TERSESAT DI HATIMU

TERSESAT DI HATIMU
SEBELUM KE BEIJING


__ADS_3

Jack tertelungkup di atas bebatuan sebuah aliran sungai kecil. Dengan luka tembakan dan luka sayatan yang mengalirkan darah cukup banyak sehingga darah itu bercampur air membasahi bajunya. Setelah sadarkan diri, Ia merintih dan berusaha bangun menapaki bebatuan sungai. Ia melangkah gontai dan terseok-seok sambil memegangi lengannya yang sakit. Ia berusaha keluar dari hutan dekat bukit itu. Dari kejauhan terdengar olehnya suara Daniel memanggil-manggil namanya.


"Jack ! Dimana kau?"


"Jack !!"


Jack mencari asal suara Daniel. Iapun berteriak padanya, "Aku disini." suara Jack sedikit lemah.


Jack mencoba tetap membuka matanya, karena jika ia tertidur dalam kaadaan terluka seperti ini, kematian bisa saja mengancam dirinya. Tembakan kedua dari orang yang ada di helicopter tadi mengenai kaki kirinya. Lengkap sudah penderitaannya. Ia kehilangan Mika dan ia juga mendapat dua buah tembakan di lengan dan kaki kirinya. Dengan perlahan ia berjalan dengan sedikit menyeret kakinya. Peluru yang terbenam di dagingnya tersebut menyisakan rasa sakit yang amat sangat sampai ke tulang-tulang. Ia beristirahat sejenak dan duduk di bawah sebuah pohon. Ia mengambil pisau lipatnya dari tempat ikat pinggang. Ia akan mencoba mengeluarkan peluru yang terasa mengganjal di tulang pahanya setiap ia berjalan. Sebenarnya ia butuh alcohol untuk mensterilkan pisau lipatnya, karena ia tidak sedang membawa minuman tersebut akhirnya ia melakukan pembedahan tanpa proses pensterilan. Dengan tangan gemetaran tangan Jack menyayat luka tembaknya untuk mengambil peluru yang mengenai tulang kakinya.


"Ssshhh,,, Aahhh,, Aaaahh,,," Jack meringis menahan rasa perih.


Setelah peluru yang tertanam di kakinya itu berhasil dikeluarkannya, ia bersandar ke sebuah pohon untuk mengatur nafasnya. Lalu ia menyobek sebagian kain di celananya untuk mengikat kakinya supaya tidak terus menerus mengeluarkan darah. Terdengar lagi suara Daniel memanggil namun suara itu semakin jauh. Ia berpikir bahwa seharusnya Daniel juga bisa melacak lokasi ponselnya. Ia meraih saku celana tempat ia menyimpan ponselnya. Tapi ponsel itu tidak ada di sakunya, karena benda itu ikut terjatuh saat dirinya terjun berguling di bukit. Jack menarik nafas lagi, untuk sesaat ia merasakan kedinginan dan tanpa terasa matanya pun terpejam.


Hari semakin senja, ketika Daniel melewati semak-semak belukar dan masih mencari-cari Jack. Ia melacak lokasi terahir dimana kawannya itu jatuh. Sampai akhirnya ia bisa mencapai tempat itu, ia tidak menemukan Jack disana. Hanya ponselnya saja yang ada itupun dalam kondisi rusak dan mati. Di kantonginya ponsel Jack dan iapun berjalan melanjutkan pencariannya. Saat ia melihat ceceran darah di tanah dan rumput, ia yakin bahwa itu jejak Jack kawannya. Sedikitpun dirinya tak menyerah sebelum menemukan saudara seperjuangannya itu. Dari kejauhan ia melihat seseorang bersandar di sebuah pohon. Itu adalah Jack. Namun Jack sedang tak sadarkan diri. Daniel segera menghampiri Jack dan memanggil-manggil namanya.


"Jack ! Jack bangun !"


Sedikit demi-sedikit mata Jack terbuka dan ia melihat Daniel ada di depannya. "Daniel,,,," gumamnya lirih.


"Bukalah matamu Jack. Jangan tidur. Aku akan membantumu bangun. Ayo."


Daniel menopang bahu Jack dan membawanya keluar dari hutan itu. Mereka berjalan dengan pelan karena kaki Jack terseok. Namun akhirnya mereka bisa mencapai mobil yang mereka tinggalkan di pinggir jalan.


...----------------...

__ADS_1


Esok pagi cuaca terasa amat dingin. Jack membuka matanya dan menyadari bahwa ia tengah tidur di kamarnya. Semalaman ia tidur tanpa bangun sedikitpun. Ternyata pak Kang sudah berdiri di sampingnya.


