
Jack mencoba mendekati Mika dan putrinya. Saat pertama ia melihat bayi Annchi, ia hampir menangis karena saking bahagianya. Di gendongnya bayi kecil cantik rupawan itu dengan gemetaran. Ia juga menciuminya dengan kasih sayang yang amat sangat. Saat Annchi bersama Jack, anak itu selalu langsung terdiam dan menyentuh pipi ayahnya walaupun sebelumnya ia menangis tak henti-henti. Hal itu memberi reaksi positif pada Fang Yin. Ia menjadi merasa bahwa pria asing yang bernama Jack itu adalah orang yang baik.
Jika malam tak berarti tanpa kehadiran bulan, sama halnya Jack yang tak berarti tanpa kehadiran Mika. Walaupun saat ini Mika dalam keadaan lupa ingatan, ia tak menyerah sampai disitu saja. Ia mencoba mendekati Mika sedikit demi sedikit, dan mengenalkan bagaimana kebiasaannya dulu. Seperti sore itu, Jack sedang mencuci tangannya di air keran dekat kolam pancuran. Yin menghampirinya dan mengatakan bahwa makan siang sudah siap.
"Makan siang sudah siap, mari makan bersama kami." ucapnya.
"Apakah aku boleh berenang disini?" tanya Jack mengatakan hal lain.
"Berenang? Ah, ya. Boleh saja. Kau bisa mandi disitu.
"Kalau begitu, tolong pegangkan bajuku sebentar." ucap Jack sambil melepas kemeja dan celananya.
Jack segera menceburkan diri ke kolam yang ada di depannya. Ia berenang sampai ke ujung lalu kembali lagi mendekati Yin. Tiba-tiba saja Jack menyelam dan tidak keluar-keluar dari air. Wanita itu menunggu Jack dengan khawatir. Saat ia merasa khawatir, tiba-tiba saja kepalanya merasa sakit yang amat sangat. Ia sedikit melihat gambaran saat dirinya berenang dengan seorang pria namun tidak begitu jelas siapa pria itu. Tiba-tiba Jack sudah rada di depannya dan membuatnya terkejut.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jack sedikit khawatir.
"Ya,,aku baik-baik saja." Yin masih memegangi kepalanya.
"Apa kau merasa pusing?" tanya Jack.
"Sedikit." rasa sakit di kepala Yin berangsur-angsur menghilang.
Jack memegang tangan Yin. Ia mencoba membantunya duduk. Lalu ia mengamati wajah Yin yang tak lain adalah Mika. Ia amat merindukannya. Wanita itu masih cantik. "Apa kau bisa berenang?" tanya Jack tiba-tiba.
"Apa? Ah, tidak. Aku tidak bisa." Yin merasa heran.
"Bagaimana kalau aku ajarkan kau untuk berenang?" Jack mencoba mengajak Yin untuk mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Berenang? Apa itu perlu."
"Apa kau mau coba?"
Jack melihat Yin hanya diam. Akhirnya ia meraih tangan wanita itu dan membawanya melangkah bersamanya masuk ke sungai. Awalnya, Yin menjerit-jerit ketakutan. Tapi lama-kelamaan ia bisa mengontrol tubuhnya di dalam air. Bagus ! Pikir Jack. Kini mereka berdua bisa berlomba mencapai ujung tepian. Dari jauh, Leen dan Liu memandangi mereka berdua. Leen tampak menggendong Annchi. Mereka tampak tersenyum melihat perkembangan kedekatan keduanya.
"Lihatlah Ann, ayahmu mencari kalian dari Seoul sampai kemari. Dan aku bisa melihat, ayah dan ibumu masih mempunyai ikatan kuat. Mereka harus bisa bersama lagi. Mari kita bantu mereka untuk bahagia Ann." ucap Leen sambil menimang-nimang Annchi.
Kakak Liu pun mengusap-usap kepala Annchi dengan penuh kasih sayang. Ia juga tersenyum melihat keduanya. Ia berpikir, itu adalah hal paling romantis yang pernah ia lihat. Mereka pun memberi kesempatan untuk Jack melakukan pendekatan pada Yin. Mereka berdua meninggalkan tempat itu dan kembali ke kuil.
...----------------...
Dua minggu berlalu di malam yang cukup dingin, Yin baru saja menina bobokkan Annchi. Setelah menyelimuti putrinya, ia mengusap pipi bayi itu. Bayi kecil berusia 2 bulan atau lebih itu tampak tidur lebih nyenyak. Biasanya ia akan menangis dan terus saja terbangun di setiap malam seperti takut pada sesuatu, namun beberapa hari ini ia tidur sangat nyenyak sepertinya ia tahu ada seorang penjaga di dekatnya. Yin sedang berganti pakaian tidur ketika Jack mengetuk pintu. Dengan tergesa-gesa Yin membuka pintu kamar, ia terkejut melihat Jack ada di depannya.
