
POV KYNARA
Kynara shock, ia sama sekali tak pernah menduga pertemuannya dengan Arkian akan menjadi seperti ini. Lelaki yang masih menetap di hatinya itu kembali menggoreng hatinya. Membuka luka lama yang telah ia pendam. Kynara bahkan tidak pernah menyangka bahwa Arkian adalah CEO dari WJY ENTERTAINMENT. Jika tahu begitu, ia tak mungkin mengizinkan Tanisa saat itu. Ia tidak mungkin melampirkan tanda tangannya pada kertas itu.
Kenapa, kenapa ya Allah. Ketika hamba sudah mulai melupakannya, engkau kembali mempertemukan kami? Kenapa takdir selalu saja mempermainkan perasaanku? Kenapa? Aku lelah, beri hamba kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi segala ujian-Mu, Ya Allah.
Batinnya bergejolak, seakan meminta Kynara untuk berhenti menggunjing Arkian. Hatinya meminta Kynara untuk tetap bersama Arkian, namun tidak dengan logikanya. Yang meminta Kynara agar menjauh dari pria yang telah merusak masa depannya. Membuat dirinya terpuruk dan jatuh dalam kubangan hitam yang gelap tanpa siapapun, hingga Tanisa datang mengulurkan tangan untuknya.
Kejadian naas itu benar-benar membekas sampai sekarang. Dan pengkhianatan itu juga begitu membekas dalam pikiran dan hati Kynara. Bukan hanya luka, tetapi juga merobek kepercayaan dalam diri Kynara. Kepercayaan yang telah ia berikan kepada Arkian, telah dirusak begitu saja oleh pria itu. Jelas ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Arkian tengah bercumbu mesra dengan seorang wanita. Yang kini merupakan tunangannya.
Wanita mana yang bisa terima? Jika Kynara masih bisa menerima penolakan dan penghinaan yang dilakukan oleh ibu Arkian kepadanya. Namun tidak dengan pengkhianatan, ia bukanlah Baginda Rasulullah yang selalu bersabar atas apapun. Ia tidak bisa menerima pengkhianatan itu, hatinya sakit. Begitu sakit, ketika melihat orang yang ia percaya dan begitu ia cintai, dengan sengaja menggores luka yang begitu dalam.
Kynara keluar dari kamar mandi, dengan keadaan suci. Dirinya memutuskan untuk melaksanakan sholat, menghadap sang pencipta. Mungkin ini akan membuat hati dan pikirannya menjadi lebih tenang.
Kynara gantungkan tangannya di udara, ia panjatkan doa-doa lillah untuk Tuhan.
Ya Allah, kuatkanlah hati ini sebagaimana engkau memberi kekuatan pada raga ini.... Engkau yang maha membolak-balikkan hati, Ya Allah.
Ia terus berdoa, memanjatkan keinginannya yang masih belum tercapai. Melegakan dahaga jiwanya. Dan menjernihkan kembali pikirannya. Serta mendamaikan hati yang kini telah tersakiti.
***
"Hy Untell."
"Hy Tuan Arkian!"
"Hallo cantik." Arkian tersenyum ramah pada gadis kecil itu.
Setelah dramanya tadi, Arkian kembali ke tempat pemotretan. Dengan Veronica di sampingnya.
"Boleh aku bertanya?"
__ADS_1
"Tentu, Tuan."
"Apa Gadis kecil ini putri dari perempuan tadi?"
"Ah ya, Tuan. Gadis kecil ini adalah putrinya. Cantik bukan seperti ibunya?"
"Tentu!"
Jangan ditanya, bagaimana kegugupan Tanisa sekarang. Ia harus berakting sebagus mungkin, agar pria itu tidak curiga bahwa Aileen adalah anak kandungnya.
"Baiklah, saya harus pamit dulu, Tuan. Aileen meminta untuk segera bertemu ibunya." Demi menghindari Arkian, ia terpaksa harus berbohong.
"Dada Untell, Aileen mau tetemu Mommy dulu, yah. Nanti titta beldua bicalla-bicalla."
