
Tak Terasa, satu pekan telah berlalu. Drama gaun Putri Ana pun sudah selesai. Tanisa telah memiliki beberapa gambar jepretan dari gadis kecil itu. Tanisa sudah izin kepada Kynara, bahwa dirinya akan menjadikan sang keponakan sebagai salah satu ikon model butiknya. Dan Kynara tentu mengizinkannya.
"Myhh, Aileen mau maltabbak dong. Tadi Aileen nonton tivi, tellus lihat malltabbak lasa totlat. Aileen mau yang beushal, Myh!" Aileen tiba-tiba saja keluar dari kamarnya dan menemui sang ibu yang tengah memasak sarapan bersama sang aunty tentunya.
"Nanti ya, Sayang. Setelah sarapan, Mommy belikan, okey? Sekarang harus makan dulu, biar cepet besar." Sahut sang ibunda.
Si kecil cerdas itu hanya mengangguk sebagai pertanda setuju. Karena setahu dirinya, sang ibunda tak pernah berbohong. Jika Kynara bilang nanti, maka pasti nanti akan dibelikan. Kynara memang tidak membiasakan putrinya untuk berbohong, maka dari itu ia harus memberikan contoh yang baik untuk gadis kecil itu.
"Aunty laddii masyak-masyak apa? Aileen mau lihat..." Gadis kecil itu seraya berjinjit menggapai meja makan. Karena tubuhnya yang minimalis dan ekonomis membuatnya tak bisa menggapai meja dapur. Tetapi tinggi badan Aileen sudah terbilang cukup tinggi untuk anak seusianya. Bukan menurun siapa, lihatlah Arkian, pria itu adalah pria yang berperawakan tinggi besar. Berbeda dengan Kynara yang mungil, namun tidak terlalu pendek.
"Aunty lagi masak meatball, Sayang. Aileen ingat, yang kemarin nonton di televisi?" Jawab sang aunty. Aileen terlihat berpikir sejenak, ya ia ingat kemarin dirinya melihat meatball di televisi bersama dengan Tanisa.
"Oh, yang bundal-bundal tayak mutaknya Aunty? Sama tayak mutaknya Aileen?" Celoteh gadis kecil itu.
"Eh sembarangan, mukanya aunty ini bukan bundar, Sayang. Tapi bulat!" Tanisa kini tengah menahan agar tidak tertawa, melihat ekspresi gadis kecil itu yang kebingungan.
"Bullat dan bundall itu butannya syama ya, Myh?" Si kecil cerdas itu benar-benar tak mudah untuk dikelabui. Aileen tahu, sang mommy tidak mungkin berbohong. Jadi lebih baik ia tanyakan pada wanita penyabar itu.
"Hahaha.. gadis ini sangat cerdas rupanya. Aunty hanya bercanda, Sayang! Bulat dan bundar itu sama, Aileen. Kalau muka aunty ini bukan bundar, Sayang, tapi oval. Ping pong dong aunty kalau mukanya bundar." Akhirnya Tanisa kembali menjelaskan kepada Aileen yang merasa kebingungan. Tak heran, rasa ingin tahu gadis itu benar-benar tinggi.
"Iya, Nak, betul kata Aunty." Sahut sang ibunda yang terlihat tengah menata makanan di atas meja.
Setelah memandikan sang putri, Kynara meminta putrinya untuk segera ke meja makan untuk sarapan. Begitupun dengan Tanisa yang baru saja selesai mandi, dan bersiap untuk sarapan.
"Ayo doa!"
"Myh, bial Aileen yang pimpin."
"Allahuma balliklana fimallozaktana waqina adza bannal." Gadis kecil itu memimpin doa dengan suara cadelnya. Membuat kedua wanita dewasa yang mendengar itu seakan ingin tertawa namun juga takjub. Di usia yang masih terbilang sangat kecil, Aileen sudah bisa menunjukkan sikap kepemimpinan yang baik.
Sesi makan pagi pun dimulai, suasana hening. Karena Kynara memang tak membiasakan sang putri untuk berbicara saat sedang makan.
Tanisa sama sekali tidak terkejut saat Aileen bisa membaca doa sebelum makan dengan lancar. Karena Kynara memang membiasakan putrinya untuk membaca kitab suci Al-Qur'an setiap selepas sholat Isya. Bahkan Aileen sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar di usianya yang masih menginjak lima tahun. Ia juga dilatih oleh sang ibunda untuk menghafal surah-surah pendek.
