
Dua bulan kemudian saat pendaftaran mahasiswa baru di Hanyang Univesity , Mika lulus ujian pertama untuk masuk bergabung belajar disana. Pagi itu, ia mematut dirinya sebelum Jack mengantarnya berangkat ke kampus. Sudah satu jam lamanya ia berdiri di depan cermin.
"Apa kau tidak mau meninggalkan cermin itu." tanya Jack yang merasa pusing melihat Mika berlama-lama di depan cermin.
"Ah? Apa aku sudah cantik? Aku merasa aku tidak cantik lagi, karena wajahku kusut." tanya Mika.
"Hey, sejak kapan kau merasa takut kecantikanmu hilang sayang? Bukankah setiap minggu kau melakukan perawatan." jawab Jack.
"Entahlah, aku merasa kulitku menjadi kering. Dan lihatlah ini. Perutku agak gendut. Padahal aku makan hanya dengan porsi yang sedikit."
"Oh ya?" Jack mengamati tubuh Mika. Memang ada sedikit volume di bagian perutnya.
Namun Jack ataupun Mika tidak menyadari bahwa saat ini Mika sedang berbadan dua. Karena di kehamilan bulan pertamanya, Mika tidak menunjukkan gejala seperti muntah-muntah ataupun pusing-pusing. Jack memeluk Mika dari belakang. Ia mengatakan bahwa istrinya adalah wanita tercantik di dunia. Jadi Jack meminta Mika untuk tidak mengkhawatirkan soal penampilannya. Seandainya Mika berubah jadi gendut pun, ia tetap akan mencintainya.
"Sekarang berangkatlah. Kau hampir terlambat di proses pengenalan anak didik baru." ucap Jack dengan sabar menemani Mika.
"Baiklah." Mika mengambil tasnya dan berjalan di depan Jack.
Sampai di kampus, Jack melihat bahwa universitas tersebut sudah sangat ramai dengan beberapa jenis ras dari berbagai negara. Mika turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Segera ia masuk ke kampusnya dan meninggalkan Jack yang memandanginya. Tak lama kemudian, Jack pergi menyapa karyawan toko rotinya. Mereka sedang membuat adonan roti dan memanggang roti yang lain. Hari ini ada pesanan 500 paket dus untuk acara di sebuah sekolah menengah. Jack memastikan kualitas roti yang mereka buat tetap bagus. Setelah semuanya terlihat baik-baik saja, Jack pergi lagi. Ia pergi ke sebuah ruko yang sedang dalam masa pembangunan, untuk usaha barunya sebagai perakitan dan penyedia mobil sport. Persiapannya sudah 80% tinggal menunggu acara pembukaannya. Setelah dari sana, ia menemui Daniel dirumahnya.
__ADS_1
_________________
Di sebuah sore yang teduh, Daniel tampak menghisap cerutunya dalam-dalam. Dengan kedua tangan yang tetap sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Ia mencoba meretas sistem CCTV di menara kantor pusat Genjie. Dimana setiap pergerakan kendaraan yang melintasi pos-pos pengawasan terekam disana. Sedangkan Jack, sedari tadi memperhatikan layar komputer itu dengan seksama. Mereka berdua sedang mengamati beberapa pergerakan kontainer yang menurut mereka cukup mencurigakan di beberapa titik lokasi dimana ada pos-pos penjagaan dan pemeriksaan. Selama ber bulan-bulan bahkan bertahun-tahun, aksi itu tidak ada yang melaporkan bahkan seolah disembunyikan dan ditutup-tupi.
"Apa kau benar-benar yakin itu perbuatan Kapten?" tanya Daniel.
"Shh,,Ya, aku rasa begitu. Aku menemukan beberapa laporan tentang bukti transfer sejumlah uang yang masuk ke rekening seseorang dengan jumlah besar. Dan ketika aku bertemu dengan Sungjae, aku semakin yakin bahwa uang itu dikirim ke rekening kapten sebagai uang tutup mulut. Menurutmu, bagaimana caranya kita akan menjebak dan membuka kedok kapten agar kepolisian bisa segera menangkapnya." Jack mendesis geram.
"Kita tidak bisa asal-asalan menuduhnya tanpa bukti pasti. Kita harus memikirkan dan merencanakan semua dengan matang." jawab Daniel.
"Lalu?"
Sesaat suasana menjadi hening. Ketika itu Liza masuk dan membawakan kudapan lezat. Ia mengamati komputer itu sejenak lalu mengatakan sesuatu pada suaminya.
"Benarkah Kapten Lucas terlibat dalam persekongkolan ini? Kalau iya, dia pasti akan menutupi semua bukti dengan amat rapi." ucap Liza sebagai mantan anggota perawat militer yang di pimpin Kapten Lucas.
Jack menyomot kudapan manis buatan Liza. Sambil mengunyah makanan itu, ia mendengarkan Daniel dan Liza saling berargumen. Tiba-tiba Jack merasakan getaran di saku celananya. Ia sampai terbatuk-batuk karena terkejut. Daniel menertawakan tingkah kawannya itu.
"Apa yang kau tertawakan, sobat?" tanya Jack terkekeh.
__ADS_1
"Ha-ha-ha ! Siapa suruh menyimpan ponsel di saku celana, dengan mode getar pula. Itu bisa mengacaukan sinyal rudalmu."
Daniel tertawa terbahak-bahak sambil memegangi tangan Liza. Walaupun usia pernikahan mereka sudah belasan tahun, Kedua orang itu tampak semakin romantis saja. Jack mendengus kesal karena di tertawakan sobatnya. Ia menerima telepon dari Mika.
"Apa kau sudah akan pulang?" tanya Jack.
"Iya, aku sudah di depan kampus. Bersama dua orang temanku. Aku tunggu secepatnya." jawab Mika.
"Baiklah, pangeran akan segera datang."
"Apa? Ha ha ha. Kau ini. Sudah, jemput aku sekarang."
"Hemm,,baiklah tuan putri."
____________
Terimakasih sudah membaca episod iniπβ€
βββ Next more ....
__ADS_1