
J.O melipat baju yang ia kenakan pada saat malam kemarin bersama Mika di tepi kolam. Ia mengingat bagaimana malam itu menjadi saksi cinta keduanya. Ia tak bisa melupakan bagaimana mata gadis itu menatapnya, merasakan gelora cinta yang ia berikan sepenuhnya. Sudah lama sekali sejak istri dan calon bayinya di bantai di depan kedua matanya. Sejak saat itu ia tak lagi ingin mengenal cinta. Setiap ada wanita teman tugasnya yang menaruh hati padanya, ia sama sekali tak merespon sedikitpun.
J.O duduk di kasur tempat tidurnya. Ia mengusap wajahnya beberapa kali. Lalu memandangi bercak merah yang ada di bajunya. Ia mengambil nafas panjang.
TUT TUT !
J.O sangat terkejut ketika ponsel di sakunya bergetar. Ada panggilan dari nomor asing.
"Ya?" J.O membuka suara.
"Apa kau sudah memilih jawabanmu?" suara serak dari seberang.
"Jawaban apa?"
"Kau ini, masih suka mengalihkan pembicaraan kita. Apa kau sudah menentukan pilihanmu? Soal kontainer,,," orang itu mengingatkan J.O.
"Oh,,,,,"
"Kau ingat bukan?"
"Ya. Aku ingat. Tetapi aku belum mendapat berita bagus seperti yang kau katakan"
"Aku mengirimkan beberapa foto untukmu. Kau ambilah sendiri di pasar Giok. Temui seseorang yang menawarkan barang antik" orang misterius itu memberi tahu.
"Pasar Giok? Bukankah,,,," ucap J.O belum selesai.
__ADS_1
Telepon ditutup. J.O merasa kini hidupnya benar-benar seperti bidak catur yang di jalankan sesuai perintah orang lain.
*****
Di pasar dekat daerah ia tinggal, ia bertanya pada beberapa pedagang. Lokasi pasar Giok. Tetapi tak banyak yang mengetahui soal pasar itu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, namun tak menemui tempat yang bernama pasar Giok.
Ketika ia berhenti di salah satu sudut kota, ia melihat sebuah gang yang ramai orang. Langsung saja ia turun dari mobilnya dan mendekati kerumunan orang yang berdiri di sana.
Ia bertanya soal pasar Giok pada salah satu pemuda brandal.
"Apa kau tahu pasar Giok?" tanyanya pada pemuda itu.
"Apa?!" pemuda brandal itu tampak kaget.
"Ya. Pasar Giok."
"Bukan. Aku hanya akan mengambil paket dari seseorang" jawab J.O.
Pemuda brandal itu celingak celinguk mencari sesuatu yang terlihat mencurigakan. Tetapi setelah ia merasa aman, ia meminta J.O untuk mengikutinya.
"Ikutlah denganku" katanya.
Mereka pun menuju bangunan yang terlihat kumuh dari depan. Tetapi setelah melewati pintu utama dan ruang pertama, ruangan di dalam tampak lebih luas seperti ruangan rumah bordil di Jepang. Ketika J.O melangkah masuk, ia di ikuti tatapan mata wanita-wanita pelayan di setiap ruangan. Mereka melayangkan ciuman dari jauh.
"Aku mencari penjual barang antik. Paketku ada padanya" ucap J.O pada pemuda itu.
"Aku akan menanyakannya pada Yuki-San"
__ADS_1
Pemuda itu memintanya menunggu di sebuah kamar. Maka duduklah J.O di sebuah kursi di ruangan itu. Menunggu pemuda tadi kembali. Dalam kesendiriannya, ia di datangi beberapa wanita yang menggodanya. Mereka menawarkan diri untuk melayani J.O.
"Hai pria tampan, apa kau kesepian?" wanita satu mendekati telinga J.O.
"Apa kau butuh kehangatan sayang?" wanita dua menyandarkan kepalanya di pundak J.O.
"Tidak. Tidak. Aku kemari untuk mengambil paket dari seseorang" jawab J.O singkat.
"Aah,,kau dingin sekali sayang. Apa kau mau aku hangatkan?" kata wanita tiga mengusap dagu J.O.
Mereka menempel di sana-sini seperti keong beracun. Barulah setelah seorang wanita berkimono datang, mereka menjauhi J.O segera.
"Kau penerima pesan itu?" tanya wanita yang bernama Yuki-San.
"Ya. Aku harus mengambil paket dari seseorang"
"Baiklah. Ini paketnya"
Yuki-San memberikan amplop coklat pada J.O. Lalu dia menelepon dan memberitahu si pengirim bahwa amplop sudah ia berikan pada si penerima. J.O menerima amplop itu. Ia mengucapkan terima kasih dan segera berlalu dari tempat itu.
Setelah berhasil keluar dari pintu utama, J.O melihat pemuda brandal tadi di jalan yang sama seperti pertama ia melihatnya. Ia mengacungkan jempolnya untuk berterima kasih padanya.
Dia hampiri mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi pasar Giok.
Ia pun segera masuk dan pergi dari sana.
******
__ADS_1