
Penyergapan yang di lakukan sore itu sungguh menegangkan. Hampir saja ada penembakan. Ketika semua pasukan polisi memasuki rumah kosong itu, kapten Lucas sempat mencoba hendak melarikan diri. Namun aksinya itu dapat di gagalkan oleh petugas. Setelah semua penjahat di bawa dan di masukkan ke dalam mobil tahanan, kepala penyidik mengucapkan terima kasih pada Jack dan Daniel selaku senior mereka yang berhasil mengungkap keterlibatan kapten mereka dalam penyelundupan narkotika. Iring-iringan mobil tahanan pun berangkat ke kantor polisi. Jack, Daniel dan Sungjae ikut mengantarkan penyerahan pelaku kejahatan tersebut. Mereka hendak menyerahkan bukti rekaman pembicaraan dimana secara tidak langsung kapten Lucas telah mengakui semua kejahatannya di depan Jack.
Di kantor polisi, luka di pelipis Jack segera di obati dan diberi perban. Untung saja peluru tembakan itu hanya menyerempet pelipisnya dan tidak terbenam ke dalam kepalanya. Sambil lukanya di rawat, Jack menyaksikan bahwa semua berkas laporan sudah masuk dan siap di proses. Pihak kepolisian juga akan mengirim kapten Lucas dan pengawalnya ke penjara federal yang ada di tengah lautan, sedangkan untuk William mereka memasukkannya kedalam penjara umum negara. Karena merasa misinya sudah selesai, Jack berniat mengundurkan diri kesatuannya dan dari jabatannya sebagai letnan marinir. Ia menginginkan kehidupan yang nyaman tanpa ada tugas dan misi berbahaya yang berdampak pada kehidupan pribadinya lagi. Terutama pada keluarganya.
...----------------...
Tiga bulan kemudian setelah masa tenang bagi Jack, tampak seorang pria berkemeja hitam berdiri di sebuah dealer mobil yang baru beberapa minggu di resmikan. Pria itu sedang memeriksa mesin mobil Dodge Chalenger SRT demon dengan kecepatan 270km/jam miliknya. Ia berencana akan membawa mobil SRTnya ke Beijing. Mencari istrinya yang hilang. Ia yakin, istrinya sedang menunggu untuk dijemput.
Kali ini, Jack berniat pergi sendiri ke Beijing. Ia meminta Sungjae untuk mengawasi pekerjaan di dealernya yang baru dibuka tersebut. Dengan pasti, Jack mengendarai SRT dengan kecepatan penuh menuju Bandara Internasional Gimpo. Ia merogoh kocek lumayan besar untuk biaya ruang VIP penyimpanan mobilnya. Seperti biasanya, perjalanan ke Beijing hanya memakan waktu 2jam 15 menit saja. Sesampainya di Bandara Internasional Beijing, Jack segera meluncur menuju jalanan utama kota Beijing.
Tanpa Jack sadari, ia mengendarai mobilnya sampai ke daerah barat laut kota Beijing-Tiongkok. Disana ia berhenti di lokasi kota terlarang. Dengan angin yang berhembus lembut, tampak sekali keindahan taman Beihai yang luasnya mencapai 69hektar. Jack duduk di sebuah pinggiran jembatan. Memandangi danau yang tampak segar dengan luasnya kira-kita hampir setengah dari taman tersebut. Tanpa ia sadari, dari kejauhan ada dua orang wanita yang tengah mengamatinya.
"Kau sedang apa Yin?" tanya Leen melihat saudarinya melamun memandang ke tempat jauh.
"Apa kau lihat pria itu? Entah mengapa, aku senang melihat wajahnya. Dia begitu tampan." jawab Fang Yin.
"Apa? Ka,,kau melihat seorang pria yang tampan?" tanya Leen sedikit malu. "Apa dia benar-benar tampan?" sambungnya.
"Ya,,,lihat badannya. Ia tampak begitu gagah." suara Yin terdengar lembut.
__ADS_1
"Sudahlah Yin, ayo kita pulang. Kita sudah mengumpulkan banyak bunga dan daun teratai." ucap Leen.
