TERSESAT DI HATIMU

TERSESAT DI HATIMU
TANGKAPAN PERTAMA


__ADS_3

Saat membuka matanya di pagi hari pertama, Jack ingat bahwa ia sudah kembali ke Seoul. Hari ini Ia berencana hendak keluar menemui kapten Lucas. Disiapkannya perangkat lunak yang ia hubungkan langsung dengan perangkat ponselnya. Ia akan datang kepada kaptennya dan merekam semua pembicaraan. Dan semua yang ia rekam akan langsung di salin ke komputernya. Sehingga seandainya ia kehilangan rekaman di ponselpun ia masih tetap mempunyai bukti yang tersimpan di tempat lain. KLIK ! Jack menekan tombol oke.


Setibanya Jack di kantor kapten Lucas, ia tidak mendapati kaptennya disana. Saat kembali dan keluar dari ruangan, ia melihat William hendak masuk ke dalam kantor ayahnya tersebut. Ia segera memanggil bocah itu dan bertanya padanya dimana ayahnya berada. Karena William juga tidak tahu dimana ayahnya, Jack mengatakan ingin mengajak William berlatih menembak. Saat itulah Jack berpikir untuk mengajak William pergi. Tanpa merasa curiga sedikitpun, William mengikuti marinir kebanggannya itu. William pikir letnan Jack akan benar-benar mengajaknya berlatih menembak seperti yang ia katakan. Dengan berjalan beriringan, mereka melangkah keluar hingga akhirnya berada di depan mobil, tanpa di duga saat itu juga Jack memukul tengkuk William sehingga jatuh pingsan.


Ketika hampir siang William pun tersadar, ia melihat dirinya duduk di sebuah kursi dan dengan tangan terikat pada kursi yang ia duduki. Ia juga melihat letnan Jack juga duduk di seberang kursinya. Sebut saja di sebuah rumah kosong bekas lapangan basket, Jack duduk pada sebuah kursi yang letaknya berseberangan dengan kursi William. Matanya menatap tajam pemuda itu dengan tangan bersedekap. Sehingga tampak otot-otot lengannya yang kekar. Saat ia melihat William tersadar, ia mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat William ketakutan.


"Jadi, kau orangnya. Yang mencoba memperkosa gadis di dalam lift kampusmu itu ?" tanya Jack menginterogasi.


"Apa maksudmu letnan? Apa yang kau lakukan padaku? Aku yakin, jika ayahku tahu, kau akan menyesalinya." ucap William ketakutan.


Jack mendekati William dan menamparnya keras-keras sehingga keluarlah darah segar dari hidung William. Lalu ia kembali bertanya padanya. "Sekali lagi aku bertanya padamu anak muda, kau pernah mencoba memperkosa seorang gadis di dalam sebuah lift yang ada di kampusmu. Benarkah itu !" Jack bertanya lagi namun lebih keras.


"Aku tidak pernah melakukan hal bodoh semacam itu." jawab William tidak mau mengakui perbuatannya. Ia juga merasa heran kenapa letnan Jack begitu ingin mendengar jawabannya yang sebenarnya.


"Kau masih tidak mau mengakuinya ?!" Jack mencengkeram leher William. Hingga membuat pemuda itu kesusahan bernafas.

__ADS_1


"Aku hanya sedikit mengganggunya untuk memberikan pelajaran." jawab William tersendat-sendat karena tangan Jack masih mencengkeram lehernya. "Kenapa kau menanyakan itu padaku? Apa dia membayarmu untuk menyiksaku, letnan?" ucap William masih belum mengerti.


Jack melepaskan cengkeramannya lalu berdiri membelakangi pemuda itu sembari mengencangkan sarung tangan hitamnya. Sebenarnya ia berniat menghentikan penyiksaannya, sebelum akhirnya ia mendengar William mengatakan sesuatu yang keterlaluan. Iapun mengatupkan rahangnya dengan kencang sehingga terlihat urat lehernya yang bergerak-gerak, menandakan ia benar-benar marah kali ini.


"Dia sudah berani menjambak rambut pacarku. Lagipula dia hanya seorang wanita ****** yang mau di tiduri pria hidung belang. Apa salahnya jika aku juga ikut merasakan tubuhnya?" William mencoba menyebutkan kesalahan wanita itu.


Jack memutar tubuhnya dan dengan cepat menendang kepala William dengan kaki kirinya. Pemuda itu sangat terkejut mendapatkan roundhouse kick dari Jack, yang begitu keras mengenai kepalanya sehingga tubuh dan kursi yang ia duduki pun ikut terjatuh. Dengan langkah pelan, Jack mendekati Wiliam dan mengangkat kembali kursi William ke posisi semula.


"Coba ulangi perkataanmu barusan." perintah Jack.


"Bukan yang itu. Yang satunya lagi." Jack menarik kursinya mendekati kursi William.


"Di,,dia wanita jala,,"


Jack kembali menampar kepala William. Ia tidak peduli lagi walaupun darah segar mengalir begitu banyak dari kepala pemuda itu. "Wanita yang kau sebut ****** itu adalah istriku." ucap Jack sambil mencengkeram dagu William.

__ADS_1


GLEK ! William menjadi semakin berkeringat. Membuat darah di keningnya bercampur keringat dan mengalir ke leher. Ia sekarang mengerti, mengapa letnan Jack begitu marah kepadanya.


"Ampuni aku letnan, aku tidak tahu kalau dia adalah istrimu."


"Siapapun perempuan itu, seharusnya kau tak boleh melakukannya Will." Jack merendahkan suaranya. "Apa bedanya istriku dengan wanita-wanita lain. Mereka semua sama-sama seorang perempuan."


"Ampun letnan, aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi." ucap William tampak menyesali perbuatannya.


"Kau akan menjelaskan itu nanti di depan penyidik kepolisian." Jack mengeluarkan ponselnya dan menelepon kapten Lucas.


Cukup lama mencoba, akhirnya panggilan Jack diterima. Kapten Lucas bertanya ada urusan apa sehingga Jack menghubunginya. Dengan sebuah siasat, Jack mengatakan bahwa putra kapten Lucas saat ini ada di tangannya. Ia juga mengatakan, bahwa William tersangkut masalah besar dan ia berniat membawanya ke kantor polisi. Mendengar semua yang dikatakan Jack, kapten William pun mengatakan akan segera menemuinya.


"Aku akan segera datang. Tunggu aku sebelum kau membawanya ke kantor polisi, Jack."


"Tentu saja aku akan menunggumu, kapten." jawab Jack tersenyum. Karena kapten sudah masuk ke dalam perangkapnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2