"Okey Cantik." Entah kenapa hati Arkian menghangat saat ia mendapat pelukan singkat dari gadis kecil itu barusan. Seakan membuat hatinya menjadi adem ayem.
"Aunty, mommy teunnapa?" Tanya Aileen, karena sedari tadi dirinya tak menemukan keberadaan ibunya. Biasanya sang ibu selalu stand by di belakang layar. Namun tadi mommy nya langsung pergi begitu saja sesaat setelah memberikan es krim untuknya.
"Mommy kan mau sholat, Sayang." Sahut Tanisa. Ia menggendong Aileen, karena gadis kecil itu sudah mandi dan berganti baju tadi.
"Okey, Sayang."
***
"Assalamualaikum." Tanisa dan Aileen yang baru saja tiba di pintu villa, tidak lupa untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Aileen turun dari gendongan Tanisa. Ia berlari ke arah kamar.
"Waalaitumsallam, sudah selesai, Nak?" Sang mommy terlihat masih melipat mukenahnya.
"Iya Myh, Aileen mau pindam hape dong. Mau lihat si telliting." Ujarnya kepada sang mommy. Kynara memberikan handphone yang telah terisi penuh baterai, karena sudah dua jam yang lalu ia charger.
"Tan!" Kynara menarik tangan Tanisa. Ia biarkan putrinya tidur sendiri di kamar. Karena dirinya hendak membicarakan sesuatu yang penting terhadap Tanisa.
__ADS_1
"Iya?"
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa, Tan. Kenapa harus dia?"
"Nara, kumohon kuatlah. Jika kita mengundurkan diri sekarang, maka kita harus membayar pinalti. Karena ini masih masa kontrak Aileen."
"Berapa pinalti yang harus dibayar?"
"Satu miliar rupiah." Kynara terdiam membisu, mana sanggup dirinya membayar pinalti sebesar itu. Bahkan dirinya saja hanya berjualan online untuk membantu Tanisa. Namun sudah berhenti semenjak Aileen berumur lima tahun.
"Tan, hatiku sakit saat melihat dia bersama wanita lain. Kenapa Allah kembali mempertemukan kami? Kenapa takdir mempermainkan perasaanku?" Ia merengkuh Tanisa dengan tangisannya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk bersabar, namun kenapa harus kembali diterpa angin besar.
"Dia bukan orang yang bodoh, Tan! Lambat laun dia juga pasti akan menyadari bahwa Aileen adalah putri kandungnya." Itulah yang dikhawatirkan Kynara sekarang ini.
"Nara, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Kamu engga boleh egois. Bagaimanapun Arkian juga ayahnya, dia juga punya hak. Berpikirlah, bukan hanya Arkian, tetapi kamu juga akan menyakiti putrimu. Jika kamu terus menyembunyikan kebenaran ini." Tanisa sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bukan hal mudah menghadapi orang berpengaruh seperti Arkian.
"Bukannya aku mau mencampuri urusan pribadi kamu. Tetapi sebagai sahabat, aku hanya ingin mengingatkan sahabatku. Ingat Nara, jika suatu saat putrimu tahu kebenarannya. Maka, bukan hanya terluka tapi dia juga akan terpuruk. Siapa sangka, jika ibunya sendirilah yang telah menjauhkan dirinya dari sang ayah. Nara, kamu adalah wanita yang memiliki kesabaran seluas samudera. Bahkan jika aku ada di posisi kamu, mungkin aku sudah menuntut pertanggungjawaban Arkian. Tetapi kamu tidak! Kamu itu suci, kamu berbeda dari semua wanita yang ada. Aku yakin kamu bisa, kita akan hadapi ini bersama."
"Tapi aku tak mau Mas Kian sampai tahu, kumohon bantu aku menyembunyikan kebenaran ini, Tanisa." Bagaimanapun dirinya tetaplah seorang ibu yang takut kehilangan putrinya. Ia tak mau Arkian merebut putrinya dari dirinya.
"Heuh, baiklah." Tanisa hanya pasrah menyetujui permintaan Kynara. Ia tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap wanita itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
YOK RAMAIKAN! VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