"A,,apa yang kau lakukan disini?" tanya Yin.
" Kau lihat itu?" Jack menunjuk kembang api yang menyala dari jauh. Mungkin sedang ada perayaan tertentu di sana.
"Indah sekali,,,," Yin bergumam.
"Apa kau suka?"
"Tentu saja. Aku baru melihatnya kali ini." Tiba-tiba ingatan tentang mereka berdua saat berbulan madu muncul. Yin melihat dirinya tengah berada di pelukan seseorang yang tubuhnya begitu hangat, sambil melihat kembang api dari atas sebuah bangunan. Mereka tertawa-tawa dan saling berciuman. Seketika itu juga ia merasakan sakit kepala. Ugh ! Yin oleng dan hampir jatuh. Namun Jack menangkapnya sehingga wanita itu tetap duduk bersamanya. Jack mengamati Yin yang sedang merasa pusing. Jack mencoba memanggil namanya.
"Mika,,Mika bangunlah." Jack mengusap-usap pipi wanita yang ada di pelukannya. Beberapa menit kemudian, Yin sudah tersadar dari lamunannya.
"Apa kau ingat sesuatu? " tanya Jack.
__ADS_1
"Sedikit. Kenapa kau tanyakan itu?" tanya Yin.
"Tidak apa. Aku hanya merasa khawatir saja." gumam Jack.
Yin bangun dari duduknya dan melangkah ke sisi kolam lalu duduk di tepinya. Ia ingat bayangan dalam pikirannya yang memperlihatkan seseorang pria sedang memeluk dan menciumnya dengan mesra. Melihat Yin melangkah ke sisi kolam, Jack mengikuti Yin dengan sabar. Ia mengamati wajah Yin yang sedang melamunkan sesuatu. Matanya menerawang jauh entah kemana. Dengan sedikit karaguan, tangan Jack mendekat dan memeluk wanita itu lagi. Yang ternyata tanpa penolakan dari Yin. Saat ia mendekatkan kepalanya dan mencoba mencium bibir Yin, mata Yin menatap mata pria yang ada di depannya, ia merasa seperti mengenal mata kebiruan itu. Dalam sisi cahaya bulan yang minim, Jack mulai menyentuh pipi Yin dengan tangannya yang sedikit gemetaran. Ibu jarinya menekan bibir bawah wanita yang ada dalam pelukannya itu sehingga mulutnya sedikit terbuka. Saat itu juga Jack mencium bibirnya dengan lembut. Ia merasakan karinduan yang mendalam pada wanita itu sehingga ia begitu menikmati setiap hisapannya.
Tangan kiri Jack menopang punggung Yin, sedangkan tangan kanannya memegangi kepalanya. Ia menatap mata wanita yang ada dalam dekapannya. Dengan perlahan, tangan Yin mulai melingkari leher Jack. Ia tahu, wanita itu juga menikmati ciumannya. Ketika ciuman mereka mulai memanas, Yin mendorong kasar tubuh Jack, ia juga menampar keras-keras pipi pria itu. Lalu ia berlari kembali ke kuil meninggalkan Jack seorang diri. Ia mengutuk dirinya karena terlena dalam buaian Jack. Setelah berada di kamarnya, Yin berdiri di depan kaca. Ia mengamati bibirnya yang basah dan memerah karena hisapan kuat dari Jack. Ia mengusap-usap kedua pipinya. Ia merasa sangat malu karena begitu menikmati semua sentuhannya.
...----------------...
Keesokan harinya, Jack sedang memanasi mobilnya yang sempat ia tinggalkan di jembatan. Ia melihat Leen dan Yin hendak pergi ke pasar seperti hari-hari biasanya. Saat ia menyapa mereka, tampak Yin memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Apa kalian hendak pergi?" tanya Jack sambil mengamati wajah Yin.
"Iya, kami hendak ke pasar membeli sayuran." jawab Leen.
"Apa aku boleh mengantar?" tanya Jack lagi.
"Oh tidak perlu, sungguh," Leen merasa tidak enak hati.
"Ayolah." Jack membuka pintu mobil lalu mendorong pelan punggung Leen untuk duduk ke kursi belakang. Setelah Leen masuk ke mobil, ia meraih tangan Yin dan membawanya duduk di kursi samping pengemudi. Ia senang mereka berdua menurutinya.
"Baiklah, nona-nona. Aku siap mengantarkan kalian berdua sampai ke tujuan." ucap Jack sambil melirik Yin yang masih saja membuang muka.
Leen mengamati wajah Jack dari kursi belakang. Ia merasa bahwa pria itu begitu baik dan tampan. Ada sedikit rasa suka di dalam hatinya kepada Jack. Namun ia tahu, perasaan itu hanya sebatas rasa kekagumannya pada pria itu. Tidak boleh lebih. Akhirnya ia pun tersenyum.
...----------------...
__ADS_1