Kedua wanita ini pun beranjak pergi hendak pulang ke kuil yang dekat dengan taman tersebut. Namun dalam perjalanannya kembali ke kuil Miaoying, mereka rupanya harus melewati tempat dimana pria itu berdiri. Mereka pun berjalan sedikit menunduk dan agak tergesa-gesa. Ketika Jack merasakan sedikit jenuh dan ingin berpindah tempat, ia berbalik dan tidak sengaja menubruk seorang wanita sehingga ia tidak sengaja memeluknya. Seketika hembusan angin menyibakkan aroma tubuh yang seperti tidak asing bagi Jack. Untuk sesaat ia memejamkan mata dan menikmatinya.
"Auw,," Fang Yin sedikit kesakitan, namun ia masih menunduk.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Jack melihat gadis berponi dan berkepang panjang bersama temannya yang sama-sama berkepang juga. Namun ia tidak bisa melihat wajahnya karena keduanya terus menunduk.
"Tidak apa, ayo kita segera pulang Yin." ucap Leen. Ia menggandeng Yin pergi karena takut jika pria itu menggangu mereka.
Saat keduanya berlalu dari hadapan Jack, di dalam hati pria itu merasakan seperti ada sesuatu yang membuat darahnya mengalir begitu hangat. Ia memandangi kedua wanita itu sampai benar-benar hilang dari pandangan mata.
...----------------...
Ia menyapukan pandangannya ke seluruh taman dan danau yang ada di sana. Namun ciri-ciri dua orang wanita yang berkepang sudah tidak ia jumpai lagi disana. Jack menghela nafas panjang. Ia kembali naik ke mobilnya dan hendak pergi dari sana. Namun tiba-tiba saja ia merasakan pandangannya kabur. Kepalanya terasa amat sakit dan akhirnya iapun limbung dan jatuh pingsan. Kebetulan sekali, para biksu dari kuil Miaoyang yang baru pulang dari kebun labu tengah melewati tempat itu. Ketika mereka melihat ada orang terkapar di atas jembatan, dengan segera mereka mengangkat dan membawanya ke kuil untuk merawatnya.
Sekembalinya Mayleen dan Fang Yin ke kuil, mereka mendapati kakak seperguruan mereka sedang membicarakan seseorang yang mereka temukan pingsan di jalan.
"Kepalanya sedang terluka, sepertinya bekas goresan. Mungkinkah itu yang membuatnya pingsan?" tanya kakak Min.
__ADS_1
"Kelihatannya dia seorang letnan marinir, aku sempat melihat dompetnya, disana ada kartu identitas kemiliterannya." bisik kakak Kim.
"Hey ! Kalian jangan sembarangan menyentuh barang milik orang lain, kita rawat saja dia. Jika dia sudah bangun, berikan dia ramuan obat." ucap kakak Liu, kakak tertua para biksu.
Mayleen mendekati dan mengagetkan mereka. "Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Leen sambil menggendong Annchi, putri Yin yang tengah menangis karena terganggu dengan suara pamannya. "Ussh,,ussh,,ush,,Suara kalian membuatnya ternbangun." ucapnya kesal.
"Benarkah? oh ya ampun,,maafkan paman Annchi,," suara kakak-kakak biksu itu serentak.
"Sudahlah, tak apa. Mari sini, mungkin Annchi lapar." Fang Yin masuk membawa teh bunga teratai.
Seketika semua kakak seperguruan mereka meninggalkan ruangan itu karena Yin akan memberi susu pada bayinya. Setelah Fang Yin menyusui Annchi, ia kembali menidurkan putrinya tersebut di tempat tidurnya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di ruangan sebelah ada seorang pria yang tengah tak sadarkan diri sedang tidur di ranjang kayu.
"Apa kau sudah dengar, Yin?"
"Dengar apa?"
"Kakak Min bilang, saat mereka baru pulang dari kebun labu, mereka menemukan seorang pria dengan kemeja hitam terkapar di atas jembatan. Menurutmu, apakah itu pria yang kita temui tadi?" ucap Leen memberi tahu Yin.
"Benarkah? Pria tampan yang kita lihat tadi ada disini?" jantung Yin tiba-tiba saja berdegup kencang.
__ADS_1
❤❤❤
...----------------...