar lagi akan turun ditanah. Gandaria berhasil membuat ketua pasukan khusus itu kewalahan dan serangan nya selalu ditangkis oleh Gandaria memakai cambuk pusaka nya itu.


Samiri berhasil membunuh lima orang pasukan khusus itu, tapi lengan kiri nya kena tebasan pedang hingga hampir putus. Gundalini berhasil membunuh delapan pasukan khusus itu dan tubuh nya masih sehat-sehat saja. Gundalini masih bersemangat melawan para musuh nya itu dan ia segera menolong Samiri yang kewalahan.


"Kau tak apa-apa Samiri!?" Tanya Gundalini.


"Tak apa-apa gundulmu! Lihat tangan ku ini hampir putus!" Ujar Samiri menahan sakit dan tangis.


"Sebentar aku akan obati setelah membunuh dua orang yang mengejar kita itu!"


"Baiklah!" Ujar Samiri dan Gundalini dengan gesit nya membunuh dia pasukan khusus itu dengan ilmu sihir nya dan membuat seakan keris yang ia lemparkan itu tak memiliki kekuatan.


Kekuatan sihir Gundalini telah membuat keris nya menjadi ular dan langsung menembus dua tubuh pasukan itu dengan cepat. Sisa lima pasukan lagi yang mengepung mereka berdua dan Samiri segera menyentakan tangan kiri nya yang masih memegang pedang itu ke arah lima pasukan itu. Lima pasukan itu menghindari serangan sinar tenaga dalam nya Samiri dan disaat itulah kelengahan mereka berlima dimanfaatkan oleh Gundalini untuk menghabisi nyawa mereka semua nya.

__ADS_1


__ADS_2