
Pagi itu udara sangat dingin dengan rintikan hujan yang turun dari langit. Setiap tetesnya membasahi jalan dan perkebunan di sekitar rumah Daniel. Sebenarnya hari itu J.O hendak membuatkan paspor baru untuk Mika. Ia sudah berjanji, jika misinya berakhir, ia akan membawa Mika ke Amerika untuk berkumpul dengan keluarga besarnya. Juga akan meresmikan pernikahan mereka disana. Namun karena status Mika dan keadaan Mika yang tidak memegang dokumen-dokumen penting seperti akta kelahiran dan KTPnya, ia memutuskan untuk membuat paspor palsu.
Daniel mempunyai seorang teman yang ahli membuat dokumen-dokumen tiruan. Namanya Brugh. Namun, Brugh tidak melayani sembarang orang. Ia hanya mau membuatkan untuk beberapa orang kenalannya saja. Karena orang itu tahu, ada hukuman berat jika ia sembarangan mencetak paspor palsu. Setelah hujan sedikit reda, J.O Daniel dan Mika berangkat menemui Brugh di rumahnya. Cukup jauh mereka melewati beberapa jembatan kota. Dalam perjalanan itu, Mika memandang keluar melalui kaca jendela mobil. Ia melihat beberapa anak sekolah yang seusia dirinya. Mika sedikit melamun, ia seharusnya menyelesaikan kelas dan ujian sekolah terakhirnya. Setelah itu ia bisa meneruskan kuliahnya atau langsung bekerja.
Jack melihat bahwa Mika sedang melamun menatap keluar jendela. Ia tahu, Mika sedang memandangi gadis-gadis yang berseragam sekolah di setiap jalanan. Jack merasa sangat bersalah pada istri kecilnya. Dialah yang merenggut masa depan Mika sehingga ia meninggalkan bangku sekolahnya. Dengan segala pertimbangan, Jack memutuskan akan memberi kesempatan pada Mika untuk melanjutkan sekolahnya. Hampir tujuh bulan lamanya Mika meninggalkan aktifitas sekolahnya.
"Apa kau merindukan sekolahmu?" tanya Jack.
"Apa? Ah,,tidak. Aku hanya melihat mereka saja" Mika berusaha membohongi perasaannya.
Tangan kanan Jack yang besar meraih tangan Mika yang halus dan menggenggamnya dengan erat. Gadis itu menoleh sesaat ke arah Jack, lalu kembali melempar pandangannya menuju bis jemputan sekolah. Jack semakin yakin, ia harus mengubah rencananya. Ia berpikir, bukankah ia bisa pulang ke Amerika nanti setelah Mika lulus kuliah? Ini hanya soal menunda jadwal pulang saja kan? Dengan sekali tarikan nafas, ia berkata pada Daniel.
"Aku rasa, kita tidak akan pergi ke rumah Brugh sekarang." ucap Jack pada Daniel.
__ADS_1
"Kenapa,,,,"
Daniel menengok Jack yang duduk dibelakang dan dengan cepat memberi isyarat padanya untuk melihat ke arah Mika. Ia dapat melihat bahwa Mika sedang melamun menatap keluar jendela. Akhirnya ia tahu apa yang di maksudkan oleh kawannya. Ia mengerucutkan bibirnya dan berbelok ke rute semula. Mika merasakan perubahan rute yang Daniel lakukan.
"Apa kita berbalik arah pulang?" tanya Mika heran.
"Kita tidak jadi berangkat ke Amerika sekarang. Aku akan memberimu kesempatan melanjutkan satu tahun sekolahmu. Lalu kau juga bisa memilih jurusan kuliahmu sambil kita mendaftarkan pernikahan kita." jawab Jack ingin menghibur.
"Percayalah. Aku tidak akan pernah menyesal jika itu bisa membuatmu bahagia."
______________
Mereka sampai di rumah Daniel kembali, namun hanya untuk mengantar pulang kawannya tersebut. Selanjutnya, Jack akan pergi ke rumah kediaman Bong Cheol. Karena semua peralatan sekolah Mika ada disana. Jack segera menginjak gas penuh dan langsung melaju kencang di jalanan. Beberapa mobil tampak beriringan dengan laju mobil Jack. Ketika Mika mulai menikmati perjalanannya. Hujan kembali turun dengan sangat deras.
__ADS_1
Hingga sampai di kediaman Bong, tempat itu tampak sepi. Jack memarkirkan mobilnya di dekat teras depan rumah besar itu. Ia melepas kemejanya untuk memayungi Mika. Sehingga gadis csntik itu tidak basah terkena air hujan.
Jack melompat ke teras dengan menggandeng erat lengan Mika. Terdengar suara gemuruh petir yang terlihat menyambar-nyambar di langit membuat Mika merasa ketakutan. Ia segera memeluk Jack, suaminya.
"Aku takut. Aku mohon jangan lepaskan aku Jack." pintanya.
"Ya, aku akan memegangimu. Ayo masuk. Di luar sini sangat dingin." Jack mengunci mobilnya.
Mereka berdua melangkah masuk dengan perlahan. Rumah itu tampak sepi sekali. Seluruh ruangan di lantai bawah tidak ada pelayan yang bertugas. Mereka melangkahkan kaki menaiki tangga menuju ruangan atas. Tempat itu juga kosong. Tak ada satupun orang yang berada di sana. Mereka berdua menuju kamar Mika untuk mengganti pakaian yang kering. Namun karena di kamar Mika hanya ada pakaian wanita, Jack pergi ke kamar Bong untuk mencari pakaian. Ia masuk dan menutup pintu kamar yang begitu besar bak kamar seorang raja. Setelah memilih beberapa model baju, akhirnya Jack berganti pakaian yang lumayan cocok untuknya. Sebuah kemeja hitam dan celana yang juga berwarna hitam.
Jack tampak sudah selesai dengan urusannya lalu ia pun beranjak pergi dari kamar Bong. Namun ia melihat brangkas tempat tersimpannya uang-uang Bong. Ia juga melihat beberapa dokumen di atas meja di ruangan itu. Menurut perasaannya, itulah dokumen-dokumen penting milik Bong. Karena penasaran, ia pun membuka lembar demi lembar dari kertasnya.
__________________😘 Happy Reading 😘___________________
__ADS_1