TERSESAT DI HATIMU

TERSESAT DI HATIMU
SALAM PERPISAHAN


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan mengguyur badannya dengan air segar, Mika membantu nenek Nian menata sarapan mereka di meja makan. Ia juga menyempatkan diri untuk memeriksa apakah J.O sudah siuman. Namun pria itu tampak masih terlelap. Tepatnya berpura-pura terlelap. Mika merasa bersalah soal kejadian kemarin. Ia mengusap-usap kepala J.O. Sambil mendengung seperti lebah sedang mencari serbuk sarinya. Lalu sesekali, ia mengamati wajah J.O dengan begitu dekatnya. Sehingga seperti akan menciumnya saja.



Ketika mata J.O terbuka lebar, Mika sangat terkejut.


Betapa tidak? Posisi kepalanya masih berada terlalu dekat dengan kepala pria tampan itu. Seketika Mika berusaha menjauhkan kepalanya. Namun tanpa ia sadari. Kedua tangan J.O menahan punggung Mika supaya tidak bergerak dari posisinya saat ini.


"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya J.O membuka suara.


Mika tak menjawab pertanyaan J.O. Nafasnya berhembusan di muka pria itu. Jantungnya pun berdegub semakin kencang.


"Kesalahanmu adalah. Kau membiarkan wajah cantikmu menari-nari di depan kepalaku."


Mika semakin membelalakkan matanya. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Pria itu mendekapnya begitu kencang. Dengan tatapan matanya yang super tajam. Akhirnya Mika menggigit bibir bawahnya. Ia menjadi terbawa suasana.


"A..aku hanya" jawab Mika tergagap.


J.O mengusap kepala Mika dengan lembut. Lalu memeganginya dengan kedua tangannya. Perlahan namun pasti J.O sedikit mengangkat kepalanya. Kemudian, didekatinya wajah cantik yang ada di depannya itu. Kali ini J.O memberanikan diri mencium bibir Mika.


EMH.......


Ketika keduanya sedang menikmati ciumannya, Suara Nenek Nian yang datang untuk memeriksa keadaan J.O mengagetkan mereka.


"Apakah kau sudah merasa baikan wahai anak muda?."

__ADS_1


Spontan mereka berdua menjadi kelabakan. Mika berpura-pura sedang memeriksa tangan J.O.


"Ah? em,,,dia. Dia sudah siuman nek" jawab Mika belepotan.


"Kalian sedang apa?" nenek Nian bertanya sambil mengernyitkan dahinya yang sudah keriput.


"Eh? Tidak. Aku sedang membantunya untuk bangun. Kebetulan nenek masuk. He,,he,,," Mika cengengesan.


"Baiklah. Coba aku lihat" nenek Nian datang mendekat.


Di amatinya tubuh pria yang sedang berbaring itu. Nampak belum sembuh total. Hanya kepala dan tangannya saja yang sudah bisa bergerak. Nenek Nian menyarankan agar J.O mencoba beberapa gerakan lagi. Syarafnya terlihat masih ada beberapa yang belum bekerja. Namun itu tidak perlu di risaukan.


Nenek Nian sedang membuat ramuan kedua.


Kakek Song juga sudah selesai dari ladangnya. Mereka berempat bersiap untuk sarapan bersama. J.O di bantu duduk oleh kakek Song. Kemuadian Ia mendapatkan bubur gingseng dan semangkuk sop lezat. Mereka pun menyantap sarapan yang di hidangkan. Kebersamaan itu membuat mereka nampak bahagia. Saling bertukar cerita, dan canda tawa.


********


Pagi ke empat di rumah kakek Song dan nenek Nian. J.O sudah tampak benar-benar pulih. Ia meminta kakek Song untuk memotong rantai besi yang ada di kakinya. Dengan alat pengelas yang kebetulan dimiliki kakek.


"Apa itu rangka sepeda?"


"Ya, aku biasa menambalnya sendiri apabila besi-besi ini mulai keropos lagi. Aku tidak bisa bolak-balik dari kampung satu ke kampung lainnya hanya untuk menambal besi. Tubuhku ini sudah terlalu tua untuk perjalanan yg jauh" jawab kakek Song panjang lebar.


"Apa aku bisa meminta tolong padamu?" tanya J.O

__ADS_1


"Tentu saja. Ada apa?"


"Tolong potong rantai besi ini untukku. Apa kau bisa?"


"Tentu saja, mari kita lakukan sekarang


*****


Di tanah belakang rumah mereka, Kakek Song menyalakan mesin kabel elektrodanya. Dengan bantuan holder di tangan kirinya, ia menjepit rantai agar panas tidak terlalu menempel di kaki pemuda itu. Hanya beberapa menit setelahnya, rantai itupun terlepas dari pergelangan kaki J.O.


J.O mengucapkan terima kasih banyak pada kakek tua Song dengan sungguh-sungguh.


"Terima kasih. Untuk segalanya." ucap J.O.


"Hari ini, aku dan gadis itu akan pulang. Dia memiliki orang tua yang sangat khawatir pada putri mereka, jika sudah lima hari putrinya tersebut tidak pulang. Kau tahu kan maksudku kek?"


"Ya. Ya. Ya. Kalian pulanglah segera. Bawa gadismu pulang menemui orang tuanya, agar mereka tidak berlama-lama mencemaskan putrinya."


J.O memeluk kakek Song sebagai salam perpisahan.


Tanpa kakek tua nelayan itu, hidupnya pasti sudah berakhir di lautan. Ia juga berpamitan pada nenek Nian nie' yang menyembuhkan luka-kukanya. Bersama Mika, keduanya mengucapkan banyak terima kasih atas perlakuan istimewa yang mereka dapatkan.


Mereka berdua melambaikan tangan pada pasangan suami istri yang begitu baik hati itu. Kemudian melanjutkan perjalanan mencari mobil yang mereka parkir di suatu tempat.


*********

__ADS_1


__ADS_2