"Syukurlah kau sudah sadar tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Kang.


"Aku ingin kau memesankan aku tiket pesawat ke Beijing untuk hari ini." jawab Jack.


"Apa tuan? Tapi tuan masih terluka." pak Kang mengingatkan.


"Aku tidak akan tinggal diam, jika istriku ada di tangan orang lain." suara Jack terdengar marah.


"Maafkan saya tuan, karena lalai dalam mengawasi nyonya." ucap pak Kang merasa sangat bersalah.


Jack bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Cukup 15menit saja ia sudah kembali dengan handuknya. Ia segera berganti pakaian dan tampak bersiap-siap untuk pergi. Dengan membawa pistolnya. Sekali lagi ia mengatakan pada pak Kang agar memesankan tiket ke Beijing untuk perjalanan dirinya hari itu juga. Sedangkan ia sendiri beranjak pergi ke kantor kapten Lucas untuk memastikan sesuatu. Saat turun ke lantai bawah, ia melihat Daniel tengah membicarakan sesuatu dengan Sungjae. Daniel terkejut melihat Jack yang sudah berpakaian rapi dan terlihat hendak pergi.


"Kau mau kemana Jack?" tanya Daniel.


"Aku ikut denganmu." ucapnya.


"Baiklah."


Setelah mereka meluncur dijalan, tak banyak kata yang terucap dari mulut keduanya. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, terutama Jack. Ia tidak bisa membiarkan Mika diculik.


"Aku meminta pak Kang untuk memesan tiket ke Beijing untuk hari ini. Jadi mungkin setelah ini, aku akan berangkat kesana." Jack membuka obrolan.


"Apa kau akan pergi sendiri?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Ya. Aku pergi sendiri."


"Kalau begitu, jika kau butuh bantuan jangan lupa hubungi aku." Daniel mencoba untuk menawarkan bantuannya


"Baiklah."


Sampai di kantor kepolisian Gyeonggi, mereka segera masuk dan menuju kantor kapten. Semua menyapa kedatangan Jack dan Daniel, sebagai senior mereka. Namun sekretaris kapten mengatakan bahwa kapten sedang keluar kota dan tidak ada yang boleh memasuki kantor tanpa ada kapten Lucas. Jack mencari alasan supaya dirinya bisa masuk.


"Ya, kami kemari diperintah untuk mengambil barang milik kapten yang tertinggal. Waktu kami tidak banyak Seya, kapten membutuhkan barang itu segera." Jack mencoba dengan sebuah cara.


"Baiklah, tetapi kunci kembali ruang itu setelah kalian selesai." ucap Seya melempar kunci ruang kantor tersebut.


"Tentu saja. Terima kasih."


Jack membuka kunci dan segera masuk. Daniel mengikuti Jack masuk dan menjaga pintu. Tetapi ia segera mencari-cari dokumen atau semacamnya di atas meja kapten Lucas. Tanpa menunggu lama, Jack juga mencari lemari yang di perkirakan bisa memuat kopernya. Satu persatu ia geledah namun tidak menemukan keberadaan kopernya. Hingga ia tertegun pada meja di sudut ruangan yang di apit dua kursi sofa. Ia mencoba membukanya namun terkunci dengan sebuah gembok. Ia yakin bahwa kopernya di sembunyikan disana. Dengan pasti ia menembakkan peluru ke arah kuncian gembok itu sehingga gembok pun terbuka. Seseorang mendengar suara senapan dan menghampiri ruang kapten Lucas.


"Aku seperti mendengar suara tembakan. Apa kalian mendengarnya?" tanya Seya.


"Ah? Kami tidak mendengar apapun." jawab Daniel.


"Hmm,,begitu ya? Baiklah kalau begitu. Apa kalian bisa sedikit lebih cepat?"


"Baiklah kami akan usahakan."


Akhirnya, Seya pergi. Jack mengambil kopernya dan membantu Daniel mencari sesuatu yang sekiranya mencurigakan. Mereka menemukan sebuah buku catatan yang menunjukkan bahwa kapten Lucas masih melanjutkan organisasi gelapnya, bersama Bong Enterpreneur. Apakah Bong masih memiliki cabang lain? Dimana? Apakah benar di Beijing? Kalau benar, Mika pasti masih ada disana untuk membuka kode angka sebuah gudang heroin. Mereka berdua mengambil laporan itu dan memasukkannya ke koper Jack. Mereka keluar lalu mengembalikan kunci pada Seya dan sesegera mungkin pergi dari sana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2