
Beberapa bulan kemudian di sebuah kuil budha, seorang wanita yang ditemukan oleh MayLeen ( Wanita ahli Taichi dari kuil Miaoying ) sedang membantu gadis berambut kepang panjang itu meracik makanan. Karena setiap Leen menanyakan nama wanita itu dan dijawab tidak tahu, Leen memberi nama wanita yang ditemukannya itu Fang Yin. Nama yang sesuai dengan kepribadian wanita yang begitu manis dan tampak anggun. Fang Yin, sebenarnya adalah Mikamaru yang mengalami lupa ingatan sementara. Selama satu bulan lebih, Leen merawat Fang Yin di kuil yang dikepalai oleh biksu Chen Hui. Ia merasa kasihan melihat Yin yang sedang mengandung, namun tidak mengenal siapa-siapa di tempat itu. Apalagi saat ia menemukannya tergeletak dengan luka di kepalanya.
"Yin, apa kau sudah selesai memotong lobaknya?" tanya Leen pada wanita hamil itu. "Bawa kemari, aku sudah membersihkan ikannya." ucap Leen sambil tersenyum.
"Ini lobaknya, apa aku bisa mengerjakan yang lainnya?" tanya Yin.
"Sudahlah, kau duduk saja Yin. Aku yang akan mengerjakannya." ucap Leen menggiring Yin duduk. "Oh ya Yin, apa kau sudah mengingat sesuatu?" ucap Leen sambil memasak.
"Aku tidak bisa mengingat apapun." jawab Fang Yin.
"Baiklah, tidak apa. Kau tidak perlu memaksa diri untuk mengingat semuanya dengan cepat." ucap Leen menyelesaikan masakannya. Ia mengambil nampan berisi beberapa mangkuk dan menuangkan sup lobak itu ke dalamnya. "Aku akan bawa ini ke ruang makan para biksu. Kau tuangkan semua ke mangkuk-mangkuk itu ya." Leen meninggalkan dapur.
Saat Leen pergi, Fang Yin menuangkan sup ke dalam mangkuk-mangkuk kecil. Lalu meletakkan dua buah potong ikan rebus berbumbu di setiap piring-piring. Ia juga mengisi mangkuk lain dengan nasi. Setiap hari, Leen memasak dan melayani makan para biksu yang berjumlah lima belas orang di kuil tersebut. Semenjak ada Mika (Fang Yin), Leen jadi mempunyai teman mengobrol. Saat Leen berlatih kungfu pun, Yin selalu mengamatinya dari jauh sambil tersenyum-senyum manis. Selama dinkuil, kakak seperguruan Mayleen adalah orang-orang yang ramah dan baik. Mereka semua menjaga dan menganggap Leen dan Yin sebagai adik mereka. Begitu juga biksu Chen, ia amat memperhatikan kesehatan Yin. Setiap beberapa minggu sekali, ia mendatangkan tabib untuk memeriksa kandungannya. Hingga datang waktu Yin untuk melahirkan, Leen selalu menemani dan merawatnya. Para biksu juga begitu antusias menunggu kehadiran bayi kecil di antara mereka. "OOOEEEEK ! OOOEEEEKK !!" suara bayi Fang Yin terdengar lantang di malam yang terang.
__ADS_1
...----------------...
Sementara itu di tempat lain.
Di sebuah taman kuil Yonghe, Jack duduk termenung. Ia keluar dari penginapannya karena tidak bisa tidur. Entah apa yang terjadi, namun ada sesuatu yang membuat hatinya begitu resah. Ia mengamati langit dengan sinar bulan yang tampak begitu terang malam ini. Bibir Jack begitu rapat menyimpan kesedihan yang amat dalam. Selain jarang tersenyum, ia juga menjadi amat sangat pendiam setelah pencariannya terhadap Mika selalu tidak ada hasil. Ia sudah mencari Mika ke mana-mana, bahkan sampai melaporkan berita kehilangannya pada kantor polisi setempat namun keberadaan istrinya itu bagai hilang ditelan bumi. Karena merasa kecewa pada dirinya sendiri, ia mendaratkan tinjunya di sebuah pagar pembatas jalan. Ia begitu marah karena Mika hilang dan ia belum juga bisa menemukannya. Jelaslah, sudah berbulan-bulan lamanya dirinya mencari Mika di Beijing, namun tak juga ia temukan sosok istrinya.
" Sayangku, dimana sebenarnya dirimu........"
Dua hari berlalu amat lama terasa. Jack memeriksa kembali berkas yang sudah ia salin di laptopnya. Kapten Lucas harus ia sergap saat tengah beraksi dalam pekerjaan sampingannya itu. Lalu bagaimana caranya? Saat ia sedang berpikir, Sungjae mendekatinya dan menyerahkan selembar foto seorang pemuda dengan pakaian renangnya. Ia mengenali pemuda itu sebagai putra kapten Lucas. Jack heran, dalam keseriusannya mencari kesalahan kapten Lucas kenapa Sungjae malah memberikan foto pemuda itu padanya.
"Dialah yang waktu itu hendak berbuat senonoh pada Mika di dalam lift." ucap Sungjae membuat Jack terbelalak.
"Apa katamu?"
__ADS_1
"Yaa,,dia yang mengganggu Mika di kampus."
Jack seperti tersambar petir. Jadi, pemuda itu yang hendak menyentuh istrinya? Ini benar-benar mengejutkan bagi Jack. Seketika bibirnya tersenyum getir saat menyadari ada seorang ayah dan seorang putra yang sama-sama menginginkan istrinya. Timbul dipikiran Jack untuk mengemasi kopernya.
"Ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar untuk memasukkan keduanya dalam jeruji penjara."
"Apa kau serius akan pulang sekarang juga?" tanya Sungjae.
"Ayo."
Jack mengembalikan kunci mobil sewanya yang masih ada waktu sewa dua minggu lagi. Lalu ia juga mengembalikan kunci kamarnya pada petugas reseptionis hotel. Mereka berangkat ke bandara dengan naik taxi. Ketika melewati sebuah kuil yang bernama Miaoying di daerah Xicheng, Jack melamun memandangi kuil tersebut. Dari jauh ia melihat dua orang wanita dengan rambut panjang berkepang serta mengenakan baju Hanfu yang sopan berwarna putih dan coklat muda. Salah satunya tampak menggendong bayi. Kedua wanita itu berjalan beriringan menuju pasar dengan caping yang menutupi kepala mereka. Untuk sejenak Jack mengamati keduanya. Namun ia tidak berpikir bahwa salah satu dari mereka adalah Mika.
Setelah Taxi yang mereka tumpangi berhenti di bandara, mereka segera turun dan menuju loket. Sungjae segera mengantri membeli tiket untuk mereka. Sedangkan Jack duduk di kursi tunggu memandangi Sungjae dari jauh. Setelah mendapat tiket pulang, mereka masih harus menunggu satu jam lagi. Karena pesawat dengan tujuan Beijing-Seoul/Seoul-Beijing baru saja mendarat dan tengah beristirahat untuk mendapatkan pengecekan mesin dan bahan bakar. Menunggu satu jam berasa amat sangat lama bagi Jack. Beberapa kali Jack mendengus kesal karena waktu berharganya terbuang. Namun, setelah satu jam menunggu akhirnya pesawat tujuan mereka berangkat juga ke Seoul.
__ADS_1
...----------------...