
Suara guntur menggelegar terdengar dengan hujan yang sangat lebat. Jack tengah duduk di dekat Mika sambil membaca koran. Tiga bulan berlalu setelah Jack menanyakan soal sebuah kode nomor acak yang menjadi kunci utama penyimpanan gudang heroin di Beijing. Dan Mika memang mengetahui kode itu karena ayahnya meminta dia mengingatnya. Setelah Jack menghafalkan kombinasi angka itu ia melarang Mika untuk keluar rumah sendiri tanpanya. Karena firasat buruk selalu menghampiri pikirannya. Ia teringat pada Sungjae. Bocah itu ia panggil untuk datang kerumah hari ini. Mungkin karena hujan deras, ia belum juga muncul. Pak Kang menghampiri Jack dan mengatakan seseorang ingin bertemu dengannya. Jack segera tahu siapa orang yang datang menemuinya.
Jack turun menemui Sungjae. Di ruang tamu rumah itu, Sungjae duduk termenung. Ia mengingat saat pertama kali ia datang kerumah itu bersama ibunya. Seseorang mengirim mereka kepada Bong Cheol sebagai cara untuk mengambil hatinya. Ayah Sungjae adalah anggota kepolisian yang tewas dalam tugas. Sedangkan rumah mereka habis terbakar. Sebagai Kaptennya, Kapen Lucas memberi janji sebuah pekerjaan dan tempat tinggal yang layak dan sebuah harapan pada istri anggota kepolisian itu untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Namun kapten Lucas tidak membawanya kemanapun ia justru mengantarnya ke tangan Bong sebagai hadiah cuma-cuma.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Jack mengejutkan.
"Ah? Aku ingat masa laluku." jawab Sungjae.
"Tentang ibumu?"
"Ya. Baiklah, apa yang hendak kau bicarakan padaku?"
Jack menuangkan wine di gelas kecil untuk Sungjae. Lalu menyodorkan gelas berisi wine pada pemuda itu. Setelah Sungjae menerima dan meneguk habis minumannya, Jack mulai membicarakan tujuan mengapa ia mengundang Sungjae kerumahnya.
"Aku berterima kasih karena kau menyelamatkan Mika waktu itu. Walaupun aku tahu dulu kau juga pernah merencanakan sesuatu padanya."
"Ya, aku minta maaf. Waktu itu mataku tertutup oleh dendam."
"Baiklah. Sekarang aku ingin meminta bantuanmu untuk melindunginya saat aku sedang pergi keluar."
__ADS_1
"Itu tak menjadi masalah. Aku akan menjaganya.
"Terima kasih. Jika ada sesuatu yang mencurigakan laporkan padaku secepatnya."
Saat Jack sedang menyelesaikan kalimatnya, pak Kang datang melaporkan bahwa semua kamera CCTV sudah terpasang dengan rapi di setiap sudut pandang yang menguntungkan. Ia juga sudah menempatkan dua orang penjaga di pos depan.
"Baiklah, terima kasih pak Kang." pak Kang memberi hormat dengan membungkuk setengah badan, lalu pergi.
...----------------...
Setelah Jack menemui Sungjae, ia menyuruh bocah itu untuk menempati bekas kamarnya dulu. Dan mulai bekerja untuknya besok. Jack kembali ke kamarnya dan melihat Mika sedang berbaring dan sedang mengusap perutnya. Ia mendekati Mika lalu juga ikut mengusap perutnya.
"Ehem, apa kau tidak tahu sayang? Walaupun sedang mengandung, seorang wanita juga ingin keluar rumah, jalan-jalan mencari hiburan. Aku bosan jika harus dirumah seperti ini setiap waktu." jawab Mika mengeluh.
"Apa kau tidak suka dengan keputusanku melarangmu pergi ke Hanyang?" Jack menatap Mika lekat-lekat.
"Bukan seperti itu, aku hanya ingin jalan-jalan di luar. Apa kau mau menemaniku jalan-jalan di luar sayang?"
"Apa kau ingin sekali melakukannya?" tanya Jack dan melihat Mika mengangguk pelan.
