TERSESAT DI HATIMU

TERSESAT DI HATIMU
HARI PERTAMA DI BEIJING


__ADS_3

Jack menyiapkan kopernya untuk dibawa ke Beijing. Ia juga membawa beberapa baju dan senjata. Kemarin, ia berubah pikiran dan meminta pak Kang untuk memesan dua tiket pesawat sekalian karena ia akan membawa Sungjae bersamanya. Saat ia sedang berganti baju dengan kaos yang sedikit santai, pak Kang mengetuk pintu kamarnya pelan.


"Tuan, mobil yang hendak mengantar ke bandara sudah siap." ucap pak Kang memberitahukan.


"Baiklah, suruh Sungjae membawa koperku ke bagasi." ucap Jack dari dalam kamarnya.


"Baik tuan."


Beberapa menit kemudian Sungjae datang mengambil koper Jack dan segera membawanya ke bagasi mobil. Jack menatap isi kamarnya. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan pandangan matanya terpaut di baby box goyang yang baru kemarin ia beli. Dengan perlahan ia mendekati box yang ia beli untuk bayinya nanti setelah dilahirkan. Ia termenung cukup lama menatap benda berwarna putih bersih di depannya. Dengan sedikit gemetar, tangannya bergerak perlahan menyentuh benda itu dan mencoba mengayunkan box bayi tersebut.


"NGIK ! NGIK !" suara box bergoyang. Perasaan Jack semakin tak karuan. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Hampir saja air mata mengalir dari kedua matanya. Lalu saat Sungjae kembali menemuinya dan mengatakan koper sudah selesai di angkat ke mobil, ia pun keluar dari kamar. Ketika Jack turun dan semua pelayan mengantarkannya ke teras dengan doa, Jack memberi pesan pada pelayannya agar mereka tetap menjalankan pekerjaan seperti hari-hari biasanya.


Mobil mereka pun berangkat keluar dari halaman rumah menuju Gimpo International Airport, Seoul. Cukup beberapa menit saja, supir mengantarkan mereka tepat pukul 08.00 pagi, 30 menit sebelum jam keberangkatan. Jack dan Sungjae memasuki pesawat Korean Air dan memeriksa nomor kursi mereka. Setelah mendapatkan nomor kursi mereka, koper mereka letakkan di atas. Jack duduk di dekat jendela. Tak berapa lama kemudian, tibalah waktu pesawat lepas landas. Pesawat Korean Air yang mereka tumpangi meluncur di langit dan membelah awan-awan putih, menyapa matahari lebih dekat dengan sinar yang menyoroti kedatangan mereka. Penerbangan berjalan dengan lancar tanpa gangguan. Hanya butuh waktu 2jam 15menit, pesawat mereka sampai ke Internasional Airport Beijing, Cina.


Semua penumpang turun dengan teratur tanpa dorong-dorongan. Jack dan Sungjae berjalan cepat menuju halaman depan bandara. Banyak sekali penumpang yang berlalu lalang di samping mereka. Ketika melihat Taxi, Jack segera masuk kedalamnya diikuti Sungjae. Ia mengatakan pada sang supir untuk mengantar mereka ke sebuah penginapan yang dekat dengan Ghost Street ( Gui Ji ) daerah Dongzhimen. Sang supir mengerti dan segera membawa mereka ke sebuah penginapan di daerah Dongzhimen. Sesampainya di area kuil Yonghe, Jack turun dan membayar taxinya. Setelah lima menit mereka berjalan, mereka sampai di sebuah hotel bergaya Cina, yaitu Temple Courtyard Hotel. Mereka disambut penerima tamu tua yang ramah. Orang itu bersemangat sekali mengajak bicara tamunya. Tak lama, Jack pun mendapatkan kuncinya, mereka segera menuju kamar yang sudah dipesan di lantai atas.


Sungjae meletakkan koper mereka di samping sebuah meja. Dengan dua ranjang di dalamnya, Jack duduk di salah satu ranjang tersebut. Ia pun mendaratkan tubuhnya ke atasnya.


"Kunci pintunya, aku akan tidur sebentar." ucapnya pada Sungjae.


