TERSESAT DI HATIMU

TERSESAT DI HATIMU
PERCOBAAN PEMBUNUHAN


__ADS_3

Setelah rantai ikatan di tangan J.O terputus, tubuh J.O jatuh menimpa wanita yang sempat menciuminya itu. Dengan cekatan J.O melingkarkan dan menekan rantai borgol ke leher si wanita liar yang ia duduki sekarang.


"Katakan padaku. Siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku. Dan Kemana mereka membawa koperku?" tanya J.O sambil memperketat rantai.


Tanpa sepengetahuan J.O, tangan wanita yang ia duduki sekarang meraih pisau lipat dari pinggangnya. Ia menusukkan pisau itu ke perut J.O. Dan menggores lengan pria itu beberapa kali.


"Ah !" tangan J.O bergetar hebat memegangi luka tusukan yang terasa dalam.


Tubuh J.O sedikit melemah sehingga tekanan pada leher wanita itu sedikit renggang. Wanita itu mendorong J.O agar menyingkir dari atas tubuhnya. Namun J.O menamparnya dengan keras dan kembali menekankan rantai ke lehernya. Wanita itu mencoba meraih-raih leher J.O dan hendak mencekik balik pria itu. Tetapi tangannya tidak sampai. Ia hanya bisa mencakar-cakar lengan J.O.


"Cepat katakan padaku" menekankan rantai lebih dekat ke lantai.


A AK ! AK !


Wanita itu merasakan kesakitan. Dan susah bernafas.


J.O mencengkeram rahang wanita yang sekarang hampir kehabisan nafasnya. Ketika ia sedikit mendekatkan wajahnya ke dekat kepala wanita itu, Ia mengamati rupa wanita yang ia cekik menggunakan rantai borgolnya.


"Mika? Apa kau Mika?" ucap J.O gemetaran.


"I,,iya. Ini aku" jawab wanita itu kesakitan.


"K,,kau,,??!" J.O tergagap.


Dengan perlahn J.O melepaskan tekanannya pada leher wanita yang ternyata benar Mika. Ia benar-benar terpukul mengetahui wanita yang ada di depannya adalah Mika.


"Apa yang kau lakukan?" J.O masih tak percaya.

__ADS_1


"Aku akan membunuhmu" Mika mengucapkan sesuatu.


J.O mencengkeram rahang Mika dan menyuruhnya duduk.


Ia mendekatkan wajahnya yang penuh luka dan darah ke dekat wajah Mika.


"Kau ingin membunuhku? Lalu apa artinya semua yang sudah kita lalui bersama !?"


"Dia menyuruhku untuk membunuhmu hari ini.Tetapi aku juga begitu menginginkanmu hidup" suara Mika tampak lemah.


"Siapa dia?!"


"Ayahku"


"Kau tahu? Sepuluh tahun yang lalu, dialah yang membunuh istri dan calon bayiku dengan kejam. Sekarang akulah yang akan membunuhnya" bisik J.O di telinga Mika.


Mata Mika terbuka lebar. Ia menyadari, alasan mengapa J.O begitu aneh akhir-akhir ini adalah karena ia ingin membalaskan kematian istrinya pada ayahnya.


"Ada di kantung celanaku"


J.O meraba-raba celana Mika. Ia hanya menemukan pistol di saku pinggang celananya. Ia kesusahan menemukan kunci itu karena luka pada perutnya semakin terasa sakit jika untuk bergerak. Sehingga akhirnya ia meminta Mika untuk mengambilkannya.


"Ambilkan kunci itu. Cepat" perintah J.O sambil memegangi luka di perutnya.


Mika meraih kunci borgol di kantung celanannya. Ia pun membuka borgol yang melingkari tangan J.O.


"Maafkan aku J.O. Aku terpaksa melakukan semua ini padamu" ucap Mika meminta maaf.

__ADS_1


"Jika kau mencintaiku, kau tidak akan melakukan semua ini padaku" jawab J.O kesal.


Dengan kesakitan J.O bangkit dan hendak melangkah keluar. Tetapi Mika mengatakan sesuatu yang membuatnya menghentikan langkah.


"Dia akan membunuhku jika aku tidak mau melakukannya."


"Kau putrinya. Kenapa dia juga akan membunuhmu. Itu tidak masuk akal" J.O melihat luka di perutnya meneteskan darah di lantai.


"Karena aku telah tidur bersamamu" ucap Mika.


J.O membalikkan tubuhnya menghadap Mika. Kemudian ia membantu Mika bangun dan berdiri. Bagaimanapun ia masih mencintainya. Ia mencoba mempercainya ucapannya. Di raihnya tangan gadis yang telah menusuknya itu. Mika pun bangun dan berdiri didepan pria yang sempat akan ia bunuh. Mika menyentuh bibirnya sendiri dengan tangan yang gemetaran. J.O menatap Mika dengan seksama. Sepertinya memang tiada kebohongan. Dari mimik muka Mika, J.O dapat melihat penyesalan yang dalam.


"Ikut denganku dan siapkan senjatamu" ajaknya.


*****


Mereka berdua melangkah mendekati pintu. Tetapi ternyata pintu itu di kunci dari luar. Berulang kali J.O mencoba mendobraknya tetap tidak ada hasil. Ia semakin lemah dan jatuh tersungkur. Dari jauh samar-samar ia melihat beberapa tumpukan peti kayu di ruang itu. Ia lekas berdiri dan mendekati peti-peti itu.


"Kau lihat langit-langit itu? Pasti ada jalan disana untuk kita keluar" ucapnya.


"Tetapi itu terlalu tinggi"


"Kita buat agar kita bisa menjangkaunya. Bantu aku angkat peti ini" pintanya pada Mika.


Mereka berdua berusaha mengangkat dan menumpuk peti-peti itu. J.O berusaha keras agar rencananya berhasil. Dengan sekuat tenaga ia memindahkan satu persatu peti kayu itu tanpa menghiraukan lukanya semakin parah dan meneteskan banyak darah. Setelah beberapa tumpukan terlihat cukup untuk di pijak, J.O naik ke atasnya dan meminta Mika juga melakukannya.


"Kemarilah, kau buka langit-langit itu dan masuklah terlebih dahulu" perintahnya pada Mika.

__ADS_1


"Baiklah"


*****


__ADS_2