THE CEO'S GENIUS DAUGHTER

THE CEO'S GENIUS DAUGHTER
TCGD-8 AILEEN MAU PELLUK-PELLUK.


__ADS_3

Kali ini tiba saatnya Aileen untuk pemotretan. Setelah mengobrol banyak dengan aunty cantik kesayangannya, ia segera saja masuk ke ruang ganti. Salah satu staff membantu dirinya mengganti kostum dan sedikit memberi foundation. Karena anak kecil tidak baik dipakaikan terlalu banyak makeup.


"Myh, Aileen mau es tlim totlat."


"Nanti ya, Sayang. Setelah difoto sama om photographer, Aileen boleh makan es krim." Sahut sang mommy. Gadis kecil itu terlihat mengangguk setuju.


"One two three, ganti!" Sesuai aba-aba si photographer, Aileen pun mengubah posenya. Layaknya model profesional, gadis kecil itu benar-benar berpose dengan anggun, namun tak meninggalkan kesan imutnya. Ia benar-benar meresapi semua ilmu yang tadi diajarkan oleh Bellie.


Bellie yang melihat pun merasa begitu takjub. Baru kali ini ia melihat anak kecil yang sudah bisa berpose seperti orang dewasa. Layaknya seorang model profesional, bahkan hanya satu jam diajarkan. Gadis kecil itu sudah bisa meresapi semuanya dengan baik.


"Gadis kecil yang menakjubkan. Anda tahu, Nyonya, Aileen adalah satu dari dua anak kecil yang bisa memeragakan pose tersebut. Karena pose-posenya itu merupakan pose kelas atas, Nyonya. Saya bahkan butuh seminggu untuk menghafal semuanya. Namun, gadis kecil ini bisa menghafal dengan baik hanya dalam waktu satu jam? I can't believe it!" Bellie bahkan tak melepas pandangannya dari gadis kecil yang tengah berpose di atas panggung studio itu.


"Benarkah?"


"Ya, bahkan salah satu teman saya adalah model papan atas. Dia bahkan butuh lima hari untuk menghafal semua pose itu. Your daughter really genius!" Imbuh Bellie.


Tiga puluh menit kemudian, pemotretan pun akhirnya selesai. Aileen bahkan tengah memakan es krim coklat kesukaannya. Tidak hanya sendiri, ia juga meminta Bellie untuk menemani dirinya. Katanya sebagai ucapan terimakasih, maka ia relakan satu es krimnya untuk Bellie.


"Hy Bellie!" Tanisa datang dengan sebuah kertas yang ia pegang. Tanisa sengaja tak mengucapkan salam, karena ia tahu Bellie bukan muslim seperti dirinya. Bellie adalah seorang protestan. Namun, sesama manusia Tanisa tetap harus memiliki rasa toleransi terhadap sesama. Walaupun Bellie bukan seorang muslim seperti yang lainnya, namun Tanisa tidak pernah sekalipun membeda-bedakan atau menganak tirikan Bellie. Ia perlakukan semua pekerjanya sama. Tidak ada yang spesial ataupun istimewa.


"Hy Nona Boss. Apa itu, Nona?"


"Ini hanya sebuah schedule untuk mengatur ulang jadwal pemotretan."


"Oh."


"Aileen, Mommy kemana?" Tanya Tanisa kepada gadis kecil yang tengah asyik menikmati es krim coklat.


"Mommy laddi ada di tamall mandi, Aunty Tan Tan." Sahutnya, namun matanya masih tetap menatap es krim coklat itu. Seakan es krim itu adalah candu baginya. Ia tak bisa melepaskan barang sedetikpun tatapan matanya dari es krim itu.


"Sebentar yah, aunty mau print ini dulu."


"Otey Aunty."


Tanisa segera berlalu, untuk mencetak schedule baru untuk Bellie dan Aileen. Agar waktunya teratur dengan baik dan agar sang photographer lebih mudah untuk mendokumentasikan.


***


Sore hari telah tiba, Tanisa, Kynara dan Aileen sudah tiba di rumah sejak beberapa menit yang lalu. Ketiganya hendak makan malam setelah membersihkan diri. Seperti biasa, makan malam kali ini akan dibumbui oleh celotehan-celotehan Aileen. Yang memang pada dasarnya adalah gadis periang.

__ADS_1


Bahkan sifat kalem sang ibu sama sekali tidak diturunkan untuk gadis kecil itu. Semua sifatnya murni menurun dari Arkian. Ambisius, kepemimpinan yang dominan dan pantang menyerah.