__ADS_1
Jack menatap Mika sesaat. Sebenarnya ia khawatir jika harus mengajak Mika keluar rumah, namun akhirnya ia melakukan itu untuk membuatnya senang. Mereka berdua mulai memasuki mobil dan pergi ke sebuah pusat hiburan yang berada di bawah tanah yaitu, SM Coex Atrium yang berlokasi di Gangnam-gu, Seoul. Ia mengajak Mika kesana untuk mengobati kebosanannya. Digandengnya tangan Mika erat-erat, menyurusi lorong kaca yang di dalamnya terdapat ribuan jenis ikan. Mereka melihat ikan-ikan besar dan kecil berwarna warni yang sangat indah. Dengan air yang berwarna biru membuat mata mereka merasakan kesegaran saat melihatnya. Mika berhenti sejenak, dan mengamati ikan nemo yang ada di depannya. Ia melihat ikan betinanya sedang bertelur dengan jumlah yang begitu banyak. Tangannya menyentuh kaca pembatas dan sedikit mendekatkan mukanya ke kaca. Jack mengamati wajah Mika yang tampak begitu bahagia.
"Apa kau menyukainya? Dia sepertimu, cantik dan sedang berjuang untuk bayinya." ucap Jack.
"Kau tahu, aku selalu membayangkan bagaimana rasa sakit saat melahirkan seorang bayi. Dan setiap aku membayangkannya, aku teringat ibuku yang kata ayah, dia meninggalkanku saat dia melahirkanku." jawab Mika menjadi murung. "Ayah selalu menyalahkan aku atas kematian ibuku. Sampai aku besar pun, ia hanya memberi semua fasilitas hidupku. Namun tidak pernah sedikitpun memberikan cintanya untukku." Mika melanjutkan kalimatnya.
Mika menggenggam erat tangan Jack. "Aku senang bisa membuat orang yang aku cintai bahagia. Walaupun aku pernah merasa takut untuk mencintai, menikah, dan mengandung. Takut jika akhir hidupku akan seperti ibu. Namun aku melupakan semua itu setelah bertemu denganmu." Mika menatap mata Jack dengan sedikit linangan air mata. "Aku berani melakukan semua ini untukmu Jack, aku sangat mencintaimu. Jika nanti nasibku benar-benar akan berakhir seperti ibuku, tolong jangan pernah benci bayi kita. Jangan pernah salahkan dia atas kematianku." Mika mulai menangis.
Jack mendekap Mika ke dadanya. "Huss,,,jangan katakan itu lagi. Dengarkan aku. Kau tidak akan tiada secepat itu dan meninggalkanku. Kita berdua akan bersama-sama membesarkan bayi kita. Bahkan kita akan memiliki beberapa bayi lagi. Kita akan tetap bersama sampai kapanpun. Kau harus yakin tentang hal itu sayang." Jack hampir menangis saat mengatakan hal itu. Ia semakin erat memeluk istri tercintanya. Sedikitpun ia tidak pernah membayangkan hal seperti itu akan terjadi kepadanya.
Cukup lama mereka berpelukan, lalu Jack mengangkat wajah Mika dan menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian, ia mengalihkan pembicaraan di antara mereka. Dengan langkah santai mereka melanjutkan menonton atraksi putri duyung yang menyelam di dasar kolam menyapa para pengunjung. Jack menyempatkan mengambil gambar dirinya dengan Mika bersama putri duyung di belakang mereka. Dan beberapa gambar di tempat lainnya. Dua jam sudah mereka merasakan kesejukan di dalam aquarium terbesar di Seoul itu. Selanjutnya Jack mengajak Mika ke pusat perbelanjaan di lantai atas tempat tersebut.
Mereka membeli beberapa baju hamil dan makanan yang Mika ingin. Saat melewati beberapa model baby box, Mika berhenti dan menyentuh salah satunya yang terbuat dari kayu yang bisa di goyangkan. Ketika Jack mengajaknya ke arah lain, Mika masih saja berdiri mematung disana.
"Apa kau menyukainya?" tanya Jack dan dijawab dengan anggukan dari Mika.
"Kita akan ambil itu."
Dengan segera Mika menoleh ke arah Jack dengan mata berbinar-binar. Jack tersenyum sambil merangkul pundak Mika. Lalu mereka mendekati pelayan di toko baby box tersebut. Dan membeli box yang Mika suka.
__ADS_1
...----------------...