
Ketika mereka berdua kembali ke tempat dimana mobil mereka parkirkan, mobil itu masih ada di sana. J.O meminta Mika segera masuk. Ia pun segera menancap gas. Dan berlalu dari sana.
Di perjalanan pulang, J.O mengingat semua apa yang ia alami.
Ia di pukuli dan di tenggelamkan. Itu artinya. Ada seseorang yang menginginkan dia mati. Bukan lagi Mika. Tetapi dirinya.
J.O memikirkan siapa pria berjubah coklat waktu itu. Ia nampak pernah mengenalnya. Tetapi dimana?
Otak J.O terus berputar. Sehingga ia tak mendengar saat Mika mengajaknya bicara.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mika melihat mimik muka J.O.
J.O tidak mendengarnya. Ia tetap menyetir dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di kamar miliknya.
"Apa kau baik-baik saja?" Mika mengulangi pertanyaannya.
"Ah? Aku yaaa,, aku baik-baik saja" jawab J.O.
"Tapi kau terlihat sangat tegang" ucap Mika sambil menyentuh pundak pria itu.
J.O sedikit mengurangi kecepatan. Mungkin saja Mika merasa tidak nyaman. Ia tidak memikirkan itu sebelumnya. Ketika ia memasuki tanah tempat berdirinya bangunan megah tempat Mika tinggal, penjaga disana menampakkan keanehan. Mika turun dan meminta J.O untuk beristirahat. Karena hari ini ia tak ingin kemana-mana.
"Kau boleh istirahat J.O. Hari ini aku tidak ada jadwal kemanapun."
__ADS_1
"Baiklah."
Mereka masuk ke dalam ruang pertama dari rumah tersebut, dan berpisah di sana. J.O segera kembali ke kamarnya. Ia merasakan ada sesuatu yang terasa aneh di tempat itu sehingga ia meningkatkan kewaspadaan. Di aktifkannya alarm penjagaan. Kemudian dengan cepat ia meraih koper dari bawah tempat tidurnya. J.O mengambil laptopnya dan beberapa perangkat lain.
Kemudian ia segera memeriksa berkasnya. Daftar nama dan foto bandit yang pernah ia tangani kasusnya. Dan beberapa nama kapten yang memberikan perintahnya selama masa tugasnya.
Tiba-tiba ada sebuah pesan email masuk. Yang isinya meminta J.O untuk datang ke lapangan Miangdong. Namun data si pengirim tidak bisa di tampilkan. Akhirnya J.O menutup laptopnya. Ia mengisikan sejumlah peluru pada pistolnya. Lalu menyelipkan pisau kecilnya di sepatu sebelah kanan.
Ia keluar dan berjalan melewati ruangan demi ruangan dengan sangat hati-hati. Namun, ada beberapa pasang mata yang melihatnya.
J.O berjalan di halaman parkir luar menuju mobilnya. Dengan buru-buru J.O masuk dan mengemudikan mobilnya menuju tempat yang seseorang sebutkan dalam pesan emailnya.
******
Pukul 10.15.
Tiba-tiba ponsel yang ada di saku J.O berdering. Satu panggilan dari nomor tanpa identitas. Ia segera mengangkat telepon yang sangat misterius itu.
"Siapa kau?" tanya J.O.
"Kau ingin tahu siapa aku? Itu tidaklah penting. Yang terpenting sekarang, aku mempunyai berita bagus untukmu. Apa kau ingin mendengarnya?" suara serak dari orang yang mengirimkan email.
__ADS_1
"Apa berita bagusnya" tanya J.O.
"Kau harus melakukan sesuatu untukku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan mengatakan berita bagus itu padamu"
"Sialan ! Apa rencanamu ?!"
"Tiga hari lagi, pada jam sepuluh malam. Bong akan menyuruh anak buahnya mengirim narkoba satu kontainer penuh ke Amerika. Aku ingin kau mencuri kontainer itu untukku"
"Apa-apaan ini !!"
"Lakukanlah jika kau mau tahu siapa seseorang yang ingin membunuhmu" suara misterius itu memberikan kejutan.
"Apa kau benar mengetahuinya."
"Ya. Aku tahu semuanya. Aku juga punya beberapa bukti yang akan aku kirim padamu" suara di seberang terdengar sangat santai.
Ketika seseorang yang misterius itu menyelesaikan ucapannya, telepon sudah di tutup. J.O merasa kesal pada orang yang baru saja meleponnya. Ia melemparkan pandangan ke sekitarnya, mencari seseorang yang dirasa mencurigakan. Tetapi tak ada yang mencurigakan di sana.
"Apa-apaan ini. Seseorang ingin mempermainkanku? Ataukah ia benar-benar mengetahui sesuatu?" guman J.O lirih.
AARRRGGHHH !!!
BRAKK !!
__ADS_1
J.O memukul mobilnya dengan keras. Ia merasa hidupnya sedang dipermainkan. Dan dia ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi di kehidupannya sekarang. Pikiran itu berkecamuk di kepala J.O. Matanya tampak merah menahan emosinya.
******