
Napas Putri Ayu masih normal dan bicara nya pun masih lancar, hanya wajah nya saja yang terlihat babak belur dan Rangkas sangat sedih melihat wajah Putri Ayu yang ia kagumi kecantikan nya itu kini telah babak belur tak beraturan. Saat itu Raden Aji Sakro Murka dan ia segera bangun dari terjatuh nya itu.
"Bocah kurap!! Kau rupanya yang menyerang ku!" Ujar Raden Aji Sakro yang berdiri setengah berlutut.
Rangkas menatap wajah Raden Aji Sakro dengan heran karena ia tak menemukan anak panah nya yang lepaskan itu.
"Heran mengapa dia masih hidup!? Padahal aku melihat anak panah ku mengenai kepala nya!"
"Dia punya ilmu kebal! Kau harus menggunakan pisau Ranca Cula untuk membunuh nya!" Ujar Putri Ayu yang saat itu sedang berusaha disembuhkan oleh Rangkas.
Rangkas segera membopong Putri Ayu menjauhi tempat itu karena ia takut nanti pertarungan nya dengan Raden Aji Sakro akan mengenai nya.
"Kau akan membawa ku kemana Rangkas."
"Aku akan memindahkan ku." Ujar Rangkas yang kini ia sudah ada di depan istana itu dan Putri Ayu di dudukan dengan bersandar pada dinding istana tersebut.
Raden Aji Sakro melihat Rangkas dan berteriak.
__ADS_1
"Jangan lari kau setan!" Lalu Raden Aji Sakro langsung menghentakkan tangan nya ke arah Rangkas dan Rangkas menahan nya memakai pisau Ranca Cula yang sudah ia jadikan pusaka tombak maut. Serangan tenaga dalam Pangeran Aji Sakro mental kembali kepada pemilik nya dan hal itu membuat nya kaget. Raden Aji Sakro cepat-cepat menghindar dan ia nampak kaget karena baru kali ini serangan nya itu ada yang bisa membalikan nya.
Rangkas berhenti memutarkan tombak pusaka itu dan lalu berjalan pelan dengan gagah ke arah Raden Aji Sakro.
"Kau harus menebus semua dosa-dosa mu itu di neraka lelaki biadab!" Ujar Rangkas sengaja ingin membuat lawan nya marah.
"Kurang ajar sekali kau bocah kencur!" Lalu Raden Aji Sakro segera menebaskan pedang nya ke arah leher Rangkas dengan cepat dan Rangkas menangkis nya.
Tranggg!! Dua senjata itu beradu dan memercikan bunga api serta suara denting keras.
Lalu Raden Aji Sakro langsung memutar tubuh nya untuk menebas perut Rangkas dan Rangkas lalu menahan nya kembali dengan tombak nya itu. Raden Aji Sakro terus saja menyerang Rangkas memakai pedang berapi nya itu dan Rangkas masih bisa menangkis serangan itu. Hingga Raden Aji Sakro pun semakin murka, ia lalu melemparkan pedang nya itu ke arah Rangkas dan ujung pedang nya menyala merah ingin menghantam tubuh Rangkas.
Putri Ayu hanya bisa melihat pemandangan mengerikan dari akibat ledakan itu tadi. Hawa dingin bercampur hawa panas menyatuh dan terjadilah suasana hangat ditempat itu Putri Ayu melihat tombak pusaka maut milik Rangkas masih utuh dan tertancap ditanah. Sedangkan pedang panjang milik Raden Aji Sakro telah hancur berkeping-keping.
Ledakan dahsyat itu telah mengakibatkan istana kerajaan Angkor Pura itu mulai runtuh. Putri Ayu mengingat kejadian ketika dihalaman istana itu ia dan keluarganya sedang mengadakan pesta pernikahan dengan Raden Aji Sakro beserta Ayah nya. Kenangan manis bercampur pahit itu masih diingat Putri Ayu dan ia menangis karena dendam keluarga nya selama ini belum terbalaskan. Putri Ayu sudah siap mati karena bagi nya hidup pun sudah tak mungkin lagi, melihat keadaan nya yang parah itu ditambah kekasih hati nya yaitu Pangeran Dirgantara sudah mati lebih dulu. Semakin kecil kemungkinannya untuk ia melanjutkan hidup. Meskipun masih ada Rangkas, Putri Ayu tak bisa bersama dengan Rangkas karena mereka berbeda alam.
