
Seisi rumah gempar dengan kabar kehamilan nyonya mereka, semua pelayan memberikan selamat kepada Mika atas kehamilannya. Sedangkan Jack mulai memberi perhatian lebih untuk Mika. Salah satunya memijit kaki Mika sebelum tidur. Sebagai seoranga pria, ia tidak pernah merasa hina melakukannya jika itu untuk kebahagiaan dan kebaikan istrinya. Setiap pagi sebelum Mika berangkat ke university, Jack selalu menyempatkan menemani Mika untuk sarapan. Jika tidak, istrinya selalu mengatakan bahwa dirinya tidak lapar. Seperti pagi ini, rumah terasa ramai karena Jack meminta koki menghidangkan sarapan sehat untuk Mika. Ia sendiri juga yang menyuapkan makanan sesendok demi sesendok ke mulut Mika. walau tampak enggan, Mika bersedia membuka mulutnya.
"Aku tidak suka sayang, hoek,,,,entah semenjak hamil aku jadi tidak ..hoek suka sayuran ini." ucap Mika merasa mual mual.
"Hemm,, kau harus makan sayuran, juga protein yang banyak. Ayolah, satu suapan lagi ya." bujuk Jack.
Mika menggeleng cepat. Ia buru-buru menuju washtafle di dapur, karena tempat itu yang paling dekat dengannya. Jack mendekati Mika dan memijit tengkuknya. Ia merasa sangat prihatin jika Mika menjadi membatasi makanannya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah memberikan yang terbaik untuknya. Satu jam kemudian, mobil Jack sudah sampai didepan kampus Mika. Jack mengecup bibir Mika sebelum gadis itu keluar dari mobil. Setelah Jack cukup memberi semangat, Mika keluar dan kebetulan bertemu Subin. Akhirnya mereka berdua masuk ke kampus bersama-sama. Setelah Mika tidak terlihat lagi dari pandangannya, Jack meninggalkan lokasi Hanyang University menuju rumah Daniel. Ia membawa beberapa roti dari tokonya sebagai buah tangan. Ketika pintu rumah Daniel terbuka, terlihat Rachel yang ada di depannya. Anak itu segera melompat ke pelukan pamannya.
"Hai ladies, oug,,,kau semakin berat saja. Ohya, apa papamu ada dirumah?" tanya Jack saat menggendong Rachel.
"Iya, papa ada di kamar mandi. Dimana bibi Mika? Aku ingin bertemu babynya." ucap Rachel.
"Bibimu sedang belajar di kampus, oh? Ya,, nanti kalau bibi kemari, kau bisa bertemu dengan babynya." jawab Jack tersenyum. "Sekarang lihat. Paman bawa roti isi untukmu, Keanu dan Boby." sambungnya lagi.
Jack menunggu Daniel di ruang kerjanya. Ia mengoperasikan komputernya untuk mencari sesuatu. Tas kopernya yang hilang entah kemana. Beruntungnya, ia ingat bahwa ia selalu mengaktifkan mode pelacak pada perangkatnya. Ia pun melacak lokasi dimana kopernya berada. Ternyata lokasi koper itu berada di kantor polisi, tepatnya di kantor pribadi Kapten Lucas.
__ADS_1
Jack mendengus keras. Ia merasa sangat dihianati oleh Kaptennya. Tepat saat Jack sedang mengeklik emailnya, sebuah panggilan dengan nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya. Ia segera mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo?"
"Halo Jack. Bagaimana tugasmu? Apakah misimu berhasil?" terdengar suara Kapten Lucas dari seberang.
"K,,,kapten?"
"Bagaimana misimu untuk menangkap Bong? Apakah berhasil?" tanya Kapten Lucas bersandiwara.
"Misiku berhasil kapten. Tetapi ada kendala saat penangkapannya. Sehingga menewaskan Bong seketika. Apa aku harus membawa mayatnya kesana Kapten?" tanya Jack mencoba menyelidik.
"Siap Kapten." jawab Jack. "Tugas baru? Apa ini sebuah jebakan?" pikir Jack dalam hati.
Kapten Lucas mengakhiri teleponnya. Sudah sekian lama, kenapa ia baru menghubungi dirinya? Pikir Jack. Saat ia sedang berpikir keras, Daniel mendekat kepadanya. Ia mendengar pembicaraan Jack dengan kapten Lucas tadi. Ia mengingatkan Jack agar berhati-hati kali ini. Bisa jadi ini adalah sebuah jebakan yang disiapkan Kapten Lucas untuk Jack. Karena kapten Lucas menghubunginya begitu tiba-tiba setelah berselang dua tahun semenjak kematian Bong Cheol.
__ADS_1
"Kau harus lebih waspada Jack. Jika benar Kapten Lucas terlibat, pastilah dia orang yang sangat licik." ucap Daniel.
"Ya, itu benar. Aku akan lebih berhati-hati besok." jawab Jack.
________________
Sementara di kampus Mika, BaekHee tengah memperbaiki makeupnya di depan kaca toilet dan tampak sedang menelepon seseorang. Lalu Mika masuk dan muntah-muntah. Baekhee memberi isyarat pada orang di telepon.
"Dia sudah datang, lakukan semua yang aku perintahkan." ia menyeringai licik.
Mika membasuh mukanya dan mengambil nafas sebentar. Lalu ia keluar dari toilet dan berjalan menuju kelasnya kembali. Ketika ia sedang melewati lorong-lorong kelas yang tampak sepi karena rata-rata semua mahasiswa sedang mendapatkan mata kuliahnya, tiba-tiba saja dua orang keluar dari pintu lift dan langsung menyergapnya. Mereka menutup mulut Mika dengan tangan dan menyeretnya masuk kembali ke dalam lift.
"Hhhmmmmpp ! Hmmmpp !!" teriak Mika dengan mulut yang tertutup. Ia berontak dengan memukuli tangan orang yang menyeretnya. Namun ia lemas karena kandungannya.
Kedua orang itu masuk bersamanya. Satu orang memeganginya dan yang seorang lagi berjaga di pintu untuk memencet tombol naik dan turun. Orang yang memegangi Mika bernama William. Ia pacar Baek Hee. Dan saat ini, Baek Hee meminta William untuk melakukan apapun yang ia mau pada gadis yang populer di kampus yang berani menghinanya. Tangan William liar menjelajahi tubuh Mika. Ia juga berusaha mencium Mika namun Mika menolak dan terus menghindari serangan yang mengarah ke bibirnya. Karena kesal tak juga berhasil mencium gadis itu, ia menindihkan tubuhnya kepada Mika dan mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya. Saat tangannya menyibak rok yang dikenakan Mika dan bersiap melakukannya, lagi-lagi Mika bergerak dengan cepat untuk menghindari perbuatan William. Mika kembali berteriak minta tolong.
__ADS_1
Lift sempat berhenti sejenak karena lift yang baru saja tiba di lantai atas dan hendak kembali turun. Tiba-tiba datang seseorang berusaha membuka paksa pintu lift dengan sebuah kapak, muncullah seorang mahasiswa yang membuka paksa pintu itu dan memukuli dua pria yang mengganggu Mika. Orang itu mengamati wajah William lalu segera membawa Mika keluar dan membawanya ke ruang klinik kampus. Mika tampak lemas dan pucat. Ia pun pingsan.
__________________