__ADS_1
***
"Myh, tapan syih Aileen syetollah? Aileen mau punya teman-teman yang bannak syekalli. Tayak di hape, Myh."
"Nak, tahun depan Aileen akan sekolah. Punya banyak teman dan harus rajin belajar. Berdoa sama Allah, semoga Aileen jadi anak yang pintar. Biar bisa bikin mommy sama aunty Tan Tan bangga." Sahut Kynara.
Aileen bahkan membayangkan, saat dirinya sudah sekolah nanti. Memiliki banyak teman yang bisa bermain dengannya. Dan juga bisa belajar bersama ibu dan bapak guru.
"Iya Myh, Aileen nanti mau belladdal syama Mommy. Talau syudah beusyall Aileen mau mendaddi seupellti aunty tantik."
"Iya, Sayang. Nanti Aileen akan menjadi seperti aunty Bellie, syaratnya harus belajar yang rajin dan--"
"Beldoa syama Awwoh!" Ujar gadis kecil itu. Kynara tersenyum hangat, ia bangga memiliki Aileen. Ia yakin sang putri pasti bisa menjadi lebih baik dari dirinya.
Setelah Tanisa berangkat bekerja, Kynara hanya akan membersihkan rumah. Kemudian ia tidak memiliki kegiatan lagi, jadilah ia hanya duduk manis di halaman belakang, dan mengobrol bersama putri kecilnya. Tak jarang ia juga menceritakan kisah-kisah Rasulullah kepada sang putri. Dengan harapan putrinya akan mencontoh akhlak baik dari sang Baginda.
"Myh, Losull itu apa sih?" Tanya gadis kecil itu. Karena selama ini sang ibu hanya menceritakan mengenai kehidupan Rasulullah. Namun, ia tidak pernah tahu apa itu arti dari Rasul.
"Nak, ayo tidur siang. Nanti sore kita bangun dan masak untuk aunty."
"Siap Myh!"
***
"Kalian buat rancangan yang lebih menarik. Tambahkan sedikit Glitter di bagian sini sini dan sini!" Tanisa tengah menjelaskan gaun yang akan kembali ia launching. Untuk si gadis kecil kesayangannya itu.
"Baik, Nona Boss! Saya akan berikan warna Blue sky dan lebihnya akan saya atur sesuai kemauan Nona Boss." Sahut asisten alias tangan kanan Tanisa.
"Bagus Del!" Delia kemudian pamit undur diri untuk segera menyelesaikan gaun kali ini. Ia sudah hafal dengan ukuran tubuh gadis mungil itu.
Tanisa yang telah menyelesaikan gambar gaunnya, segera saja pergi untuk menemui photographer.
"Tolong, nanti kamu dokumentasi kan! Setelah itu kamu edit seperti nuansa cerah. Dan kirim ke Email saya."
__ADS_1
"Siap Nona Boss!"
Tanisa tersenyum lega, akhirnya pekerjaannya akan segera selesai. Dia hanya tinggal merancang satu gaun lagi untuk salah satu customer nya.
***
"Aunty, ayo tepetan! Aileen bau bicalla-bicalla syama aunty tantik." Si kecil Aileen sudah tak sabar untuk mengobrol bersama Bellie, aunty cantiknya.
Setelah tiga hari proses jahit, akhirnya gaun baru untuk Aileen jadi. Tanisa segera saja memberikannya pada Aileen, betapa Tanisa berbunga melihat ekspresi senang dari raut wajah gadis itu. Dan Kynara juga banyak mengucapkan terimakasih untuk Tanisa, yang telah banyak berkorban untuk sang putri.
"Hy Aunty Tantik." Sesampainya di butik Tanisa, yang pertama disapa oleh Aileen adalah aunty cantik kesayangannya. Yang terlihat baru saja menyelesaikan pemotretan.
"Hy Nona kecil!"
"Aunty Tantik, Aileen mau diaddalin muttel-muttel tayak putli Anna, bolleh yah?"
"Haha, tentu Nona."
Bellie dengan telaten mengajarkan kepada Aileen beberapa macam pose yang diinginkan oleh gadis cantik itu. Kynara yang melihat dari kejauhan, hanya tersenyum lembut ke arah Bellie. Seraya mengucapkan terimakasih telah mengajarkan sang putri dengan begitu telaten.
.
.
.
.
.
TBC!
Maapkeun kesibukan othor yah, jadi ga bisa up, baru bisa sekarang🥺.
__ADS_1