THE CEO'S GENIUS DAUGHTER

THE CEO'S GENIUS DAUGHTER
TCGD-18 TERSERAH MAS.


__ADS_3

"Apa Aileen masih ada jadwal pemotretan lagi?" Tanya Kynara. Kini mereka bertiga tengah menyiapkan makan malam. Aileen, gadis kecil itu meminta ibunya agar membuatkan nugget untuknya.


"Sepertinya tidak ada, jadi besok kita sudah bisa pulang." Sahut Tanisa. Tanisa, wanita itu tengah membulat-bulatkan adonan nugget.


"Baiklah."


"Aunty, Aileen duddak mau bullat-bullat, hehe." Akhirnya Tanisa pun memberikan secuil adonan ke telapak tangan Aileen. Dengan semangat gadis kecil itu membulatkan adonan nugget itu.


"Bullat bullat bullat... Bullat bullat bullat." Bukan hanya tangannya, bahkan mulutnya pun tidak berhenti untuk bergerak.


Tiga puluh menit berlalu, acara makan malam pun telah berlangsung sejak lima menit yang lalu.


***


Pagi telah tiba, sang mentari pun telah bersinar cerah di timur sana. Hari ini adalah waktunya untuk pulang, dimana harus kembali memasukkan barang-barang ke dalam tas bawaan.


"Akhirnya selesai." Ujar Tanisa, kemudian ia menyusul Kynara yang terlebih dahulu ke depan.


"Aileen, ayo, Sayang." Tanisa memanggil Aileen yang sedari tadi setia menemani dirinya membereskan barang-barang bawaannya.


Namun, saat ia sampai di luar villa. Tanisa mengernyit heran saat tak melihat Kynara di sana. Aileen pun sama, gadis kecil itu merasa heran. Kemana sang ibu pergi? Pikirnya. Karena tadi Kynara bilang hendak menunggu di depan villa.


"Hy Nona kecil dan Nona." Tiba-tiba saja Ginal datang mengagetkan saja. Dengan senyum aneh khas seorang Ginal. Karena hari ini ia diminta langsung oleh Arkian agar menjemput Aileen dan Tanisa. Sedangkan Kynara, wanita itu diculik oleh Arkian tadi. Bahkan Arkian memaksa wanita itu, dengan sedikit ancaman.


"Kynara kemana?" Tanya Tanisa. Ginal membuka pintu mobil untuk Tanisa dan Aileen. Setelah sebelumnya membantu Tanisa untuk mengangkat barang-barang ke bagasi mobil.

__ADS_1


"Nona Kynara terlebih dahulu berangkat bersama Tuan Arkian."


Degg.


Mata Tanisa membulat penuh. Semoga saja Arkian tidak melakukan hal buruk terhadap Tanisa, batinnya.


"Mommy mana, Aunty?" Aileen pun buka suara, karena mobil sudah berjalan tanpa sang ibu di dalam mobil itu. Sebagai seorang anak, tentu ia khawatir. Takut terjadi hal buruk terhadap ibu tercintanya itu.


"Mommy sudah pulang dulu, Sayang." Sahut Tanisa. Ia masih setia mengusuk-ngusuk pusaran rambut Aileen. Karena sepertinya gadis kecil itu mengantuk.


"Teunnapa, Aunty?" Walaupun matanya sudah hampir terpejam, namun bibir mungil itu sama sekali tak berhenti bicara. Tanisa sampai heran, kenapa gadis kecil itu sama sekali tidak lelah berbicara terus.


Belum sempat Tanisa menjawab, Aileen sudah tertidur lelap. Hembusan napasnya sudah teratur.


***


Bukannya Kynara enggan berbicara, namun pacuan jantung yang begitu cepat. Membuatnya tak fokus, pikirannya melayang kemana-mana. Hatinya seakan berbunga. Entah apa yang ia rasakan sekarang ini. Duduk di mobil yang sama dengan pria ini memang menguras tenaga. Sampai-sampai keringat dingin bercucuran dari dahinya. Walaupun AC mobil sudah menyala.


Dinginnya air conditioner seakan tidak berpengaruh pada tubuh Kynara. Ia terus mengusap keringat yang menetes dengan menggunakan kain hijabnya.


"Kau panas?" Karena tidak tahan melihat Kynara yang terus-menerus mengelap keringatnya.


"A.. aku hanya gerah." Sahut Kynara dnegan gugup.


"Siapa sebenarnya Aileen? Apa kamu sudah mempunyai suami? Jelaskan Kynara, jangan buat aku mati penasaran!" Akhirnya kalimat itu terlontar juga dari mukut Arkian.

__ADS_1


Kynara masih diam membeku. Ia masih belum rela menyerahkan putrinya pada Arkian. Ia dilema sekarang, jika ia memberitahu kebenarannya, maka Arkian pasti akan merebut putrinya. Namun jika ia tidak memberitahu kebenarannya, maka putrinya akan terluka suatu saat nanti.


"Kamu tidak perlu tahu." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibir peach itu. Ia masih belum siap, jujur ini berat baginya.


Mendengar jawaban Kynara, benar-benar membuat hati Arkian perih. Ia tak lagi bersuara, hanya diam dan membisu sepanjang perjalanan. Yang penting dirinya bisa melihat wajah cantik wanita itu. Berdekatan begini saja sudah membuat hati Arkian berbunga-bunga. Tak apa walaupun tidak sehangat dulu, yang penting masih bisa melihat wajah cantik itu dari dekat.


"Apa semenjak kita putus kau mengalami kebisuan?" Arkian dengan sengaja melontarkan kalimat mengesalkan itu.


Astagfirullah!


"Terserah, Mas!" Sahutnya. Ia lelah berbicara dengan lelaki mengesalkan itu. Biarkan saja Arkian berbicara sesukanya, asalkan dia bahagia.


.


.


.


.


.


TBC!


YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH! 💖

__ADS_1


__ADS_2