Saat itu Rangkas segera bangun dan melihat Raden Aji Sakro pun bangkit dari terlempar nya. Mata mereka berdua nampak sama-sama menatap nanar dan dengan cepat Raden Aji Sakro segera menyerang Rangkas. Rangkas telah menangkis dan perut nya terkena sodokan lutut nya Raden Aji Sakro. Rangkas jatuh menunduk dan kepala nya ditendang oleh Raden Aji Sakro. Wajah Rangkas terdongak ke atas dan ia melihat Raden Aji Sakro ingin menendang wajah nya. Saat itulah kesempatan Putri Ayu menyerang Raden Aji Sakro dengan ilmu teman dalam simpanan nya.
__ADS_1
Cahaya kuning sebesar jarum meleset cepat ke arah tengkuk Raden Aji Sakro dan saat itu Raden Aji Sakro diam mematung karena serangan Putri Ayu tadi membuat darah Raden Aji Sakro membeku hanya beberapa detik saja. Disaat itu lah Rangkas segera meninju wajah Raden Aji Sakro dengan cepat dan tanpa ampun Rangkas mengikut wajah Raden Aji Sakro bertubi-tubi. Rangkas membalaskan apa yang dilakukan oleh nya itu kepada Putri Ayu.
Tapi Raden Aji Sakro malah tertawa karena pukulan Rangkas sama sekali tak membuat nya sakit.
"Percuma saja kau memukulku! Aku kebal pukulan dan senjata tajam!"
"Jangan senang dulu kau bajingan!" Ujar Rangkas yang kini telah berhasil mengambil tombak pusaka nya itu. Rangkas lalu memutar tombak itu didepan nya dan Raden Aji Sakro dengan buas nya segera menyerang Rangkas memakai tangan kosong.
Rangkas memutar cepat tombak itu dan angin kencang berhembus menerpa tubuh Raden Aji Sakro. Kaki Raden Aji Sakro tak henti-henti nya bertahan dan sekuat tenaga ia mengerahkan tenaga nya agar ia tak terhempas arus angin badai itu. Rangkas semakin mempercepat putaran itu dan akhirnya Raden Aji Sakro pun terlempar hingga menabrak dindin benteng hingga dinding benteng itu ambrol sebagian.
Rangkas menghentikan putaran tombak nya itu dan kemudian menyentakan ujung tombak itu dan keluarkan sinar perak ke emasan melesat cepat ke arah tubuh Raden Aji Sakro. Raden Aji Sakro melihat bahaya itu datang menghampiri nya, Namun ia telat menghindar karena tubuh nya tergencet dinding benteng itu.
Sinar serangan Rangkas tadi mengenai tubuh Raden Aji Sakro dan disaat itu pula tubuh Raden Aji Sakro menjadi patung untuk selama-lamanya. Akhirnya Rangkas berhasil mengalahkan lawan nya dan membuat Putri Ayu semakin menangis haru. Kini DENDAM Putri Ayu sudah TERBALASKAN Melalui perantara Rangkas yang selama ini telah dilatih nya itu.
Disaat itu pula Rangkas segera berjalan tertatih-tatih ke arah Putri Ayu yang menangis menatap nya dan ia melihat bangunan istana itu mulai runtuh.
"Nyai!" Teriak Rangkas dan ia segera pergunakan sisa kekuatan nya itu untuk menolong Putri Ayu.
__ADS_1
Putri Ayu berhasil Rangkas bawa dan setelah Rangkas pergi dari situ, Istana itu langsung ambruk seluruh nya dan menyebabkan gempa kecil disekitar nya. Rangkas berhenti agak jauh dari istana itu dan ia menurunkan Putri Ayu dari gendongan nya. Putri Ayu masih menangis dan saat itu ia memeluk Rangkas dengan erat dan Rangkas pun ikut sedih juga lalu ia pun memeluk Putri Ayu dengan erat juga.