"Oke" jawabnya.


Jack berbaring dan memejamkan mata sebentar, sebelum ia memulai pekerjaannya. Suasana menjadi hening seperti upacara pemakaman. Sungjae memainkan ponselnya dan memberi kabar pada Daniel bahwa mereka berdua sudah berada di hotel dekat dengan kuil Yonghe.


"Kami berdua sudah berada di hotel dekat kuil Yonghe. Jack sedang istirahat. Aku rasa kami berdua akan beraksi nanti malam."

__ADS_1


...****************...


Pukul 15.11 Sore ,


Jack meneropong dari jendela kamarnya mengamati keadaan sekitar. Terutama di jalanan Ghost Street yang masih tampak lengang karena lapak pedagang baru mulai dibuka. Berbeda dengan restaurant-restaurantnya yang sudah buka sejak pagi. Lalu ia duduk di sofa dan membuka laptopnya. Ia mencari alamat di peta tentang sebuah tempat yang sekiranya pantas di curigai sebagai tempatnya gudang pupuk atau beras. Jack menghela nafas panjang. Lalu ia mencari tempat untuk menyewa sebuah mobil yang akan membantu mereka berkeliling Beijing. Dan ia pun mendapatkan lokasi penyewaan mobil yang lumayan dekat dengan letak hotel.


"Ayo kita pergi. Aku akan mencari mobil sewaan." ucap Jack.


"Baik Jack."


Mereka keluar menuruni kamar dan berjalan ke sisi timur dari hotel tempat mereka menginap. Di sebuah penyewaan mobil, Jack sedang menawar harga sewa. Harga sewa disana lumayan mahal untuk mobil jenis Nissan GT-R. Setelah harga sewa sudah cocok, Jack segera mencoba kelaikkan mesin dan seberapa cepat daya luncurnya dalam hitungan perjamnya. Jack mengemudikan mobil mengelilingi lokasi Ghost Street. Dan tidak menemukan satupun tempat yang tampak mencurigakan. Berulang kali ia memutari tempat itu hasilnya sama. Pikiran Jack jadi kacau. Ia terus saja menyebut nama Mika di dalam hatinya. Rasa-rasanya ia ingin berteriak melepas beban di pikirannya.


Sudah 3jam lebih mereka turun di jalanan, namun hari pertama mereka tidak mendapatkan petunjuk apapun. Akhirnya Jack mengakhiri pencariannya terhadap Mika. Mereka akan melanjutkannya kembali di esok hari. Malam itu, Jack tidak bisa tidur. Begitupun Sungjae.


"Apa kau tidak bisa tidur Jack?" tanya Sungjae.


"Aku juga tak tahu. Kenapa bisa seperti ini. Apa mungkin lokasi Ghost Street itu hanya sebutan semata. Bukan nama tempat sesungguhnya." tanya Sungjae.


"Daniel melacak sebuah tempat yang tampak seperti gudang pupuk dan beras di daerah ini. Namun kami juga belum bisa memastikan bahwa tempat itu target kita." ungkap Jack.


"Besok kita coba kesana dan memastikannya." usul Sungjae dan ternyata hal itu juga sama seperti pikiran Jack.


Mereka kembali diam. Sungjae mulai mengantuk dan menguap keras. Iapun beranjak tidur dan memejamkan matanya. Sedangkan Jack masih setia menatap layar laptopnya. Dengan pikiran tak menentu. Berulang kali ia menjambak-jambak rambutnya dan mencubit tulang hidung yang ada di antara kedua matanya.


Jack berbisik lirih.

__ADS_1


*


Mika sayang, bertahanlah.


Jaga dirimu dan bayi kita, aku akan segera menemukanmu.


Aku berjanji.


...****************...


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih sudah baca ceritaku,,, Jika suka tinggalkan Like👍 dan 🌟ratenya ya,, boleh kasih komentar, untuk menambah semangat penulis dalam menyelesaikan ceritanya.😉


Jika menulis adalah sebuah hobi, maka pada pembaca yang merasa suka dengan ceritaku,, dan setia menunggu setiap episodenya,, aku ucapkan banyak terima kasih.......❤


__ADS_2