Sama seperti sang ayah biologis, jika gadis kecil itu sudah menginginkan sesuatu, maka ia harus dan wajib mendapatkan apa yang ia inginkan itu. Kerap kali Kynara merasa khawatir akan sifat putrinya itu. Oleh karenanya, Kynara selalu mengajarkan putrinya agar berambisi untuk hal-hal yang berfaedah dan positif tentunya.


"Aunty." Panggilnya, saat mereka bertiga sudah duduk siap di kursi masing-masing.


"Iya Sayang?" Sahut Tanisa.


"Kan Aileen tadi udah nullut, sheukallang Aileen mau hadiah." Ucapnya tiba-tiba.


"Aileen, Nak! Mommy tidak pernah mengajarkan Aileen untuk meminta imbalan seperti itu. Aileen harus melakukan segala--"


"Sheugalla shesuatu dennan ithlas dalli hati ya, Myh?"


"Aileen, mau bonetta putli Anna, Myh. Tadi Aileen lihat di yutub si telliting punnak." Ujarnya dengan menundukkan kepalanya, karena sang mommy menegurnya.


"Si keriting siapa, Nak? Siapa yang punya boneka itu?" Kali ini Tanisa yang menyahut.


"Si telliting di yutub itu loh, Aunt. Yang selling main sama mommy sama daddy na."


Deggg.


"Setelah makan, nanti aunty kasih yah." Tanisa memang sudah membelikan sebuah boneka cangik berbentuk putri Anna. Karena ia sudah melihat kerja keras gadis kecil itu di atas panggung studio pemotretan tadi.


"Benellan Aunty?" Dan Tanisa mengangguk. Tanisa sengaja hendak mencairkan suasana, karena ia melihat Kynara sudah gelisah. Tanisa begitu iba dengan nasib buruk yang kerap kali menimpa sahabatnya itu. Tanisa tahu benar, Kynara bahkan sampai dicemooh oleh beberapa teman-temannya. Karena ia hamil di luar nikah.


Namun, wanita berhati selembut sutra itu tak pernah sekalipun berkata buruk mengenai mereka. Ia hanya menerima dengan lapang dada dan senantiasa beristighfar. Walaupun Kynara kerap kali menangis membisu di dalam kamarnya, Tanisa tahu itu. Tanisa hanya mendukung apapun yang dipilih oleh Kynara. Ia seakan paham keadaan sahabatnya itu.


Selepas makan malam, Tanisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. Ia ambil sebuah box berukuran kecil berwarna merah muda.


"Aileennnn yuhuuu."


"Aileen disini, Aunty Tan Tan. Yuhuuu." Keponakan dan aunty sama-sama heboh.


"Aunty punya sesuatu untuk Aileen."


"Aileen seugella datang, Aunty." Dan gadis kecil itu pun berlari ke arah ruang kerja Tanisa. Ia menerima box itu, dan betapa berbunga hati Aileen saat tahu isi di dalam box yang diberikan oleh Tanisa.


"Mommyh!" Teriaknya.

__ADS_1


"Thank you, Aunty Tan Tan."


"Sama-sama, Sayang!" Sahut Tanisa.


"Ada apa, Nak. Jangan teriak-teriak seperi itu, Sayang. Ini sudah malam, nanti ada orang yang terganggu, Nak." Kynara yang baru saja tiba di ruang kerja Tanisa. Segera saja menegur sang putri yang sukanya heboh sendiri. Gadis kecil bar-bar.


"Myh, Aileen dapet ini." Ia menunjukkan boneka barunya pada sang ibu.


"Bilang apa sama aunty Tan Tan?"


"Syudah, tadi Aileen bilang, tanya adda tuh syama aunty Tan Tan."


"Iya dong, keponakan pintar aunty ini, tadi sudah mengucapkan terimakasih."


"Kamu masih mau kerja, Tan?"


"Engga kok, Alhamdulillah tadi sudah selesai semua. Tinggal di jahit aja, dan aku kesini cuma mau ngambil hadiah untuk Aileen. Hitung-hitung untuk kerja keras gadis ini." Sahutnya sembari tersenyum hangat ke arah Kynara.


"Aku engga tahu lagi, gimana mau ngucapin makasih. Aku cuma bisa balas doa terbaik untuk kamu." Ia rengkuh Tanisa dan ia kecup pipi Tanisa. Yang semakin lama semakin menggembung bagai bakpao.


"Engga usah dibalas, karena aku bisa sampai di titik ini berkat dari doa kamu juga! Bagiku, dia itu seperti putriku sendiri."


"Aileen mau pelluk-pelluk duddak lah!"


"Hahaha..." Mereka tertawa melihat tingkah menggemaskan Aileen.


.


.


.


.


.


TBC!


Yok ramaikan, komen like and votenya yehh!

__ADS_1


__ADS_2