TERSESAT DI HATIMU

TERSESAT DI HATIMU
BONUS CHAPTER KE2


__ADS_3

Angin pantai yang sedikit kencang membuat tirai jendela di kamar tempat Jack dan Mika menginap melambai-lambai. Terdengar gemuruh ombak lautan dari kamar mereka. Jack selalu bangun lebih awal. Mungkin karena ia terbiasa dengan semua itu seperti saat ia di camp militernya dulu yang mempunyai aturan bangun saat dini hari. Jack mengerjapkan matanya sambil berjalan membuka jendela, seketika angin dan udara segar menyeruak ke dalam ruangan. Ia menarik nafas dalam-dalam menikmati kesegaran udaranya. Kemudian beranjak dari sana menuju kamar mandi. Tepat pada pukul 06.07 Jack selesai mandi dan berganti pakaian. Ia membiarkan Mika tidur dengan nyenyak. Di salah satu sofa dalam ruangan, ia duduk dan menelepon Daniel. Ia memberitahu tentang siapa sebenarnya LC yang tidak lain adalah Kapten Lucas. Ia juga menceritakan bagaimana penculikan dirinya waktu itu sudah direncanakan. Jack juga mengatakan bahwa dugaannya nyata adanya. Adanya sebuah keterlibatan anggota kepolisian yang menerima uang begitu banyak. Terdengar dari telepon bahwa Daniel mendengus keras. Ia begitu marah pada Kaptennya. Daniel dan Jack begitu menghormatinya dan melaksanakan semua tugas mereka dengan baik. Agar Kapten memberi kepercayaan kepada mereka berdua.


Namun semua hanya isapan jempol. Kapten Lucas justru mengambil kesempatan dengan apa yang mereka lakukan. Seperti mendapat perisai dari kedua marinir yang paling berpotensi di akademi kemiliterannya, Kapten Lucas justru menggunakan keadaan itu untuk keuntungan dirinya sendiri. Ia tidak pernah di curigai menjadi anggota kepolisian yang menerima suap. Karena semua anggota percaya pada kinerja Daniel dan Jack yang akan menangkap penerima suap dengan cepat begitu mereka tahu siapa orangnya.



*Daniel Lautner



*Liza Claude


Jack menutup teleponnya karena Mika sudah bangun.


"Baiklah, salam untuk Liza dan anak-anak." ucap Jack di akhir obrolan.


Mika mendekati Jack dan membawa botol wine dari atas meja. Ia menuangkan sedikit untuk suaminya. Jack meneguk habis dari gelas yang di ulurkan Mika.


"Kau bangun pagi sekali, apa kau tidak merasakan sakit pada badanmu?" tanya Mika memijit-mijit pahanya.


"Tidak. Apa kau masih merasakan nyeri?" tanya Jack.

__ADS_1


Mika merasa heran. Tidakkah Jack merasakan sakit pada bagian-bagian tubuhnya, bahkan semalam dia lebih dominan daripada dirinya. Ia saja merasakan di setiap bagian tubuhnya begitu sakit dan nyeri.


"Ya, aku masih merasakan nyeri di sekujur tubuhku. Kalau begitu akau akan mandi terlebih dahulu. Setelah ini kita langsung pulang saja. Aku rasa aku butuh istirahat lagi." ucap Mika.


Jack memandangi Mika yang berjalan dengan sangat pelan. Seperti takut untuk melangkah lebih lebar lagi ia berjalan berpegangan pada dinding. Jack jadi merasa bersalah padanya. Entah mengapa setiap ia berdekatan dengan Mika, ia akan merasakan gejolak begitu dalam. Ia menjadi berpikir, mungkin dirinya sedikit kelepasan semalam. Karena jujur saja, selama ini ia melakukan bersama Mika ia masih berusaha membatasi tenaganya. Jack menghempaskan punggungnya ke sofa. Ia menunggu cukup lama sehingga gadis itu keluar dengan handuknya. Dengan pandangan matanya yang tenang, ia memandangi Mika yang tengah berganti pakaian. Karena terkena pantulan cahaya, badannya terlihat putih bersih. Jack menggandeng Mika keluar dari kamar hotelnya. Ia mengembalikan kunci kamar dan membayar biaya sewa untuk menginap tiga hari. Setelah selesai, mereka segera menuju parkiran dan memasuki mobil hitam milik Jack. Mereka pun segera meluncur ke rumah besar meninggalkan pantai Haeundae. Untuk mengantar Mika beristirahat dirumah.


Ketika sampai di rumah besar, Jack menyempatkan sarapan bersama Mika, istri tercintanya. Beberapa pelayan yang melihat cara berjalan nyonyanya yang seperti merasakan nyeri pada perutnya menjadi bertanya-tanya. Mereka pun bergosip di dapur.


"Aku melihat nyonya hari ini berjalan dengan kesakitan dan memegangi bawah perutnya, menurutmu apa yang terjadi?" tanya seorang pelayan yang memang suka bergosip.


"Aku tidak tahu." jawab pelayan yang tidak mau ikut campur urusan majikannya.


"Benarkah itu? Seperti apa rasanya? Apakah kau pernah merasakan hal seperti itu senior?" tanya pelayan yang belum menikah namun suka sekali bergosip itu.


"Tentu saja, memangnya kau. Menikahlah, supaya kau bisa merasakannya." jawab pelayan tadi cekikikan.


"Bagaimana mau menikah, pacar saja aku tidak punya." nawab pelayan yang bergosip.


"Kalau begitu, diam saja dan jangan tanyakan bagaimana rasanya. Kau akan semakin penasaran nanti." jawab pelayan senior kembali cekikikan bersama teman seniornya yang lain.


_______________________

__ADS_1


Jack yang memakai kaos abu-abu menemani Mika berbaring sebentar. Sebenarnya ia hendak ke toko roti lagi pagi ini. Tetapi ia tunda sebentar untuk memijit kaki Mika. Untuk menebus kesalahannya.


"Maafkan aku sayang. Aku membuatmu sakit." bisik Jack.


"Tidak Jack, kau tidak bersalah padaku. Aku hanya butuh istirahat sebentar." ucap Mika.


"Baiklah, aku pergi dulu ya. Kau tidurlah dengan nyenyak." Jack berbicara disisi kanan Mika.



Jack menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia melangkah menuruni tangga dan melewati dapur. Beberapa pelayan yang bergosip tadi memandanginya dengan mata tampak mengagumi tubuh kekar tuannya dengan menggigiti bibir mereka. Saat Jack berbalik dan mendekati mereka, seketika mereka kelabakan karena jantung mereka serasa mau copot.


"Oh ya, jika nyonya kalian bangun nanti,,Buatkan sup gingseng dengan ramuan herbal hangat lainnya." Jack berbicara pada mereka.


"I,,iya tuan. Kami akan melakukannya." jawab mereka serentak.


"Baguslah."


Jack kembali berlalu dari hadapan mereka.


________________________

__ADS_1


__ADS_2