
Bong cheol menutup teleponnya. Ia memberi tahu seseorang untuk memulai sandiwaranya. Hari itu ia akan mempermainkan hidup seorang letnan marinir muda yang di kirim seseorang untuk menangkap dirinya.
"Dimana Baek song?" tanyanya pada anak buahnya yang lain.
"Dia sudah siaga tuan" jawab kirei.
"Hmm,,sambungkan aku dengannya sekarang juga" perintah Bong.
"Baik."
Kirei menekan beberapa angka dan tersambunglah telepon pada nomor yang dituju.
"Kau sudah siaga?" tanya Bong pada Baek.
"Iya tuan, aku sedang memata-matainya"
"Apa Mika sudah pergi?"
"Belum tuan, mereka sedang bercakap-cakap" jawab Baek song.
"Habisi dia hari ini. Jangan sampai gagal."
"Baik"
__ADS_1
Telepon ditutup. Bong menghisap rokok dengan campuran ganja di dalamnya. Ia menikmati detik-detik kematian musuhnya.
Sembari menghembuskan asap rokok tebal dari mulutnya. Ia begitu menyukai cara kerja pria itu. Tetapi sayang, pria itu membuatnya menjadi target utama yang tercatat di tugasnya.
Bong cheol tentu saja tak akan berdiam diri dengan semua sandiwara pria itu. Ia juga akan berbalik ikut bersandiwara menghadapinya.
*****
Di tempat lain, dua orang yang terlihat saling menyukai tengah tiduran santai di bebatuan besar dekat pantai. Ketika Mika melihat ada dua orang tampak mengamati mereka. Saat itu juga, Mika mengatakan pada J.O bahwa dirinya akan mencari toilet untuk buang air kecil.
"Aku akan cari toilet sebentar. Apa kau mau ikut?" tanyanya pada J.O.
"Aku akan mengantarmu. Kelihatannya hari semakin senja, toilet di sana pasti sudah sepi" jawab J.O pada Mika karena merasa khawatir.
"Baiklah"
"Baiklah. Aku tunggu kau di sini. Jika terjadi sesuatu padamu, teriak saja padaku" perintah J.O pada gadis itu.
"Iya aku mengerti"
Beberapa detik setelah Mika memasuki sebuah toilet, enam orang datang dan menyerang J.O tiba-tiba. Dari arah belakang.
Mereka membawa benda tajam di tangan masing-masing.
__ADS_1
Duel satu lawan enam pun terjadi. Di tempat yang mulai sepi itu, ke enam penjahat menyerang J.O dengan membabi buta.
Untuk sesaat dia dapat menangkis dan memukul telak lawannya. Tetapi ketika salah satu senjata tajam milik penjahat mengenai pahanya, ia jatuh dan sedikit kesakitan.
Pada kesempatan itu, salah satu penjahat menghamburkan pasir pantai ke arah mata J.O. Sehingga J.O terlihat kesusahan dalam melihat serangan. Ke enam penjahat itu menyerang J.O dengan pukulan bertubi-tubi di kepala dan dada J.O. Yang membuat luka serius di kepalanya.
Ketika J.O mulai kehabisan tenaga dan tak sadarkan diri, mereka memasangkan rantai borgol berbandul bola besi di kaki J.O.
Mereka membawa J.O menuju pinggir pantai dan melemparkannya ke lautan.
J.O masih tak sadarkan diri saat ia di lempar ke lautan oleh ke enam penjahat yang ia lawan tadi. Tubuhnya perlahan mulai tenggelam. Ke enam penjahat itu memastikan bahwa J.O sudah tidak muncul lagi di permukaan. Lalu mereka pergi dari tempat itu.
Dari jauh, Mika melihat J.O di lempar ke lautan. Ia menjerit histeris. Ia pun berlari mengejar J.O ke pantai.
Tak pikir panjang pula ia terjun ke dalam air berusaha menyusul J.O. Berharap ia bisa menemukan kembali pria yang di cintainya itu. Mika menyelam beberapa meter namun ia tak melihat keberadaan J.O. Perasaannya mulai kacau. Ia kembali ke atas untuk mengambil nafas dan mencoba menyelam lagi.
Dua kali ia menyelam namun tak bisa menemukan J.O.
Ketika ia mulai putus asa dan hendak menyerah, ia melihat J.O tersangkut batuan karang terjal di sisi pantai yang dasarnya penuh bebatuan. Mika sedikit lega namun ia masih harus menyelamatkan J.O agar pria itu tidak benar-benar tiada. Untuk yang kedua kalinya. Di peluknya tubuh J.O yang besar. Mika sedikit kesusahan saat hendak membawanya ke atas.
Apalagi ada beban yang melingkar di pergelangan kaki J.O.
__ADS_1
Namun Mika terus berusaha. Ia memeluk pria itu dan sekuat tenaga membawanya ke atas.
*****